Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Oktober 2018
Baca: Matius 26:69-75
"Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: 'Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud.'" Matius 26:70
Secara alamiah setiap makhluk hidup memiliki mekanisme pertahanan diri dan perlindungan diri ketika dihadapkan pada ancaman atau bahaya. Bahkan ada beberapa contoh hewan yang memiliki mekanisme pertahanan diri yang tidak biasa alias ekstrem, semisal: katak yang mematahkan kaki-kakinya sendiri dan mengeluarkan cakar; ikan yang melingkupi musuhnya dengan casing tebal dari kotoran; semut yang bisa meletuskan tubuhnya. Ini semua dilakukan untuk mempertahankan diri atau melindungi diri dari ancaman para predator. Ini adalah contoh dari sedikit cara yang tidak biasa dari binatang untuk mempertahankan dirinya ketika dalam bahaya dan ancaman.
Tak terkecuali manusia, ketika sedang berada dalam ancaman atau bahaya ada mekanisme pertahanan diri yang biasa dilakukan yaitu melawan atau melarikan diri. Ketika Kristus ditangkap dan dibawa ke Mahkamah Agama, murid-murid-Nya diliputi oleh rasa takut yang luar biasa, sehingga mereka pun lari untuk menyelamatkan diri. Perikop dari pembacaan firman kita hari ini adalah Petrus menyangkal Kristus. Ini adalah bentuk mekanisme pertahanan dan perlindungan diri yang dilakukan Petrus ketika dirinya sedang terancam, karena orang-orang telah mengenalinya sebagai salah satu murid Kristus. Bahkan Petrus berusaha melindungi diri dengan menyangkal bahwa ia bukanlah murid Kristus dan berani membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa ia tidak mengenal Kristus. "Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: 'Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.' Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya." (Matius 26:75).
Alkitab tak pernah mencatat bahwa pengikut Kristus akan terbebas dari masalah dan beroleh kenyamanan hidup. Sebaliknya dengan tegas dinyatakan bahwa "...kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat." (Matius 10:22). Siapkah Saudara menghadapinya?
"...barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan
nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan
memperolehnya." Matius 16:25
Thursday, October 11, 2018
Wednesday, October 10, 2018
BANYAKLAH MENDENGAR: Jangan Banyak Bicara
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Oktober 2018
Baca: Mazmur 85:1-14
"Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya," Mazmur 85:9
Salah satu faktor yang seringkali menjadi sumber masalah dalam kehidupan ini adalah kebanyakan orang lebih suka berbicara daripada mendengar. Orang suka berkomentar, suka sekali protes, mengkritik, menghakimi, suka membicarakan keburukan sesamanya (bergosip), suka saling beradu argumen atau berdebat, dan sebagainya. Betapa banyak rumah tangga hancur, hubungan suami/isteri tidak lagi harmonis oleh karena mereka sering cekcok, tak bisa menahan bicaranya dan tak ada yang mau mengalah. Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat atau bernegara, masalah seringkali terjadi karena pemimpinnya banyak bicara tapi sedikit kerja, sering bertikai dan berselisih paham, dan suka sekali memaksakan kehendak.
Tuhan menciptakan manusia dengan satu mulut dan dua telinga, dengan tujuan supaya manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Namun dalam praktek hidup sehari-hari manusia lebih banyak berbicara, tapi sedikit mau mendengar. Ada tertulis: "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi." (Amsal 10:19). 'Mendengar' begitu penting dalam kehidupan ini, karena ketika orang mau mendengar maka ia akan mendapatkan banyak hal yang positif. Contoh: seorang siswa yang mau mendengarkan dengan baik materi yang diajarkan gurunya, pengetahuannya semakin bertambah dan ia pasti akan menjadi pandai. Begitu pula orang yang mau mendengarkan nasihat atau masukan positif dari orang lain pastilah akan mengalami kemajuan demi kemajuan dalam hidupnya.
Adalah orang yang senantiasa mengarahkan telinganya untuk mendengar firman Tuhan, yang terlebih akan semakin dituntun kepada jalan kebenaran-Nya, sebab firman-Nya "...bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16).
"Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan, supaya engkau berpegang pada kebijaksanaan dan bibirmu memelihara pengetahuan." Amsal 5:1-2
Baca: Mazmur 85:1-14
"Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya," Mazmur 85:9
Salah satu faktor yang seringkali menjadi sumber masalah dalam kehidupan ini adalah kebanyakan orang lebih suka berbicara daripada mendengar. Orang suka berkomentar, suka sekali protes, mengkritik, menghakimi, suka membicarakan keburukan sesamanya (bergosip), suka saling beradu argumen atau berdebat, dan sebagainya. Betapa banyak rumah tangga hancur, hubungan suami/isteri tidak lagi harmonis oleh karena mereka sering cekcok, tak bisa menahan bicaranya dan tak ada yang mau mengalah. Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat atau bernegara, masalah seringkali terjadi karena pemimpinnya banyak bicara tapi sedikit kerja, sering bertikai dan berselisih paham, dan suka sekali memaksakan kehendak.
Tuhan menciptakan manusia dengan satu mulut dan dua telinga, dengan tujuan supaya manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Namun dalam praktek hidup sehari-hari manusia lebih banyak berbicara, tapi sedikit mau mendengar. Ada tertulis: "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi." (Amsal 10:19). 'Mendengar' begitu penting dalam kehidupan ini, karena ketika orang mau mendengar maka ia akan mendapatkan banyak hal yang positif. Contoh: seorang siswa yang mau mendengarkan dengan baik materi yang diajarkan gurunya, pengetahuannya semakin bertambah dan ia pasti akan menjadi pandai. Begitu pula orang yang mau mendengarkan nasihat atau masukan positif dari orang lain pastilah akan mengalami kemajuan demi kemajuan dalam hidupnya.
Adalah orang yang senantiasa mengarahkan telinganya untuk mendengar firman Tuhan, yang terlebih akan semakin dituntun kepada jalan kebenaran-Nya, sebab firman-Nya "...bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16).
"Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan, supaya engkau berpegang pada kebijaksanaan dan bibirmu memelihara pengetahuan." Amsal 5:1-2
Tuesday, October 9, 2018
MENJADI UMAT TUHAN YANG PRODUKTIF (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Oktober 2018
Baca: Yehezkiel 17:1-24
"...Aku, TUHAN, merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu kering dan membuat pohon yang layu kering bertaruk kembali. Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya." Yehezkiel 17:24
Orang percaya dikatakan 'produktif' apabila pertumbuhan iman dan buah-buah yang dihasilkannya tampak nyata, "Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya." (Lukas 6:44a). Rasul Paulus menulis: "'Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya' dan 'Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.' Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia." (2 Timotius 2:19-21).
Kunci lain untuk dapat berbuah dan dipandang layak di mata Tuhan adalah jika kita menyucikan diri dari segala kejahatan. Sama seperti ladang yang harus terlebih dahulu diolah: dibajak, dicangkul dan digemburkan tanahnya, kita ini adalah ladang Tuhan (1 Korintus 3:9). Sebagai ladang kita perlu diawasi, dijaga dan dipagari agar terlindung dari serangan musuh. Para petani atau pekerja kebun tahu musuh-musuh yang dapat merusak dan menghancurkan tanaman di ladang: serangga, hama, tikus, belalang atau binatang buas. Dalam kehidupan kekristenan pun ada banyak musuh yang berusaha menghambat dan menghalangi pertumbuhan rohani kita. Musuh utama adalah Iblis, selain itu bisa juga kedagingan dengan segala keinginannya, ajaran-ajaran palsu dan sebagainya.
Kebutuhan penting dari ladang dan tanaman untuk bertumbuh dan berbuah adalah pupuk untuk menyuburkan tanah dan juga merangsang pertumbuhan agar cepat berbuah. 'Pupuk' ini berbicara tentang: doa (persekutuan pribadi dengan Tuhan dan Roh Kudus (Efesus 6:18b), ibadah (1 Timotius 4:7b-8) dan firman Tuhan (Mazmur 1:2, Yosua 1:8). Dibutuhkan ketekunan dan kedisiplinan yang tinggi!
Tanpa mau membayar harga kita tidak akan menjadi umat Tuhan yang produktif (bertumbuh dan berbuah).
Baca: Yehezkiel 17:1-24
"...Aku, TUHAN, merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu kering dan membuat pohon yang layu kering bertaruk kembali. Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya." Yehezkiel 17:24
Orang percaya dikatakan 'produktif' apabila pertumbuhan iman dan buah-buah yang dihasilkannya tampak nyata, "Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya." (Lukas 6:44a). Rasul Paulus menulis: "'Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya' dan 'Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.' Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia." (2 Timotius 2:19-21).
Kunci lain untuk dapat berbuah dan dipandang layak di mata Tuhan adalah jika kita menyucikan diri dari segala kejahatan. Sama seperti ladang yang harus terlebih dahulu diolah: dibajak, dicangkul dan digemburkan tanahnya, kita ini adalah ladang Tuhan (1 Korintus 3:9). Sebagai ladang kita perlu diawasi, dijaga dan dipagari agar terlindung dari serangan musuh. Para petani atau pekerja kebun tahu musuh-musuh yang dapat merusak dan menghancurkan tanaman di ladang: serangga, hama, tikus, belalang atau binatang buas. Dalam kehidupan kekristenan pun ada banyak musuh yang berusaha menghambat dan menghalangi pertumbuhan rohani kita. Musuh utama adalah Iblis, selain itu bisa juga kedagingan dengan segala keinginannya, ajaran-ajaran palsu dan sebagainya.
Kebutuhan penting dari ladang dan tanaman untuk bertumbuh dan berbuah adalah pupuk untuk menyuburkan tanah dan juga merangsang pertumbuhan agar cepat berbuah. 'Pupuk' ini berbicara tentang: doa (persekutuan pribadi dengan Tuhan dan Roh Kudus (Efesus 6:18b), ibadah (1 Timotius 4:7b-8) dan firman Tuhan (Mazmur 1:2, Yosua 1:8). Dibutuhkan ketekunan dan kedisiplinan yang tinggi!
Tanpa mau membayar harga kita tidak akan menjadi umat Tuhan yang produktif (bertumbuh dan berbuah).
Monday, October 8, 2018
MENJADI UMAT TUHAN YANG PRODUKTIF (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Oktober 2018
Baca: Yehezkiel 17:1-24
"Namun ia ditanam di ladang yang baik, dekat air yang berlimpah-limpah, supaya ia bercabang-cabang dan berbuah dan supaya menjadi pohon anggur yang bagus." Yehezkiel 17:8
Melalui nabi Yehezkiel ini Tuhan menyatakan kerinduan dan kehendak-Nya atas kehidupan bangsa Israel yang adalah umat pilihan-Nya. Tuhan mau mereka menjadi umat yang produktif, yang mengalami pertumbuhan dan berbuah, seperti pohon anggur. Apa yang diharapkan dari pohon anggur? Tak lain dan tak bukan adalah buahnya. Pohon anggur hanya akan bermanfaat apabila dapat berbuah. "Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu." (Yohanes 15:16).
Bertumbuh dan berbuah adalah cara menyenangkan hati Tuhan dan mempermuliakan nama-Nya. "Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (Yohanes 15:8). Kunci untuk dapat bertumbuh dan berbuah adalah melekat kepada Tuhan, "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku." (Yohanes 15:4), dan menjadikan hati kita sebagai tanah yang baik. "Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan." (Lukas 8:15) Tanah hati yang baiklah yang dapat menghasilkan buah yang lebat: "...ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." (Matius 13:8).
Pemazmur menggambarkan kehidupan Kristen yang produktif itu "...seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:3). Sayang, sampai saat ini masih banyak orang percaya yang kehidupan rohaninya tidak bertumbuh dan berbuah, padahal sudah menjadi pengikut Kristus bertahun-tahun lamanya dan bahkan sudah terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan rohani di gereja. Kehidupan Kristen yang demikian bisa disebut kekristenan yang kerdil dan mandul. Ini mengecewakan Tuhan!
Baca: Yehezkiel 17:1-24
"Namun ia ditanam di ladang yang baik, dekat air yang berlimpah-limpah, supaya ia bercabang-cabang dan berbuah dan supaya menjadi pohon anggur yang bagus." Yehezkiel 17:8
Melalui nabi Yehezkiel ini Tuhan menyatakan kerinduan dan kehendak-Nya atas kehidupan bangsa Israel yang adalah umat pilihan-Nya. Tuhan mau mereka menjadi umat yang produktif, yang mengalami pertumbuhan dan berbuah, seperti pohon anggur. Apa yang diharapkan dari pohon anggur? Tak lain dan tak bukan adalah buahnya. Pohon anggur hanya akan bermanfaat apabila dapat berbuah. "Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu." (Yohanes 15:16).
Bertumbuh dan berbuah adalah cara menyenangkan hati Tuhan dan mempermuliakan nama-Nya. "Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (Yohanes 15:8). Kunci untuk dapat bertumbuh dan berbuah adalah melekat kepada Tuhan, "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku." (Yohanes 15:4), dan menjadikan hati kita sebagai tanah yang baik. "Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan." (Lukas 8:15) Tanah hati yang baiklah yang dapat menghasilkan buah yang lebat: "...ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." (Matius 13:8).
Pemazmur menggambarkan kehidupan Kristen yang produktif itu "...seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:3). Sayang, sampai saat ini masih banyak orang percaya yang kehidupan rohaninya tidak bertumbuh dan berbuah, padahal sudah menjadi pengikut Kristus bertahun-tahun lamanya dan bahkan sudah terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan rohani di gereja. Kehidupan Kristen yang demikian bisa disebut kekristenan yang kerdil dan mandul. Ini mengecewakan Tuhan!
Sunday, October 7, 2018
TAK ADA YANG PATUT DISOMBONGKAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Oktober 2018
Baca: Amsal 16:18-24
"Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." Amsal 16:18
Pada dasarnya semua manusia memiliki kecenderungan menjadi sombong atau berlaku congkak. Sombong dan congkak adalah dosa yang kurang disadari, tapi seringkali dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Berhati-hatilah! Sebab kesombongan adalah dosa yang sangat serius di hadapan Tuhan, Ia sangat menentang orang sombong. Orang yang sombong, selain tidak disukai sesama, juga akan berurusan dengan Tuhan. Demikianlah firman Tuhan: "Kepada dunia akan Kubalaskan kejahatannya, dan kepada orang-orang fasik kesalahan mereka; kesombongan orang-orang pemberani akan Kuhentikan, dan kecongkakan orang-orang yang gagah akan Kupatahkan." (Yesaya 13:11).
Jika kita menyadari siapa kita ini sesungguhnya, maka tak sepatutnya kita berlaku sombong atau congkak. Pemazmur menyadari bahwa ia adalah debu, "Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi." (Mazmur 103:15-16). Nabi Yesaya juga menegaskan bahwa manusia itu tak lebih dari pada hembusan nafas (Yesaya 2:22), dan "Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat." (Mazmur 144:4). Ini menunjukkan bahwa kekuatan dan kemampuan manusia itu sangatlah terbatas! Jika sadar bahwa kekuatan kita ini terbatas tak sepatutnya berlaku sombong, justru seharusnya mendorong kita untuk semakin mendekat kepada Tuhan dan hidup mengandalkan-Nya, sebab di luar Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa dan bukanlah siapa-siapa!
Manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang di dalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh manusia lainnya; manusia saling membutuhkan satu sama lainnya; manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain. Sehebat, sesukses, sepintar dan sekuat apa pun seseorang tetaplah membutuhkan kehadiran orang lain; dan melalui orang lain pula karakter kita dibentuk: "Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya." (Amsal 27:17). karena itu jangan pernah menganggap rendah orang lain.
"TUHAN menjaga orang-orang yang setiawan, tetapi orang-orang yang berbuat congkak diganjar-Nya dengan tidak tanggung-tanggung." Mazmur 31:24b
Baca: Amsal 16:18-24
"Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." Amsal 16:18
Pada dasarnya semua manusia memiliki kecenderungan menjadi sombong atau berlaku congkak. Sombong dan congkak adalah dosa yang kurang disadari, tapi seringkali dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Berhati-hatilah! Sebab kesombongan adalah dosa yang sangat serius di hadapan Tuhan, Ia sangat menentang orang sombong. Orang yang sombong, selain tidak disukai sesama, juga akan berurusan dengan Tuhan. Demikianlah firman Tuhan: "Kepada dunia akan Kubalaskan kejahatannya, dan kepada orang-orang fasik kesalahan mereka; kesombongan orang-orang pemberani akan Kuhentikan, dan kecongkakan orang-orang yang gagah akan Kupatahkan." (Yesaya 13:11).
Jika kita menyadari siapa kita ini sesungguhnya, maka tak sepatutnya kita berlaku sombong atau congkak. Pemazmur menyadari bahwa ia adalah debu, "Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi." (Mazmur 103:15-16). Nabi Yesaya juga menegaskan bahwa manusia itu tak lebih dari pada hembusan nafas (Yesaya 2:22), dan "Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat." (Mazmur 144:4). Ini menunjukkan bahwa kekuatan dan kemampuan manusia itu sangatlah terbatas! Jika sadar bahwa kekuatan kita ini terbatas tak sepatutnya berlaku sombong, justru seharusnya mendorong kita untuk semakin mendekat kepada Tuhan dan hidup mengandalkan-Nya, sebab di luar Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa dan bukanlah siapa-siapa!
Manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang di dalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh manusia lainnya; manusia saling membutuhkan satu sama lainnya; manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain. Sehebat, sesukses, sepintar dan sekuat apa pun seseorang tetaplah membutuhkan kehadiran orang lain; dan melalui orang lain pula karakter kita dibentuk: "Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya." (Amsal 27:17). karena itu jangan pernah menganggap rendah orang lain.
"TUHAN menjaga orang-orang yang setiawan, tetapi orang-orang yang berbuat congkak diganjar-Nya dengan tidak tanggung-tanggung." Mazmur 31:24b
Saturday, October 6, 2018
AGAR TERLUPUT DARI KEMISKINAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Oktober 2018
Baca: Amsal 10:1-16
"TUHAN tidak membiarkan orang benar menderita kelaparan, tetapi keinginan orang fasik ditolak-Nya." Amsal 10:3
Tak seorang pun mau hidup kekurangan atau miskin secara materi. Namun perlu diketahui, sesungguhnya kemiskinan itu bukanlah keadaan, nasib atau takdir, melainkan berbicara tentang mentalitas hidup seseorang. Miskin atau kaya bukan semata-mata bisa diukur dengan materi karena pada dasarnya manusia selalu merasa kurang, sekalipun ia sudah mempunyai banyak uang dan kekayaan. "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya." (Pengkhotbah 5:9). Ada orang yang hidupnya tampak sederhana tapi ia bisa hidup bahagia dan merasa diri cukup. Firman Tuhan mengajarkan: "...cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu." (Ibrani 13:5), dan percayalah bahwa Tuhan "...sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5).
Salomo memberikan kiat-kiat penting agar kita dapat terluput dari kemiskinan: yaitu janganlah menempuh jalan yang tidak halal untuk mendapatkan uang atau kekayaan, sebab "Harta benda yang diperoleh dengan kefasikan tidak berguna, tetapi kebenaran menyelamatkan orang dari maut." (Amsal 10:2). Di zaman sekarang ini orang berani menempuh cara instan dan menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang atau kekayaan: korupsi, mencuri, merampok, prostitusi dan sebagainya. Mungkin untuk sementara waktu mereka tampak berkecukupan secara materi, tapi mereka sama sekali tak memikirkan akibatnya, karena apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai. Terbukti, tidak sedikit koruptor yang sebelumnya hidup serba wah kini hartanya ludes, disita oleh negara dan hidupnya pun harus berakhir di balik jeruji besi. "Milik yang diperoleh dengan cepat pada mulanya, akhirnya tidak diberkati." (Amsal 20:21).
Selain itu janganlah kita menjadi pemalas, sebab "Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya." (Amsal 10:4), dan "Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah." (Pengkhotbah 10:18).
Berlakulah hidup benar di hadapan Tuhan, sebab "Upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan," (Amsal 10:16a).
Baca: Amsal 10:1-16
"TUHAN tidak membiarkan orang benar menderita kelaparan, tetapi keinginan orang fasik ditolak-Nya." Amsal 10:3
Tak seorang pun mau hidup kekurangan atau miskin secara materi. Namun perlu diketahui, sesungguhnya kemiskinan itu bukanlah keadaan, nasib atau takdir, melainkan berbicara tentang mentalitas hidup seseorang. Miskin atau kaya bukan semata-mata bisa diukur dengan materi karena pada dasarnya manusia selalu merasa kurang, sekalipun ia sudah mempunyai banyak uang dan kekayaan. "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya." (Pengkhotbah 5:9). Ada orang yang hidupnya tampak sederhana tapi ia bisa hidup bahagia dan merasa diri cukup. Firman Tuhan mengajarkan: "...cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu." (Ibrani 13:5), dan percayalah bahwa Tuhan "...sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5).
Salomo memberikan kiat-kiat penting agar kita dapat terluput dari kemiskinan: yaitu janganlah menempuh jalan yang tidak halal untuk mendapatkan uang atau kekayaan, sebab "Harta benda yang diperoleh dengan kefasikan tidak berguna, tetapi kebenaran menyelamatkan orang dari maut." (Amsal 10:2). Di zaman sekarang ini orang berani menempuh cara instan dan menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang atau kekayaan: korupsi, mencuri, merampok, prostitusi dan sebagainya. Mungkin untuk sementara waktu mereka tampak berkecukupan secara materi, tapi mereka sama sekali tak memikirkan akibatnya, karena apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai. Terbukti, tidak sedikit koruptor yang sebelumnya hidup serba wah kini hartanya ludes, disita oleh negara dan hidupnya pun harus berakhir di balik jeruji besi. "Milik yang diperoleh dengan cepat pada mulanya, akhirnya tidak diberkati." (Amsal 20:21).
Selain itu janganlah kita menjadi pemalas, sebab "Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya." (Amsal 10:4), dan "Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah." (Pengkhotbah 10:18).
Berlakulah hidup benar di hadapan Tuhan, sebab "Upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan," (Amsal 10:16a).
Friday, October 5, 2018
IBLIS MEMBUAT KITA LALAI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Oktober 2018
Baca: Yeremia 48:1-10
"Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan TUHAN dengan lalai, dan terkutuklah orang yang menghambat pedang-Nya dari penumpahan darah!" Yeremia 48:10
Alkitab menyatakan secara tegas bahwa Iblis adalah pencuri. "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan;" (Yohanes 10:10). Salah satu taktik yang Iblis lakukan adalah menciri setiap kesempatan yang dimiliki orang percaya dengan menanamkan rasa lalai. Arti kata 'lalai' adalah kurang hati-hati; tidak mengindahkan (kewajiban, pekerjaan, dan sebagainya); lengah.
Bukankah di zaman sekarang ini ada banyak orang percaya yang dengan sengaja melalaikan perkara-perkara rohani dan bahkan melalaikan tugas yang telah dipercayakan kepadanya untuk melayani pekerjaan Tuhan, dengan berbagai alasan dan dalih: tidak punya waktu alias sibuk. Iblis tahu benar bahwa hari-hari manusia itu terdiri atas kesempatan-kesempatan, karena itu ia berusaha untuk mengalihkan fokus hidup manusia supaya tidak lagi memperhatikan kesempatan yang Tuhan berikan. Rasul Paulus menasihati: "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi." (Kolose 3:2). Ingatlah selalu bahwa keberadaan kita di dunia ini dibatasi oleh waktu, maka dari itu jangan pernah lalai untuk mengoptimalkan setiap kesempatan, karunia dan potensi yang Tuhan beri. "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi." (Pengkhotbah 9:10).
Andai saja orang-orang Israel lalai untuk bangun pagi-pagi, mereka tidak akan mendapatkan manna, roti yang turun dari sorga, karena siang sedikit saja manna itu akan mencair dan tidak bisa dimakan (Keluaran 16:13-21). Itu artinya kelalaian dapat menghalangi seseorang untuk mendapatkan berkat dari Tuhan! Jangan pernah anggap sepele hal ini, sebab kelalaian dapat membuat kita kehilangan kesempatan dan kepercayaan dari Tuhan, "Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya." (Amsal 1:32).
"Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua." 1 Timotius 4:14
Baca: Yeremia 48:1-10
"Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan TUHAN dengan lalai, dan terkutuklah orang yang menghambat pedang-Nya dari penumpahan darah!" Yeremia 48:10
Alkitab menyatakan secara tegas bahwa Iblis adalah pencuri. "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan;" (Yohanes 10:10). Salah satu taktik yang Iblis lakukan adalah menciri setiap kesempatan yang dimiliki orang percaya dengan menanamkan rasa lalai. Arti kata 'lalai' adalah kurang hati-hati; tidak mengindahkan (kewajiban, pekerjaan, dan sebagainya); lengah.
Bukankah di zaman sekarang ini ada banyak orang percaya yang dengan sengaja melalaikan perkara-perkara rohani dan bahkan melalaikan tugas yang telah dipercayakan kepadanya untuk melayani pekerjaan Tuhan, dengan berbagai alasan dan dalih: tidak punya waktu alias sibuk. Iblis tahu benar bahwa hari-hari manusia itu terdiri atas kesempatan-kesempatan, karena itu ia berusaha untuk mengalihkan fokus hidup manusia supaya tidak lagi memperhatikan kesempatan yang Tuhan berikan. Rasul Paulus menasihati: "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi." (Kolose 3:2). Ingatlah selalu bahwa keberadaan kita di dunia ini dibatasi oleh waktu, maka dari itu jangan pernah lalai untuk mengoptimalkan setiap kesempatan, karunia dan potensi yang Tuhan beri. "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi." (Pengkhotbah 9:10).
Andai saja orang-orang Israel lalai untuk bangun pagi-pagi, mereka tidak akan mendapatkan manna, roti yang turun dari sorga, karena siang sedikit saja manna itu akan mencair dan tidak bisa dimakan (Keluaran 16:13-21). Itu artinya kelalaian dapat menghalangi seseorang untuk mendapatkan berkat dari Tuhan! Jangan pernah anggap sepele hal ini, sebab kelalaian dapat membuat kita kehilangan kesempatan dan kepercayaan dari Tuhan, "Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya." (Amsal 1:32).
"Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua." 1 Timotius 4:14
Thursday, October 4, 2018
PENGALAMAN HIDUP BERSAMA TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Oktober 2018
Baca: Ayub 19:1-29
"Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu." Ayub 19:25
Kekristenan bukanlah sekedar liturgi keagamaan, melainkan suatu hubungan karib dengan Tuhan, pengalaman hidup pribadi seseorang bersama Tuhan hari lepas hari. Hal inilah yang Tuhan tegaskan kepada Nikodemus: "...sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." (Yohanes 3:3). Kelahiran kembali (lahir baru) adalah pengalaman bersama Kristus melalui jamahan Roh Kudus. "pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus," (Titus 3:5). Tanpa kelahiran baru, perkara rohani apa pun yang kita kerjakan takkan lebih dari sekedar kegiatan agamawi atau rutinitas.
Pernyataan Ayub: "Tetapi aku tahu: Penebusku hidup," (ayat nas) adalah bukti bahwa ia memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan. Tak mungkin seseorang dapat berkata Penebusku hidup jika ia sendiri tak mengenal sang Penebus itu dengan benar. Kalimat 'Penebusku hidup' adalah ungkapan pengalam seseorang yang telah berjumpa dengan Sang Penebus, merasakan, mengalami dan menikmati kuasa-Nya; dan seseorang yang telah mengenal Sang Penebus secara benar dan mengalami jamahan kuasa-Nya pasti mengalami perubahan dalam hidup: beribadah kepada Tuhan dengan roh yang menyala-nyala (Roma 12:11), ibadah kepada Tuhan menjadi suatu kesukaan. "Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." (Mazmur 122:1).
Seseorang yang telah mengenal Sang Penebus pasti mengalami titik balik dalam hidupnya, sehingga dapat berkata, "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Galatia 2:20). Orang percaya seharusnya berkata, "...aku tahu: Penebusku hidup," karena ia telah ditebus oleh Kristus, bukan dengan barang yang fana, melainkan dengan darah-Nya yang teramat mahal (1 Petrus 1:18-19).
Sebagai umat tebusan Tuhan wajib bagi kita untuk memberitakan kabar keselamatan kepada dunia!
Baca: Ayub 19:1-29
"Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu." Ayub 19:25
Kekristenan bukanlah sekedar liturgi keagamaan, melainkan suatu hubungan karib dengan Tuhan, pengalaman hidup pribadi seseorang bersama Tuhan hari lepas hari. Hal inilah yang Tuhan tegaskan kepada Nikodemus: "...sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." (Yohanes 3:3). Kelahiran kembali (lahir baru) adalah pengalaman bersama Kristus melalui jamahan Roh Kudus. "pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus," (Titus 3:5). Tanpa kelahiran baru, perkara rohani apa pun yang kita kerjakan takkan lebih dari sekedar kegiatan agamawi atau rutinitas.
Pernyataan Ayub: "Tetapi aku tahu: Penebusku hidup," (ayat nas) adalah bukti bahwa ia memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan. Tak mungkin seseorang dapat berkata Penebusku hidup jika ia sendiri tak mengenal sang Penebus itu dengan benar. Kalimat 'Penebusku hidup' adalah ungkapan pengalam seseorang yang telah berjumpa dengan Sang Penebus, merasakan, mengalami dan menikmati kuasa-Nya; dan seseorang yang telah mengenal Sang Penebus secara benar dan mengalami jamahan kuasa-Nya pasti mengalami perubahan dalam hidup: beribadah kepada Tuhan dengan roh yang menyala-nyala (Roma 12:11), ibadah kepada Tuhan menjadi suatu kesukaan. "Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." (Mazmur 122:1).
Seseorang yang telah mengenal Sang Penebus pasti mengalami titik balik dalam hidupnya, sehingga dapat berkata, "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Galatia 2:20). Orang percaya seharusnya berkata, "...aku tahu: Penebusku hidup," karena ia telah ditebus oleh Kristus, bukan dengan barang yang fana, melainkan dengan darah-Nya yang teramat mahal (1 Petrus 1:18-19).
Sebagai umat tebusan Tuhan wajib bagi kita untuk memberitakan kabar keselamatan kepada dunia!
Wednesday, October 3, 2018
DUNIA INI BUKANLAH FIRDAUS
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Oktober 2018
Baca: Mazmur 83:1-19
"Mereka mengadakan permufakatan licik melawan umat-Mu, dan mereka berunding untuk melawan orang-orang yang Kaulindungi." Mazmur 83:4
Semua orang pasti setuju dengan pernyataan bahwa dunia yang kita pijak ini bukanlah firdaus. Artinya selama kita masih hidup di dunia kita takkan luput dari yang namanya masalah, kesulitan, tantangan, ujian, dan situasi-situasi sulit lainnya. Tak menutup kemungkinan juga kita akan menghadapi orang-orang yang mungkin saja bisa melukai, menyakiti, mengecewakan, atau bahkan berlaku jahat terhadap kita. Jadi kita tak perlu terkejut lagi jika hal-hal yang tak mengenakkan harus kita alami. Tak perlu kita lari atau menghindari masalah, itu bukan solusi. Mau atau tidak mau, siap atau tidak siap, suka atau tidak suka, kita harus menghadapinya!
Bagaimana sikap orang percaya menghadapi dunia yang jahat ini? Hal pertama yang harus kita lakukan adalah tetaplah menjaga hati. Ada tertulis: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan." (Amsal 4:23, 26-27). Mengapa hati harus selalu dijaga? "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang." (Matius 15:19-20a). Dalam segala situasi dan keadaan milikilah sikap hati yang benar. Jika ada orang yang merancangkan hal-hal yang jahat dalam hidup kita jangan sampai hati kita turut dicemari oleh rasa dendam, sakit hati, benci, sumpah serapah dan juga niat-niat yang jahat pula. Tuhan menghendaki kita untuk memiliki kehidupan yang berbeda dari dunia (Roma 12:2), karena itu jangan sekali-kali terbawa arus dunia ini (Ibrani 2:1).
Firman Tuhan mengajarkan kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan kita harus mampu mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Jika kita membalas yang jahat dengan yang jahat itu artinya perilaku kita sama seperti orang dunia. Dalam perkara apa pun kita diajarkan untuk menyerahkannya kepada Tuhan (Roma 12:17-21), pada saat yang tepat kita pasti akan melihat pembelaan Tuhan.
Di tengah dunia yang penuh dengan kejahatan ini orang percaya dituntut untuk mampu menjadi terang dan garam bagi dunia!
Baca: Mazmur 83:1-19
"Mereka mengadakan permufakatan licik melawan umat-Mu, dan mereka berunding untuk melawan orang-orang yang Kaulindungi." Mazmur 83:4
Semua orang pasti setuju dengan pernyataan bahwa dunia yang kita pijak ini bukanlah firdaus. Artinya selama kita masih hidup di dunia kita takkan luput dari yang namanya masalah, kesulitan, tantangan, ujian, dan situasi-situasi sulit lainnya. Tak menutup kemungkinan juga kita akan menghadapi orang-orang yang mungkin saja bisa melukai, menyakiti, mengecewakan, atau bahkan berlaku jahat terhadap kita. Jadi kita tak perlu terkejut lagi jika hal-hal yang tak mengenakkan harus kita alami. Tak perlu kita lari atau menghindari masalah, itu bukan solusi. Mau atau tidak mau, siap atau tidak siap, suka atau tidak suka, kita harus menghadapinya!
Bagaimana sikap orang percaya menghadapi dunia yang jahat ini? Hal pertama yang harus kita lakukan adalah tetaplah menjaga hati. Ada tertulis: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan." (Amsal 4:23, 26-27). Mengapa hati harus selalu dijaga? "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang." (Matius 15:19-20a). Dalam segala situasi dan keadaan milikilah sikap hati yang benar. Jika ada orang yang merancangkan hal-hal yang jahat dalam hidup kita jangan sampai hati kita turut dicemari oleh rasa dendam, sakit hati, benci, sumpah serapah dan juga niat-niat yang jahat pula. Tuhan menghendaki kita untuk memiliki kehidupan yang berbeda dari dunia (Roma 12:2), karena itu jangan sekali-kali terbawa arus dunia ini (Ibrani 2:1).
Firman Tuhan mengajarkan kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan kita harus mampu mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Jika kita membalas yang jahat dengan yang jahat itu artinya perilaku kita sama seperti orang dunia. Dalam perkara apa pun kita diajarkan untuk menyerahkannya kepada Tuhan (Roma 12:17-21), pada saat yang tepat kita pasti akan melihat pembelaan Tuhan.
Di tengah dunia yang penuh dengan kejahatan ini orang percaya dituntut untuk mampu menjadi terang dan garam bagi dunia!
Tuesday, October 2, 2018
BERPEGANGLAH TEGUH PADA JANJI TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Oktober 2018
Baca: Mazmur 119:137-144
"Janji-Mu sangat teruji, dan hamba-Mu mencintainya." Mazmur 119:140
Hati wanita mana yang tak berbunga-bunga ketika mendengar kekasihnya berjanji akan menikahinya di kemudian hari? Terbuai janji manis, tak sedikit wanita yang akhirnya rela mengorbankan kehormatannya, karena pikirnya: "Toh nanti dia akan menikahiku dan menjadi suamiku!" Namun seiring berjalannya waktu, sang kekasih mulai kelihatan 'belangnya' dan berubah sikap, janji yang pernah diucapkannya tak pernah ditepatinya, bahkan ia memutuskan hubungan dan meninggalkan si wanita itu untuk kemudian berpaling ke lain hati. Hati wanita itu pun menjadi kecewa dan hancur berkeping-keping!
Janji adalah sesuatu yang bisa membangkitkan semangat, tapi janji juga dapat mengecewakan. Ada banyak orang bersemangat karena janji yang diterimanya, tapi ketika janji tersebut diingkari timbullah rasa kecewa yang mendalam, frustasi dan putus asa. Adalah sia-sia berharap pada janji manis manusia, kita pasti kecewa. Namun ada satu Pribadi yang tak pernah mengecewakan yaitu Tuhan, Dia tak pernah ingkar dengan janji-Nya. "Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah." (Mazmur 12:7). Janji Tuhan adalah ya dan amin. Tidak ada alasan bagi kita untuk merasa kuatir, marah, kecewa dan jengkel sekalipun kita harus melewati masa-masa yang sukar, sebab Tuhan sanggup mengubahnya untuk kebaikan kita. Daud memiliki pengalaman di sepanjang hidupnya bahwa tak sekalipun Tuhan ingkar terhadap janji-Nya. Selama kita berjalan seturut dengan kehendak Tuhan dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, maka Dia pasti akan menggenapi janji-Nya atas hidup kita tepat pada waktunya.
Janji Tuhan itu berlaku dalam segala situasi dan keadaan. "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu." (Matius 24:35). Karena itu jangan pernah berubah sikap sekali pun, apalagi kita menjauh dan meninggalkan Tuhan. Sebaliknya, kita harus tetap melekat kepada Tuhan dan tekun menanti-nantikan Dia, sebab Tuhan bukanlah manusia, apa yang difirmankan-Nya pasti akan ditepati tepat pada waktunya (Bilangan 23:19).
Tak satu pun kuasa yang sanggup menghalangi dan menggagalkan janji Tuhan dinyatakan dalam hidup orang benar!
Baca: Mazmur 119:137-144
"Janji-Mu sangat teruji, dan hamba-Mu mencintainya." Mazmur 119:140
Hati wanita mana yang tak berbunga-bunga ketika mendengar kekasihnya berjanji akan menikahinya di kemudian hari? Terbuai janji manis, tak sedikit wanita yang akhirnya rela mengorbankan kehormatannya, karena pikirnya: "Toh nanti dia akan menikahiku dan menjadi suamiku!" Namun seiring berjalannya waktu, sang kekasih mulai kelihatan 'belangnya' dan berubah sikap, janji yang pernah diucapkannya tak pernah ditepatinya, bahkan ia memutuskan hubungan dan meninggalkan si wanita itu untuk kemudian berpaling ke lain hati. Hati wanita itu pun menjadi kecewa dan hancur berkeping-keping!
Janji adalah sesuatu yang bisa membangkitkan semangat, tapi janji juga dapat mengecewakan. Ada banyak orang bersemangat karena janji yang diterimanya, tapi ketika janji tersebut diingkari timbullah rasa kecewa yang mendalam, frustasi dan putus asa. Adalah sia-sia berharap pada janji manis manusia, kita pasti kecewa. Namun ada satu Pribadi yang tak pernah mengecewakan yaitu Tuhan, Dia tak pernah ingkar dengan janji-Nya. "Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah." (Mazmur 12:7). Janji Tuhan adalah ya dan amin. Tidak ada alasan bagi kita untuk merasa kuatir, marah, kecewa dan jengkel sekalipun kita harus melewati masa-masa yang sukar, sebab Tuhan sanggup mengubahnya untuk kebaikan kita. Daud memiliki pengalaman di sepanjang hidupnya bahwa tak sekalipun Tuhan ingkar terhadap janji-Nya. Selama kita berjalan seturut dengan kehendak Tuhan dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, maka Dia pasti akan menggenapi janji-Nya atas hidup kita tepat pada waktunya.
Janji Tuhan itu berlaku dalam segala situasi dan keadaan. "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu." (Matius 24:35). Karena itu jangan pernah berubah sikap sekali pun, apalagi kita menjauh dan meninggalkan Tuhan. Sebaliknya, kita harus tetap melekat kepada Tuhan dan tekun menanti-nantikan Dia, sebab Tuhan bukanlah manusia, apa yang difirmankan-Nya pasti akan ditepati tepat pada waktunya (Bilangan 23:19).
Tak satu pun kuasa yang sanggup menghalangi dan menggagalkan janji Tuhan dinyatakan dalam hidup orang benar!
Subscribe to:
Comments (Atom)