Tuesday, August 21, 2018

BERLIMPAH KEKAYAAN TAK SALAH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Agustus 2018

Baca:  Yakobus 5:1-6

"Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan."  Yakobus 5:5

Banyak orang Kristen sering salah dalam menafsirkan ayat firman Tuhan di atas.  Mereka berpikir bahwa orang Kristen tidak boleh hidup dalam kemewahan, dalam arti kaya dan berkelimpahan.  Anggapannya kemewahan selalu identik dengan keduniawian dan tidak rohani.  Perhatikan! 
"
Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi..."  Jadi,  'berfoya-foya'  dalam kemewahan inilah yang tidak dikehendaki oleh Tuhan.  Tetapi apabila kemewahan atau harta yang berlimpah itu dipergunakan untuk menggenapi rencana Tuhan, yaitu diberkati untuk memberkati, atau dipergunakan untuk kemuliaan nama Tuhan, maka kemewahan ini tak ada salahnya.

     Banyak tokoh di Alkitab yang diberkati Tuhan dengan limpahnya, tapi mereka hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.  Salah satu contohnya adalah Abraham.  Tuhan memberkati Abraham dengan satu tujuan supaya hidup Abraham menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.  "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat."  (Kejadian 12:2).  Kita dapat mempergunakan harta kekayaan kita untuk memuliakan Tuhan.  "Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya."  (Amsal 3:9-10).

     Peringatan untuk tidak berfoya-foya dalam kemewahan tidak terbatas dalam lingkup sempit, termasuk perbuatan kejam terhadap orang yang tak berdaya.  "Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu."  (Yakobus 5:6).  Bukankah banyak orang kaya memperdaya dan  'membunuh'  orang benar yang lemah ekonominya?  "Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah...Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu."  (Yakobus 5:1, 4).

Tuhan memberkati kita supaya dengan berkat itu kita menjadi saluran berkat, bukan untuk berfoya-foya dan kesenangan pribadi!

Monday, August 20, 2018

HATI HAMBA SEPERTI KRISTUS

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Agustus 2018

Baca:  Filipi 2:1-11

"...melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia."  Filipi 2:7

Di zaman dahulu perdagangan orang untuk menjadi hamba atau budak adalah hal yang biasa.  Ketika seorang hamba atau budak dibeli oleh seseorang, maka hamba atau budak tersebut tidak lagi mempunyai hak atas hidupnya, melainkan beralih menjadi milik sepenuhnya dari orang atau tuan yang membelinya.  Karena itu seorang hamba tidak mempunyai hak untuk menolak atau membantah setiap perintah tuannya.  Kapan pun si tuan memerintah, seorang hamba harus taat melakukan.  Artinya seorang hamba harus siap siaga selama 24 jam penuh untuk melayani dan menerima perintah dari tuannya.

     Setiap orang percaya adalah hamba-hamba Tuhan!  Artinya kita harus taat sepenuhnya melakukan kehendak Tuhan, yang adalah Tuan kita.  Berbicara tentang hamba, Kristus adalah teladan utama dalam hal ketaatan,  "...yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."  (Filipi 2:6-8).  Jika Kristus tidak taat dan tidak memiliki  'hati hamba', maka pengampunan dosa dan keselamatan kepada manusia takkan pernah terjadi.

     Sebagai hamba-hamba Tuhan sudah sepatutnya kita memiliki hati hamba, yaitu mau taat sepenuhnya kepada kehendak Tuhan, karena Dia adalah Tuan kita, sedangkan firman-Nya adalah perintah-perintah-Nya.  Ketaatan itulah yang menyenangkan hati Tuhan!  Alkitab menyatakan bahwa  "Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,"  (1 Yohanes 5:3).  Jadi yang diperlukan dari kita adalah mau atau tidak, kemauan bukan kemampuan, dan sifat penting yang harus dimiliki oleh seorang hamba adalah setia.  "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?"  (Amsal 20:6).  Kita harus setia kepada Tuhan, karena Dia telah membeli kita dari pasar dosa, dengan harga yang sangat mahal, yaitu darah-Nya sendiri, dan sudah lunas terbayar.

"Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya."  Kolose 3:24

Sunday, August 19, 2018

KEADAAN BAIK ADA SYARATNYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Agustus 2018

Baca:  Ulangan 22:6-12

"Setidak-tidaknya induk itu haruslah kaulepaskan, tetapi anak-anaknya boleh kauambil. Maksudnya supaya baik keadaanmu dan lanjut umurmu."  Ulangan 22:7

Untuk memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan tidak ada jalan lain, selain kita harus memiliki persekutuan yang karib dengan Dia dan dengan tekun membaca, meneliti dan merenungkan firman-Nya.  "Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran."  (Hosea 6:6).  Di situlah kita akan mengetahui dan memahami sifat-sifat Tuhan lebih mendalam.  Betapa hati Tuhan penuh dengan kasih dan keadilan, yang tidak hanya Ia tujukan kepada manusia saja, tetapi juga terhadap setiap makhluk ciptaan-Nya.

     Tuhan mengajar manusia untuk memperoleh keadaan hidup yang baik dan lanjut umur, tapi semuanya itu ada syaratnya yaitu manusia harus taat kepada Tuhan dan firman-Nya.  Jadi, keadaan yang baik dan lanjut umur tidaklah secara otomatis dapat diperoleh.  Tuhan berkata,  "Apabila engkau menemui di jalan sarang burung di salah satu pohon atau di tanah dengan anak-anak burung atau telur-telur di dalamnya, dan induknya sedang duduk mendekap anak-anak atau telur-telur itu, maka janganlah engkau mengambil induk itu bersama-sama dengan anak-anaknya. Setidak-tidaknya induk itu haruslah kaulepaskan, tetapi anak-anaknya boleh kauambil. Maksudnya supaya baik keadaanmu dan lanjut umurmu."  (Ulangan 22:6-7).  Makna apa yang tersirat?  Prinsipnya:  kekejaman, kekejian dan ketidakadilan adalah hal yang sangat dibenci Tuhan.  Keadaan yang baik dan lanjut umur akan menjadi milik kita, apabila kita hidup sesuai dengan hati Tuhan dan menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

     Dikatakan bahwa  "...apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu."  (Galatia 6:7b-8).  Apabila hal ini terjadi atas diri kita, jalan yang terbaik untuk dipulihkan adalah segera bersimpuh di bawah kaki Tuhan dan memohon pengampunan-Nya.  "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."  (1 Yohanes 1:9).

Hidup seturut dengan hati Tuhan adalah kunci mengalami kehidupan yang baik!

Saturday, August 18, 2018

ORANG PERCAYA BERMENTAL PRAJURIT

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Agustus 2018

Baca:  2 Timotius 2:1-13

"Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus."  2 Timotius 2:3

Orang percaya dipanggil Tuhan bukan untuk menjadi pengikut-Nya yang biasa-biasa saja, atau menjadi jemaat yang pasif yang hanya memenuhi bangku-bangku gereja, tapi seorang yang memiliki daya juang tinggi, tidak mudah menyerah dan tangguh, sebab kehidupan kekristenan itu penuh tantangan, karena ada banyak musuh yang tak berhenti mengincar.  Ya.... kehidupan kekristenan ibarat medan peperangan:  "...perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara."  (Efesus 6:12).  Karena itu Tuhan memanggil kita menjadi prajurit-prajurit-Nya.

     Kehidupan orang percaya terbagi menjadi dua bagian yaitu kehidupan jasmani  (darah/daging)  dan kehidupan rohani.  Dalam kehidupan rohani ini ada roh-roh jahat di udara dan penghulu-penghulu dunia yang jahat, yang kesemuanya di bawah komando si Iblis.  Dengan akal licik dan tipu muslihatnya, Iblis si bapa pendusta  (Yohanes 8:44), berusaha menyerang dan menjatuhkan iman orang percaya melalui pencobaan-pencobaan dan juga menawarkan kenikmatan-kenikmatan duniawi.  Tanpa memiliki perlawanan, kita akan mudah diperdaya dan diseret ke dalam dosa.  Karena itu kita harus menjadi orang percaya yang memiliki mental seorang prajurit;  dan itu ada harga yang harus dibayar!

     Untuk menjadi prajurit Kristus yang militan, yang siap bertempur di medan peperangan, tidak ada jalan lain selain harus taat sepenuhnya kepada perintah Komandan, di mana Kristus adalah Komandan kita!  "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya."  (2 Timotius 2:4).  Seorang prajurit yang sedang di medan peperangan tidak boleh lengah sedikit pun, melainkan harus benar-benar fokus pada peperangan yang sedang dihadapinya.  Lengah sedikit, nyawa menjadi taruhannya!  Seorang prajurit juga harus rela menderita dan keluar dari zona nyaman, jika tidak, ia takkan mampu menyelesaikan misi yang diberikan oleh komandannya.

Ketika kita taat melakukan perintah Sang Komandan  (Kristus), kita pasti akan mampu mematahkan segala serangan musuh dan tampil sebagai pemenang!

Friday, August 17, 2018

MERDEKA DARI SEGALA BELENGGU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Agustus 2018

Baca:  Yohanes 8:30-36

"Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka."  Yohanes 8:36

Bulan Agustus adalah bulan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia.  Hari ini, tujuh puluh tiga tahun silam, bangsa Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya.  Pekik merdeka berkumandang di seluruh penjuru negeri!  Kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia tak lepas dari jerih lelah para pejuang yang rela mempertaruhkan jiwa dan raga.  Dengan semboyan  'Berjuang sampai titik darah penghabisan'  mereka menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi, hal-hal yang berhubungan dengan diri sendiri ditanggalkan.  Ada tertulis:  "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya."  (2 Timotius 2:4).

     Tekad kuat membuat para pejuang mampu menepis rasa takut, lelah dan letih dalam bergerilya, bahkan nyawa dipertaruhkan demi satu tujuan:  meraih kemerdekaan;  cintanya terhadap bumi pertiwi mengalahkan segala-galanya.  Tak rela bangsanya terus-menerus berada di bawah penindasan dan belenggu penjajah.  Sudah sepatutnya pemerintah memberikan penghargaan tertinggi dan tanda jasa atas segala pengorbanan pahlawan.  "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya."

     Komitmen terhadap misi yang diemban memampukan orang berjuang sampai titik darah penghabisan.  Kristus mengemban misi besar dari Bapa untuk memerdekakan umat manusia dari belenggu dosa.  "...Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."  (Matius 20:28).  Komitmen terhadap misi ini membuat Kristus rela mengorbankan nyawa-Nya,  "...yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."  (Filipi 2:6-8).

Karya pengorbanan Kristus di Kalvari mematahkan segala belenggu dosa, sehingga kita pun menjadi orang-orang yang merdeka!

Thursday, August 16, 2018

APAKAH ARTI HIDUPMU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Agustus 2018

Baca:  Yakobus 4:13-17

"...kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap."  Yakobus 4:14

Setiap orang memaknai arti hidup ini dengan pandangan dan pemikiran yang berbeda-beda.  Ada orang yang menganggap bahwa hidup yang sedang dijalani ini adalah sebuah takdir Ilahi, karena itu kita harus menerimanya dengan lapang dada.  Ada pula orang yang mendefinisikan hidup ini sebagai panggung sandiwara, karena itu tak perlu terkejut jika kita melihat banyak orang hidup dalam kepura-puraan, oleh sebab itu kita harus pintar-pintar dalam memainkan setiap peran.  Tidak sedikit pula orang yang mengartikan bahwa hidup adalah kesempatan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.  Akhirnya mereka berjuang mati-matian bagaimana mendapatkan harta kekayaan yang sebanyak-banyaknya, tak peduli cara yang ditempuhnya itu baik atau tidak, melanggar hukum atau tidak.  "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?"  (Matius 16:26).

     Bagaimana kita mendefinisikan hidup ini akan mempengaruhi langkah kita, mempengaruhi cara berpikir kita, menentukan prioritas kita dan pilihan yang kita ambil.  Sadar atau tidak, sesungguhnya hidup ini adalah sebuah ujian.  Ujian karakter kita, ujian iman kita dan ujian kadar kasih kita kepada Tuhan.  Ujian-ujian tersebut bisa berupa masalah, kelimpahan atau juga kekurangan.  Jadi sekecil apa pun perkara yang sedang kita hadapi tak ada yang namanya kebetulan, semua adalah bagian dari sebuah proses ujian:  ketika masalah datang melanda, apakah kita tetap memiliki respons hati yang benar, ataukah kita meresponsnya dengan sikap hati yang negatif dengan menyalahkan situasi, menyalahkan orang lain dan menyalahkan Tuhan.

     Ketika ujian itu berupa kelimpahan, masihkan kita sadar bahwa semua itu datangnya dari Tuhan ataukah malah membuat kita lupa diri.  Sebaliknya ketika ujian itu berupa kekurangan?  Agur bin Yake menulis:  "Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku."  (Amsal 30:8-9).

Hidup adalah sebuah proses yang menuntun kita kepada kehendak Tuhan!

Wednesday, August 15, 2018

MUDAH TERBUJUK RAYUAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Agustus 2018

Baca:  Kisah Para Rasul 14:8-20

"Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berseru dalam bahasa Likaonia: 'Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.'"  Kisah 14:11

Ketika terjadi mujizat ada orang yang lumpuh sejak lahir dapat berjalan melalui pelayanan yang dilakukan oleh Paulus dan Barnabas, orang-orang di Listra pun mengelu-elukan dan menyanjung kedua hamba Tuhan tersebut.  Bahkan mereka menganggap bahwa Paulus dan Barnabas adalah dewa yang telah turun dari langit dalam rupa manusia.  "Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena ia yang berbicara."  (ayat 12).  Zeus dan Hermes adalah dewa kepercayaan Yunani kuno.  Zeus adalah dewa pemimpin yang bertahta di Olympus yang juga merupakan dewa hujan dan dewa langit, yang sering digambarkan dengan sebuah tongkat kerajaan, elang pada bahunya dan tongkat petir di tangannya.  Sementara Hermes merupakan dewa utusan Zeus, yang digambarkan sebagai dewa pembawa keberuntungan dan kemakmuran sehingga ia menjadi dewa favorit di antara dewa-dewa di Olympus.

     Banggakah Paulus dan Barnabas?  "Mendengar itu Barnabas dan Paulus mengoyakkan pakaian mereka, lalu terjun ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru: 'Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya."  (ayat 14-15).  Tetapi apa yang terjadi selanjutnya?  Orang-orang yang semula menyanjung dan mengelu-elukan Paulus dan Barnabas tiba-tiba berubah drastis:  "...mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota,"  (Kisah 14:9b).  Bagaimana bisa?  Ternyata orang-orang di Listra telah termakan bujukan  (terprovokasi)  orang-orang Yahudi yang membenci kekristenan.

     Berhati-hatilah dengan segala bujukan dan rayuan!  Ada banyak orang Kristen yang tergiur oleh bujuk rayu dunia ini, sehingga akhirnya mereka rela menjual imannya.  Mereka yang sebelumnya begitu mengasihi Tuhan berbalik memusuhi umat Tuhan.  Bujukan bisa membuat orang berubah total ke arah negatif.

Orang yang tak memiliki dasar iman yang kuat mudah terkena bujuk rayu Iblis!

Tuesday, August 14, 2018

SETIAP ROH HARUS DIUJI DULU

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Agustus 2018

Baca:  1 Yohanes 4:1-6

"Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia."  1 Yohanes 4:1

Salah satu tanda nyata bahwa saat-saat ini adalah akhir zaman adalah banyak bermunculan nabi-nabi palsu dengan ajarannya yang menyesatkan.  Orang percaya tidak boleh santai-santai saja menyikapi situasi ini, melainkan harus ekstra waspada akan setiap roh yang bersaksi di mana-mana, termasuk juga di tempat-tempat ibadah.  Kita tak harus percaya kepada setiap roh, sebab kita harus menguji apakah roh-roh itu berasal dari Tuhan atau bukan,  "...ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan."  (Efesus 5:10).

     Sedang marak terjadi, ada orang-orang yang menyampaikan nubuatan-nubuatan palsu dengan tujuan untuk menakut-nakuti jemaat atau dengan motivasi negatif.  Atau mereka mengarang nubuatan sendiri demi mendapatkan keuntungan materi.  Ada juga yang menyampaikan nubuatan palsu untuk menyerang pihak lain atau mendiskreditkan gereja lain.  Nubuatan model demikian jelas-jelas bertentangan dengan Injil Kristus, karena Roh Kudus adalah Roh yang penuh kasih, tertib dan mendatangkan damai sejahtera.  Tidak pernah Roh Kudus menyampaikan sesuatu untuk mengadu-domba dan saling membenci.  Banyak pula praktek perdukunan yang mengaku dirinya dihinggapi oleh Roh Tuhan dan dapat menyembuhkan bermacam penyakit.  "Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia."  (1 Yohanes 4:2-3).

     Banyak yang datang dengan nama Kristus tapi menyampaikan firman yang lain dari firman yang tertulis dalam Injil.  Paulus berkata,  "Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia."  (Galatia 1:8).

Seorang yang dewasa rohani tidak akan mudah  "...diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,"  Efesus 4:14

Monday, August 13, 2018

SEPERTI KOTA YANG ROBOH TEMBOKNYA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Agustus 2018

Baca:  Amsal 25:1-28

"Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya."  Amsal 25:28

Pada zaman dahulu setiap kota selalu dikelilingi oleh tembok yang tinggi dan kuat.  Adapun fungsinya adalah sebagai benteng perlindungan terhadap serangan yang datang dari pihak luar  (musuh).  Apabila tembok itu roboh akan memudahkan musuh untuk menyerang, memasuki kota dan mendudukinya.  Seperti itu pula gambaran orang yang tidak punya pertahanan diri yang kuat, tidak memiliki pengendalian diri, tidak memiliki penguasaan diri.  Jika kita tidak bisa mengendalikan diri atau tak punya penguasaan diri, kita pasti akan menjadi sasaran empuk musuh yaitu Iblis.  Rasul Petrus memperingatkan:  "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya."  (1 Petrus 5:8).

     Adalah penting sekali bagi orang percaya untuk memiliki penguasaan diri dalam segala hal.  penguasaan diri adalah bagian dari buah Roh  (Galatia 5:22-23).  Orang yang memiliki penguasaan diri akan mampu menjaga dirinya terhadap segala pengaruh dan menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan.  Karena itu penulis Amsal sangat mengapresiasi tinggi orang yang memiliki penguasaan diri yang baik.  "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota."  (Amsal 16:32).  Daud adalah salah satu contoh orang yang memiliki penguasaan diri dalam hidupnya.  Sekalipun punya kesempatan besar untuk balas dendam terhadap Saul saat berada di dalam gua, tapi ia dapat menguasai diri, sehingga ia mengurungkan niat untuk menghabisi Saul.  Alkitab mencatat:  "...berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul; lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: 'Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.'"  (1 Samuel 24:6-7).

     Untuk memiliki penguasaan diri ada harga yang harus dibayar yaitu rela hati untuk dipimpin oleh Roh Kudus.

Bergaul karib dengan Tuhan dan Roh Kudus adalah satu-satunya cara untuk kita bisa memiliki penguasaan diri!

Sunday, August 12, 2018

KRISTUS: Pribadi Penuh Empati

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Agustus 2018

Baca:  Markus 6:53-56

"Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh."  Markus 6:56

Setelah begitu lama mengajar dan memberi makan lima ribu orang yang setia mendengar ajaran-Nya, Kristus merasa sangat lelah.  Karena itu Ia memerintahkan murid-murid-Nya naik perahu dan berangkat lebih dulu ke Betsaida  (Markus 6:45).  Setelah menyuruh orang banyak untuk pulang, Kristus pun mengasingkan diri untuk berdoa.

     Dalam penyeberangan ke Betsaida perahu murid-murid dihadang oleh amukan angin sakal ketika tepat berada di tengah-tengah danau.  Melihat situasi ini Kristus pun segera turun tangan menolong mereka.  Namun setelah sampai di seberang Ia sudah ditunggu banyak orang yang sangat mengharapkan pertolongan-Nya.  Melihat mereka tergeraklah hati Tuhan oleh belas kasihan, dan ia pun mengulurkan tangan-Nya memberi pertolongan.  Ini menunjukkan bahwa Ia adalah Pribadi yang penuh empati.  Empati adalah sikap yang menempatkan diri sendiri di posisi orang lain agar bisa turut merasakan apa yang orang lain rasakan.  Tuhan dapat merasakan betapa susahnya si pincang berjalan, betapa terlukanya hati si kusta karena tertolak;  Ia merasakan penderitaan mendalam dari seorang wanita yang mengalami sakit pendarahan selama dua belas tahun, merasakan betapa sakit dan menderitanya orang yang hanya bisa berbaring di atas kasur;  merasakan betapa hancurnya hati orang buta yang hanya bisa melihat gelap di sepanjang hidupnya.  Alasan-alasan inilah yang membuat Tuhan tidak bisa tinggal diam dan meninggalkan mereka begitu saja.  Empati yang besar menggerakkan hati Tuhan untuk bertindak.

     Apakah Saudara sedang menderita sakit-penyakit, terluka hati karena tertolak, atau tertindih beban yang teramat berat?  Jangan pernah putus asa, sebab selalu ada masa depan dan harapan bagi orang-orang yang berharap kepada Tuhan.  Pemazmur menegaskan bahwa orang yang menanti-nantikan Tuhan takkan pernah mendapat malu  (Mazmur 25:3a).

"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."  Matius 11:28

Saturday, August 11, 2018

DAPUR PERAPIAN: Proses Pemurnian Iman

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Agustus 2018

Baca:  Amsal 17:1-28

"Kui (the refining pot - English, Red) adalah untuk melebur perak dan perapian untuk melebur emas, tetapi Tuhanlah yang menguji hati."  Amsal 17:3

Emas adalah salah satu logam mulia yang memiliki nilai jual tinggi.  Tapi tak banyak orang yang memahami bahwa emas yang murni dan berharga lahir dari proses pemurnian di dalam dapur perapian.  Saat sedang melebur emasnya di dapur perapian sang pengrajin emas tidak dengan serta merta meninggalkan emas tersebut begitu saja di dapur perapian, tapi ia dengan setia berjaga-jaga di samping dapur perapian itu.  Dengan sabar dan penuh ketelitian si pengrajin emas akan terus memperhatikan dan mengamat-amati emas yang sedang terbakar di dalam api yang panas membara itu supaya jangan sampai rusak dan tak berbentuk.  Ia pun turut merasakan hawa panasnya yang menyengat kulit.

     Demikian juga dengan Tuhan, saat Ia sedang memroses hidup kita, Ia pun tidak pernah sekalipun membiarkan dan meninggalkan kita, meskipun untuk itu Tuhan harus turut merasakan setiap sakit yang kita rasakan.  Tuhan berkata,  "janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan."  (Yesaya 41:10).  Emas murni harus merasakan panasnya api di dapur perapian dalam waktu yang tak singkat, sampai semua kotoran dan ketidakmurnian yang melekat di logam tersebut terkikis habis.  Bagaimana si pengrajin emas tahu bahwa semua kotoran telah habis?  ketika ia dapat melihat bayangan dirinya pada emas yang sedang dileburnya itu....

     Jangan pernah memberontak ketika mengalami proses pembentukan dari Tuhan!  Segala hal yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita selalu mendatangkan kebaikan demi kebaikan.  Tuhan mau kita semakin dimurnikan, sehingga pada akhirnya karakter Kristus akan terpancar keluar melalui kehidupan kita.  Memang proses itu terasa amat sakit, tapi percayalah bahwa Tuhan pasti akan menolong dan memberi kekuatan kepada kita.  Tuhan mengijinkan semua itu terjadi karena Ia memiliki rencana yang indah untuk kehidupan kita.  Untuk itulah kita perlu dibentuk dan diproses oleh-Nya!

"Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas."  Ayub 23:10