Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Mei 2018
Baca: Amsal 22:1-16
"Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka." Amsal 22:3
Banyak orang Kristen tak punya kepekaan rohani ketika berada di tengah-tengah lingkungan yang tidak baik (jahat). Mereka tetap saja tak beranjak dari tempat, apalagi melangkah keluar untuk memisahkan diri, karena merasa diri kuat. Rasul Paulus telah memperingatkan, "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Koritus 10:12). Bahkan mereka beranggapan bahwa di zaman now seperti sekarang ini melihat perkara-perkara jahat adalah hal yang lumrah dan biasa.
Ketidakmampuan seseorang untuk melihat adanya hal-hal yang jahat (dosa) adalah suatu gejala kebutaan rohani. Hal ini bisa terjadi oleh karena orang itu tak berpegang pada firman Tuhan. Pemazmur menyatakan, "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Mazmur 119:105). Jadi bila firman Tuhan tidak terdapat di dalam hati seseorang ia takkan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, sebab ia berjalan dalam kegelapan. Karena itulah kita harus selalu tinggal di dalam firman Tuhan dan menjadikan firman-Nya sebagai penerang langkah. "Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh." (Mazmur 119:130), sehingga kita tidak salah arah dalam melangkah sebab di depan ada banyak sekali jebakan, dimana jika tidak berhati-hati kita pasti akan jatuh. "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut." (Amsal 14:12). Semisal dalam lingkungan pergaulan, kalau ada hal-hal yang jahat kita harus berani bersikap tegas untuk keluar dari lingkungan itu, jika tidak, kita akan terpengaruh. "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33).
Hal berikut ini penting sekali, terlebih bagi anak-anak muda yang sangat rentan terhadap aneka godaan dunia ini: bagaimana cara agar para muda dapat terlepas dari jerat dan tipu muslihat Iblis? "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Amsal 22:6).
"Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya dan merasa aman." Amsal 14:16
Friday, May 4, 2018
Thursday, May 3, 2018
BERSERAH KEPADA TUHAN: Berlaku Hidup Benar
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Mei 2018
Baca: Mazmur 55:1-24
"Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah." Mazmur 55:23
Setiap hari manusia tak dapat menghindarkan diri atau lari dari masalah, penderitaan dan kesesakan. Itu adalah bagian dari kehidupan manusia. Musa berkata, "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap." (Mazmur 90:10). Hal-hal tak terprediksi, tak disangka, tak diduga, peristiwa atau kejadian yang tak pernah diharapkan bisa saja menimpa seperti bencana, kecelakaan, musibah, malapetaka dan bahkan kematian. Inilah realitas hidup manusia yang tak bisa disangkal!
Sebagai manusia seharusnya kita menyadari betapa terbatasnya kekuatan dan kemampuan kita. Seharusnya pula kita bersikap rendah hati di hadapan Tuhan. Orang-orang yang rendah hati selalu merasa miskin di hadapan Tuhan karena kekuatannya terbatas. Ada tertulis: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga." (Matius 5:3). Jika menyadari betapa terbatas kekuatan kita seharusnya kita merasa sangat membutuhkan Tuhan dan berserah penuh kepada-Nya. Orang yang berserah kepada Tuhan secara benar pasti berusaha agar hidupnya selaras dengan kehendak-Nya. Jadi hidup berserah kepada Tuhan itu tidak dapat dipisahkan dari hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya.
Ada orang-orang yang hidup dalam ketidaktaatan, hidup menurut kehendak sendiri dan tidak mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, tapi mereka menuntut Tuhan untuk menjawab doa-doanya dan memenuhi segala yang dibutuhkan. Bukankah ini suatu sikap yang tidak baik dan sangat mempermainkan Tuhan! Orang yang demikian tak selayaknya menuntut banyak hal kepada Tuhan. Jika ada di antara kita yang berlaku demikian, hal terbaik yang harus kita lakukan adalah segeralah bertobat sebelum Tuhan bertindak: "Aku akan menentukan kamu bagi pedang, dan kamu sekalian akan menekuk lutut untuk dibantai! Oleh karena ketika Aku memanggil, kamu tidak menjawab, ketika Aku berbicara, kamu tidak mendengar, tetapi kamu melakukan apa yang jahat di mata-Ku dan lebih menyukai apa yang tidak berkenan kepada-Ku." (Yesaya 65:12).
Menurut kehendak Tuhan adalah tanda orang punya penyerahan diri pada-Nya!
Baca: Mazmur 55:1-24
"Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah." Mazmur 55:23
Setiap hari manusia tak dapat menghindarkan diri atau lari dari masalah, penderitaan dan kesesakan. Itu adalah bagian dari kehidupan manusia. Musa berkata, "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap." (Mazmur 90:10). Hal-hal tak terprediksi, tak disangka, tak diduga, peristiwa atau kejadian yang tak pernah diharapkan bisa saja menimpa seperti bencana, kecelakaan, musibah, malapetaka dan bahkan kematian. Inilah realitas hidup manusia yang tak bisa disangkal!
Sebagai manusia seharusnya kita menyadari betapa terbatasnya kekuatan dan kemampuan kita. Seharusnya pula kita bersikap rendah hati di hadapan Tuhan. Orang-orang yang rendah hati selalu merasa miskin di hadapan Tuhan karena kekuatannya terbatas. Ada tertulis: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga." (Matius 5:3). Jika menyadari betapa terbatas kekuatan kita seharusnya kita merasa sangat membutuhkan Tuhan dan berserah penuh kepada-Nya. Orang yang berserah kepada Tuhan secara benar pasti berusaha agar hidupnya selaras dengan kehendak-Nya. Jadi hidup berserah kepada Tuhan itu tidak dapat dipisahkan dari hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya.
Ada orang-orang yang hidup dalam ketidaktaatan, hidup menurut kehendak sendiri dan tidak mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, tapi mereka menuntut Tuhan untuk menjawab doa-doanya dan memenuhi segala yang dibutuhkan. Bukankah ini suatu sikap yang tidak baik dan sangat mempermainkan Tuhan! Orang yang demikian tak selayaknya menuntut banyak hal kepada Tuhan. Jika ada di antara kita yang berlaku demikian, hal terbaik yang harus kita lakukan adalah segeralah bertobat sebelum Tuhan bertindak: "Aku akan menentukan kamu bagi pedang, dan kamu sekalian akan menekuk lutut untuk dibantai! Oleh karena ketika Aku memanggil, kamu tidak menjawab, ketika Aku berbicara, kamu tidak mendengar, tetapi kamu melakukan apa yang jahat di mata-Ku dan lebih menyukai apa yang tidak berkenan kepada-Ku." (Yesaya 65:12).
Menurut kehendak Tuhan adalah tanda orang punya penyerahan diri pada-Nya!
Wednesday, May 2, 2018
NANTIKANLAH TUHAN DAN IKUTI JALANNYA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Mei 2018
Baca: Mazmur 37:34-40
"Nantikanlah TUHAN dan tetap ikutilah jalan-Nya, maka Ia akan mengangkat engkau untuk mewarisi negeri, dan engkau akan melihat orang-orang fasik dilenyapkan." Mazmur 37:34
Ketidaksabaran menantikan waktu Tuhan seringkali menghalangi kita untuk melihat kebaikan Tuhan dan pekerjaan-Nya yang dahsyat dinyatakan. Karena tidak sabar menunggu Tuhan bertindak kita seringkali menjadi frustasi dan kemudian berpaling untuk mencari pertolongan kepada yang lain. Sikap hati kita berubah dan hal itu berdampak pula pada sikap dan perkataan kita. Yang keluar dari mulut kita keluhan, persungutan, umpatan, omelan dan ungkapan-uangkapan kekecewaan lainnya.
Daud mengingatkan bahwa seberat apa pun situasi yang kita alami jangan sekali-kali berubah sikap, tetaplah menaruh pengharapan kepada Tuhan, sebab semua orang yang menantikan Tuhan dan berharap kepada-Nya takkan mendapat malu; yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat dengan tidak ada alasannya (Mazmur 25:3). Di dalam kata 'nantikan' ini terkandung unsur berharap, berharap akan pertolongan Tuhan. Sedangkan kata 'mengikuti' (Ibrani: shamar) secara literal berarti memagari, melindungi atau menjaga. Jika dihubungkan dengan jalan Tuhan, memiliki pengertian memagari, melindungi dan menjaga jalan Tuhan di dalam dirinya, atau tidak akan membiarkan jalan Tuhan itu dirusak oleh perkataan dan perbuatannya sendiri, atau tidak tahan terhadap godaan-godaan yang datang dari pihak luar. Jadi menantikan Tuhan dan mengikuti jalan-Nya adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan, bagaikan dua sisi mata uang. Tak mungkin seseorang dikatakan sedang menanti-nantikan Tuhan tapi di sisi lain ia tidak mau mengikuti jalan-jalan Tuhan, atau hidup menyimpang dari jalan Tuhan.
Di dalam menantikan Tuhan pasti terkandung unsur ketekunan, kesabaran dan kesungguhan untuk melakukan kehendak Tuhan. Sekalipun keadaan belum tampak berubah, sekalipun orang-orang di sekitar menyemooh, mengejek dan berkata bahwa itu percuma, jangan pernah goyah, sebab Tuhan pasti bertindak tepat pada waktu-Nya.
Kunci untuk mengalami pertolongan Tuhan dan menikmati berkat-berkat-Nya adalah tekun menantikan Dia dan mengikuti jalan-Nya!
Baca: Mazmur 37:34-40
"Nantikanlah TUHAN dan tetap ikutilah jalan-Nya, maka Ia akan mengangkat engkau untuk mewarisi negeri, dan engkau akan melihat orang-orang fasik dilenyapkan." Mazmur 37:34
Ketidaksabaran menantikan waktu Tuhan seringkali menghalangi kita untuk melihat kebaikan Tuhan dan pekerjaan-Nya yang dahsyat dinyatakan. Karena tidak sabar menunggu Tuhan bertindak kita seringkali menjadi frustasi dan kemudian berpaling untuk mencari pertolongan kepada yang lain. Sikap hati kita berubah dan hal itu berdampak pula pada sikap dan perkataan kita. Yang keluar dari mulut kita keluhan, persungutan, umpatan, omelan dan ungkapan-uangkapan kekecewaan lainnya.
Daud mengingatkan bahwa seberat apa pun situasi yang kita alami jangan sekali-kali berubah sikap, tetaplah menaruh pengharapan kepada Tuhan, sebab semua orang yang menantikan Tuhan dan berharap kepada-Nya takkan mendapat malu; yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat dengan tidak ada alasannya (Mazmur 25:3). Di dalam kata 'nantikan' ini terkandung unsur berharap, berharap akan pertolongan Tuhan. Sedangkan kata 'mengikuti' (Ibrani: shamar) secara literal berarti memagari, melindungi atau menjaga. Jika dihubungkan dengan jalan Tuhan, memiliki pengertian memagari, melindungi dan menjaga jalan Tuhan di dalam dirinya, atau tidak akan membiarkan jalan Tuhan itu dirusak oleh perkataan dan perbuatannya sendiri, atau tidak tahan terhadap godaan-godaan yang datang dari pihak luar. Jadi menantikan Tuhan dan mengikuti jalan-Nya adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan, bagaikan dua sisi mata uang. Tak mungkin seseorang dikatakan sedang menanti-nantikan Tuhan tapi di sisi lain ia tidak mau mengikuti jalan-jalan Tuhan, atau hidup menyimpang dari jalan Tuhan.
Di dalam menantikan Tuhan pasti terkandung unsur ketekunan, kesabaran dan kesungguhan untuk melakukan kehendak Tuhan. Sekalipun keadaan belum tampak berubah, sekalipun orang-orang di sekitar menyemooh, mengejek dan berkata bahwa itu percuma, jangan pernah goyah, sebab Tuhan pasti bertindak tepat pada waktu-Nya.
Kunci untuk mengalami pertolongan Tuhan dan menikmati berkat-berkat-Nya adalah tekun menantikan Dia dan mengikuti jalan-Nya!
Tuesday, May 1, 2018
KECAPLAH DAN LIHATLAH KEBAIKAN TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Mei 2018
Baca: Mazmur 34:7-11
"Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!" Mazmur 34:9
Mazmur ini ditulis Daud bukan ketika ia sudah menjadi raja atas Israel, bukan pula saat berada dalam situasi yang baik dan tenang. Melainkan saat ia melarikan diri dari kejaran Saul yang berusaha untuk membunuhnya. Tragisnya lagi, saat lari ke daerah Filistin raja Filistin mengenali dia sebagai pahlawan Israel yang telah membinasakan banyak perwira-perwira Filistin, sehingga raja itu pun berniat membunuhnya juga. Daud benar-benar dalam keadaan terjepit!
Ketika berada dalam situasi berat umumnya orang akan menjadi kalut, takut dan frustasi. Berbeda dengan Daud yang terus mengarahkan pandangannya kepada Tuhan dan mengingat-ingat akan kebaikan-Nya sehingga ia tetap bisa memuji-muji Tuhan. Ia sangat percaya bahwa Tuhan yang disembahnya adalah Tuhan yang tidak pernah berubah. Kalau dulu Tuhan menolong saat ia berhadapan dengan singa atau beruang yang berusaha untuk menerkam kawanan domba yang digembalakannya, kalau dulu Tuhan turut campur tangan saat ia berperang melawan musuh dan memberinya kemenangan, maka Tuhan yang sama pasti akan meluputkan dia dari pergumulan berat ini. Karena itu dalam keadaan yang seakan tiada harapan Daud selalu mengingat betapa baiknya Tuhan itu dan berusaha untuk mengecap segala kebaikan-Nya. Kata 'kecaplah' (Ibrani: ta'am) artinya merasakan, sedangkan kata 'lihatlah' (Ibrani: ra'ah) artinya memperhatikan atau memeriksa. Yang perlu dirasakan dan diperhatikan adalah kebaikan Tuhan. Akhirnya Daud pun dapat berkata, "Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik." (Mazmur 34:11).
Ketika kita mengecap kebaikan Tuhan kita dapat merasakan betapa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ketika kita mengecap kebaikan Tuhan kita akan memahami bahwa janji Tuhan adalah ya dan amin, sehingga kita bisa kuat dan tegak berdiri sekalipun menghadapi terpaan badai. Oleh karena itu jangan hanya memandang kepada besarnya masalah, jangan terpaku pada kesulitan yang ada, tapi pandanglah kepada Tuhan yang tak pernah melepaskan tangan-Nya untuk menopang kita.
Kasih Tuhan itu hebat dan kesetiaan-Nya untuk selamanya (Mazmur 117:2).
Baca: Mazmur 34:7-11
"Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!" Mazmur 34:9
Mazmur ini ditulis Daud bukan ketika ia sudah menjadi raja atas Israel, bukan pula saat berada dalam situasi yang baik dan tenang. Melainkan saat ia melarikan diri dari kejaran Saul yang berusaha untuk membunuhnya. Tragisnya lagi, saat lari ke daerah Filistin raja Filistin mengenali dia sebagai pahlawan Israel yang telah membinasakan banyak perwira-perwira Filistin, sehingga raja itu pun berniat membunuhnya juga. Daud benar-benar dalam keadaan terjepit!
Ketika berada dalam situasi berat umumnya orang akan menjadi kalut, takut dan frustasi. Berbeda dengan Daud yang terus mengarahkan pandangannya kepada Tuhan dan mengingat-ingat akan kebaikan-Nya sehingga ia tetap bisa memuji-muji Tuhan. Ia sangat percaya bahwa Tuhan yang disembahnya adalah Tuhan yang tidak pernah berubah. Kalau dulu Tuhan menolong saat ia berhadapan dengan singa atau beruang yang berusaha untuk menerkam kawanan domba yang digembalakannya, kalau dulu Tuhan turut campur tangan saat ia berperang melawan musuh dan memberinya kemenangan, maka Tuhan yang sama pasti akan meluputkan dia dari pergumulan berat ini. Karena itu dalam keadaan yang seakan tiada harapan Daud selalu mengingat betapa baiknya Tuhan itu dan berusaha untuk mengecap segala kebaikan-Nya. Kata 'kecaplah' (Ibrani: ta'am) artinya merasakan, sedangkan kata 'lihatlah' (Ibrani: ra'ah) artinya memperhatikan atau memeriksa. Yang perlu dirasakan dan diperhatikan adalah kebaikan Tuhan. Akhirnya Daud pun dapat berkata, "Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik." (Mazmur 34:11).
Ketika kita mengecap kebaikan Tuhan kita dapat merasakan betapa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ketika kita mengecap kebaikan Tuhan kita akan memahami bahwa janji Tuhan adalah ya dan amin, sehingga kita bisa kuat dan tegak berdiri sekalipun menghadapi terpaan badai. Oleh karena itu jangan hanya memandang kepada besarnya masalah, jangan terpaku pada kesulitan yang ada, tapi pandanglah kepada Tuhan yang tak pernah melepaskan tangan-Nya untuk menopang kita.
Kasih Tuhan itu hebat dan kesetiaan-Nya untuk selamanya (Mazmur 117:2).
Monday, April 30, 2018
TUHAN SANGGUP MEMAKAI HIDUP KITA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 April 2018
Baca: Ibrani 11:32-40
"Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan," Ibrani 11:32-33
Yefta adalah salah satu dari saksi-saksi iman yang tertulis di Alkitab. Artinya ia memiliki level iman yang bisa disejajarkan dengan Gideon, Barak, Simson, Daud, Samuel dan para nabi lainnya (ayat nas). Ia dipilih Tuhan sebagai hakim atas Israel selama 6 tahun dan bahkan Alkitab menulis bahwa "...Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa," (Hakim-Hakim 11:1). Tentunya ada 'sesuatu' dalam diri Yefta sehingga ia dipilih dan dipakai Tuhan untuk menjadi alat kemuliaan-Nya.
Sebenarnya Yefta memiliki latar belakang hidup yang buruk karena ia terlahir dari "...seorang perempuan sundal;" (Hakim-Hakim 11:1), sehingga kebanyakan orang menyebutnya 'sampah' masyarakat. Sedangkan ayahnya adalah Gilead, termasuk keturunan dari suku yang tak diperhitungkan. Gilead mempunyai isteri yang sah, tetapi ia berselingkuh dengan perempuan sundal, dan lahirlah Yefta. Ketika masih kecil semua anak dari isterinya yang sah maupun yang tidak sah tinggal bersama-sama, namun setelah dewasa Yefta terusir. Ia pun lari ke tanah Tob, "...di sana berkumpullah kepadanya petualang-petualang yang pergi merampok bersama-sama dengan dia." (Hakim-Hakim 11:3). Dengan kata lain Yefta tinggal dan hidup di 'lembah hitam'. Namun Tuhan memiliki kedaulatan penuh untuk menentukan hidup seseorang. "Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani." (Keluaran 33:19). Oleh karena kasih karunia Yefta pun dipilih Tuhan untuk menjadi alat-Nya, maka "...Roh TUHAN menghinggapi Yefta..." (Hakim-Hakim 11:29).
Apa pun latar belakang hidup kita tak perlu merasa minder dan rendah diri. Orang boleh saja merendahkan, tapi percayalah bahwa kita ini berharga di mata Tuhan. "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti," (1 Korintus 1:27-28).
Tak ada yang terlalu sukar bagi Tuhan memilih dan memakai hidup seseorang!
Baca: Ibrani 11:32-40
"Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan," Ibrani 11:32-33
Yefta adalah salah satu dari saksi-saksi iman yang tertulis di Alkitab. Artinya ia memiliki level iman yang bisa disejajarkan dengan Gideon, Barak, Simson, Daud, Samuel dan para nabi lainnya (ayat nas). Ia dipilih Tuhan sebagai hakim atas Israel selama 6 tahun dan bahkan Alkitab menulis bahwa "...Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa," (Hakim-Hakim 11:1). Tentunya ada 'sesuatu' dalam diri Yefta sehingga ia dipilih dan dipakai Tuhan untuk menjadi alat kemuliaan-Nya.
Sebenarnya Yefta memiliki latar belakang hidup yang buruk karena ia terlahir dari "...seorang perempuan sundal;" (Hakim-Hakim 11:1), sehingga kebanyakan orang menyebutnya 'sampah' masyarakat. Sedangkan ayahnya adalah Gilead, termasuk keturunan dari suku yang tak diperhitungkan. Gilead mempunyai isteri yang sah, tetapi ia berselingkuh dengan perempuan sundal, dan lahirlah Yefta. Ketika masih kecil semua anak dari isterinya yang sah maupun yang tidak sah tinggal bersama-sama, namun setelah dewasa Yefta terusir. Ia pun lari ke tanah Tob, "...di sana berkumpullah kepadanya petualang-petualang yang pergi merampok bersama-sama dengan dia." (Hakim-Hakim 11:3). Dengan kata lain Yefta tinggal dan hidup di 'lembah hitam'. Namun Tuhan memiliki kedaulatan penuh untuk menentukan hidup seseorang. "Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani." (Keluaran 33:19). Oleh karena kasih karunia Yefta pun dipilih Tuhan untuk menjadi alat-Nya, maka "...Roh TUHAN menghinggapi Yefta..." (Hakim-Hakim 11:29).
Apa pun latar belakang hidup kita tak perlu merasa minder dan rendah diri. Orang boleh saja merendahkan, tapi percayalah bahwa kita ini berharga di mata Tuhan. "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti," (1 Korintus 1:27-28).
Tak ada yang terlalu sukar bagi Tuhan memilih dan memakai hidup seseorang!
Sunday, April 29, 2018
BERKAT TUHAN BERLIPAT GANDA (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 April 2018
Baca: Yohanes 17:1-26
"Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu." Yohanes 17:6
Di dalam Yohanes 1:12 dikatakan: "...semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;" Setiap orang yang percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat menyandang status sebagai anak-anak Tuhan. Artinya kita menjadi milik Tuhan, di mana tanda kepemilikan itu adalah materai Roh Kudus. "...Di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya." (Efesus 1:13-14). Menjadi milik Tuhan adalah sukacita yang tak ternilai harganya. Karena kita milik Tuhan, maka apa yang Dia punya menjadi milik kita juga, apa yang kita butuhkan pasti Ia sediakan. Menjadi milik Tuhan berarti menjadi obyek kasih-Nya!
Berkat apa lagi yang Tuhan sediakan? Pemeliharaan. Kristus berkata, "Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci." (Yohanes 17:12). Tak perlu takut menjalani hidup ini sebab kita tidak menghadapinya sendirian. Tuhan di pihak kita. Adakah yang mustahil bagi-Nya? Pemeliharaan Tuhan itu sempurna adanya!
Perlindungan. "Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat." (Yohanes 17:15). Tuhan melindungi dan menjaga kita seperti biji mata-Nya sendiri. Sekalipun bumi bergoncang kita akan tetap terjaga dengan aman, "...karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut." (Ibrani 12:28).
Setialah mengikut Kristus sampai akhir, karena berkat-berkat yang luar biasa tersedia bagi kita!
Baca: Yohanes 17:1-26
"Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu." Yohanes 17:6
Di dalam Yohanes 1:12 dikatakan: "...semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;" Setiap orang yang percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat menyandang status sebagai anak-anak Tuhan. Artinya kita menjadi milik Tuhan, di mana tanda kepemilikan itu adalah materai Roh Kudus. "...Di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya." (Efesus 1:13-14). Menjadi milik Tuhan adalah sukacita yang tak ternilai harganya. Karena kita milik Tuhan, maka apa yang Dia punya menjadi milik kita juga, apa yang kita butuhkan pasti Ia sediakan. Menjadi milik Tuhan berarti menjadi obyek kasih-Nya!
Berkat apa lagi yang Tuhan sediakan? Pemeliharaan. Kristus berkata, "Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci." (Yohanes 17:12). Tak perlu takut menjalani hidup ini sebab kita tidak menghadapinya sendirian. Tuhan di pihak kita. Adakah yang mustahil bagi-Nya? Pemeliharaan Tuhan itu sempurna adanya!
Perlindungan. "Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat." (Yohanes 17:15). Tuhan melindungi dan menjaga kita seperti biji mata-Nya sendiri. Sekalipun bumi bergoncang kita akan tetap terjaga dengan aman, "...karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut." (Ibrani 12:28).
Setialah mengikut Kristus sampai akhir, karena berkat-berkat yang luar biasa tersedia bagi kita!
Saturday, April 28, 2018
BERKAT TUHAN BERLIPAT GANDA (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 April 2018
Baca: Yohanes 17:1-26
"Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya." Yohanes 17:2
Di hari-hari ini ada banyak orang Kristen meninggalkan imannya kepada Kristus dan memilih untuk mengikuti jalan dunia. Mengapa bisa terjadi? Karena mereka menganggap bahwa mengikut Kristus itu tantangannya teramat berat: masalah datang silih berganti, dikucilkan oleh lingkungan, dijauhi dan ditinggalkan oleh teman/sahabat, karir terhambat, dan masih banyak lagi. Sementara mereka menyaksikan bahwa orang-orang di luar Tuhan sepertinya hidup nyaman dan tak menemui masalah yang berarti.
Firman Tuhan telah memperingatkan: "...janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu." (Ibrani 10:35-36). Kristus juga sudah menegaskan bahwa setiap orang yang rela membayar harga untuk mengikut Dia akan mendapatkan upah seratus kali lipat dan hidup yang kekal (Matius 19:29). Tidak ada kata sia-sia untuk setiap ketekunan, kesetiaan dan jerih lelah kita dalam mengikut Tuhan, karena Ia memperhitungkannya.
Coba simak baik-baik berkat apa saja yang Tuhan sediakan bagi kita: Hidup yang kekal. "Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus." (Yohanes 17:3). Hidup yang kekal atau tinggal bersama dengan Kristus di Sorga adalah sebuah kepastian kalau kita terus bertekun di dalam Tuhan, melayani Dia dengan sungguh dan setia mengikut Dia sampai akhir. "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada." (Yohanes 14:2-3). Hidup di dunia ini adalah sementara saja! Karena itu jangan pernah menyerah pada keadaan, apalagi berputus asa, jika kita harus diperhadapkan pada masalah atau pergumulan hidup yang berat. Bertahanlah! Penderitaan yang kita alami di dunia ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang Tuhan sediakan kelak! (Roma 8:18).
Baca: Yohanes 17:1-26
"Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya." Yohanes 17:2
Di hari-hari ini ada banyak orang Kristen meninggalkan imannya kepada Kristus dan memilih untuk mengikuti jalan dunia. Mengapa bisa terjadi? Karena mereka menganggap bahwa mengikut Kristus itu tantangannya teramat berat: masalah datang silih berganti, dikucilkan oleh lingkungan, dijauhi dan ditinggalkan oleh teman/sahabat, karir terhambat, dan masih banyak lagi. Sementara mereka menyaksikan bahwa orang-orang di luar Tuhan sepertinya hidup nyaman dan tak menemui masalah yang berarti.
Firman Tuhan telah memperingatkan: "...janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu." (Ibrani 10:35-36). Kristus juga sudah menegaskan bahwa setiap orang yang rela membayar harga untuk mengikut Dia akan mendapatkan upah seratus kali lipat dan hidup yang kekal (Matius 19:29). Tidak ada kata sia-sia untuk setiap ketekunan, kesetiaan dan jerih lelah kita dalam mengikut Tuhan, karena Ia memperhitungkannya.
Coba simak baik-baik berkat apa saja yang Tuhan sediakan bagi kita: Hidup yang kekal. "Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus." (Yohanes 17:3). Hidup yang kekal atau tinggal bersama dengan Kristus di Sorga adalah sebuah kepastian kalau kita terus bertekun di dalam Tuhan, melayani Dia dengan sungguh dan setia mengikut Dia sampai akhir. "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada." (Yohanes 14:2-3). Hidup di dunia ini adalah sementara saja! Karena itu jangan pernah menyerah pada keadaan, apalagi berputus asa, jika kita harus diperhadapkan pada masalah atau pergumulan hidup yang berat. Bertahanlah! Penderitaan yang kita alami di dunia ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang Tuhan sediakan kelak! (Roma 8:18).
Friday, April 27, 2018
DEWASA ROHANI: Berpikir Dewasa
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 April 2018
Baca: 1 Petrus 4:1-6
"Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, --karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa--," 1 Petrus 4:1
Ketika di hadapkan pada masalah atau penderitaan hidup, hal pertama yang biasanya kita lakukan adalah berpikir dan berkata-kata negatif: berkeluh-kesah, gerutu, sungut-sungut dan mengasihani diri sendiri. "Dosa apakah aku ini? Mengapa hidupku penuh masalah? Mengapa Tuhan membiarkan aku seperti ini?"
Alkitab mengajarkan kita untuk tidak berpikir negatif terlebih dahulu, melainkan ubahlah cara berpikir (mindset). Penting diingat: selama kaki kita berpijak di atas bumi ini kita takkan pernah bisa lari dari masalah atau kesulitan. Siaplah menghadapinya! Maka milikilah sikap hati yang benar dalam menyikapi permasalahan, sebab Tuhan selalu turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan! (Roma 8:28). Ada kalanya Tuhan ijinkan masalah atau penderitaan sebagai cara untuk membawa kita makin dekat kepada-Nya, tidak lagi berpaut pada kekuatan sendiri, dan semakin menjauhkan kita dari pelanggaran terhadap firman-Nya. Daud berkata, "Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu. Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu." (Mazmur 119:67, 71).
Perhatikan nasihat Rasul Paulus ini: "Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!" (1 Korintus 14:20a). Orang percaya dituntut untuk menjadi dewasa dalam berpikir maupun bertindak. Orang yang dewasa rohani pasti sanggup menghadapi masalah atau kesulitan hdiup dengan pemikiran yang dewasa pula, di mana ia mampu membedakan mana yang baik dan berkenan kepada Tuhan: tidak lagi suka mengeluh, tidak lagi suka ngambek, tidak lagi suka marah-marah, tidak lagi suka menyalahkan orang lain atau keadaan, tidak mudah berputus asa atau mengasihani diri sendiri. Rasul Paulus berkata: "Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu." (1 Korintus 13:11).
Masalah atau penderitaan adalah proses yang menuntun kepada kedewasaan rohani!
Baca: 1 Petrus 4:1-6
"Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, --karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa--," 1 Petrus 4:1
Ketika di hadapkan pada masalah atau penderitaan hidup, hal pertama yang biasanya kita lakukan adalah berpikir dan berkata-kata negatif: berkeluh-kesah, gerutu, sungut-sungut dan mengasihani diri sendiri. "Dosa apakah aku ini? Mengapa hidupku penuh masalah? Mengapa Tuhan membiarkan aku seperti ini?"
Alkitab mengajarkan kita untuk tidak berpikir negatif terlebih dahulu, melainkan ubahlah cara berpikir (mindset). Penting diingat: selama kaki kita berpijak di atas bumi ini kita takkan pernah bisa lari dari masalah atau kesulitan. Siaplah menghadapinya! Maka milikilah sikap hati yang benar dalam menyikapi permasalahan, sebab Tuhan selalu turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan! (Roma 8:28). Ada kalanya Tuhan ijinkan masalah atau penderitaan sebagai cara untuk membawa kita makin dekat kepada-Nya, tidak lagi berpaut pada kekuatan sendiri, dan semakin menjauhkan kita dari pelanggaran terhadap firman-Nya. Daud berkata, "Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu. Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu." (Mazmur 119:67, 71).
Perhatikan nasihat Rasul Paulus ini: "Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!" (1 Korintus 14:20a). Orang percaya dituntut untuk menjadi dewasa dalam berpikir maupun bertindak. Orang yang dewasa rohani pasti sanggup menghadapi masalah atau kesulitan hdiup dengan pemikiran yang dewasa pula, di mana ia mampu membedakan mana yang baik dan berkenan kepada Tuhan: tidak lagi suka mengeluh, tidak lagi suka ngambek, tidak lagi suka marah-marah, tidak lagi suka menyalahkan orang lain atau keadaan, tidak mudah berputus asa atau mengasihani diri sendiri. Rasul Paulus berkata: "Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu." (1 Korintus 13:11).
Masalah atau penderitaan adalah proses yang menuntun kepada kedewasaan rohani!
Thursday, April 26, 2018
MELAYANI TUHAN: Hidup Selaras Firman
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 April 2018
Baca: 1 Timotius 3:1-7
"Benarlah perkataan ini: 'Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah.'" 1 Timotius 3:1
Tidak semua orang percaya dipanggil untuk melayani Tuhan sebagai full timer di gereja, namun setiap kita dipanggil untuk melayani Tuhan di mana pun kita berada dan apa pun profesi kita. Inilah panggilan Tuhan bagi orang percaya! Melayani Tuhan itu bukan berbicara tentang apa karunia kita dan juga apa jabatan kita di gereja. Melayani Tuhan juga bukan bertujuan sekedar mengembangkan potensi yang dimiliki, melainkan haruslah timbul dari hati orang yang menyadari bahwa hidupnya telah ditebus dan diselamatkan oleh Kristus, sehingga ia memiliki kerinduan yang besar untuk membalas kasih Tuhan dengan mempersembahkan hidup bagi-Nya (Roma 12:1).
Apalah artinya seseorang tampak sibuk melakukan kegiatan-kegiatan rohani di gereja namun hidupnya tidak mencerminkan orang yang sedang melayani Tuhan? Inti kehidupan Kristen adalah bagaimana kita bisa menyenangkan hati Tuhan dan bagaimana hidup kita bisa menjadi garam dan terang dunia (Matius 5:13-16). Karena itu orang yang melayani Tuhan haruslah memiliki standar hidup yang berbeda yaitu hidup berkenan kepada Tuhan: "...haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang," (1 Timotius 3:2-3).
Tak kalah penting, hidup orang yang melayani Tuhan harus terpancar terlebih dahulu dalam kehidupan keluarga sebagai komunitas terkecil untuk memraktekkan kasih dan nilai-nilai kebenaran. "...seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?" (1 Timotius 3:4-5).
Ternyata bukan perkara mudah melayani Tuhan! Selain harus punya kehidupan yang berkenan kepada Tuhan, kita juga harus siap menghadapi tantangan! Siapakah kita?
Baca: 1 Timotius 3:1-7
"Benarlah perkataan ini: 'Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah.'" 1 Timotius 3:1
Tidak semua orang percaya dipanggil untuk melayani Tuhan sebagai full timer di gereja, namun setiap kita dipanggil untuk melayani Tuhan di mana pun kita berada dan apa pun profesi kita. Inilah panggilan Tuhan bagi orang percaya! Melayani Tuhan itu bukan berbicara tentang apa karunia kita dan juga apa jabatan kita di gereja. Melayani Tuhan juga bukan bertujuan sekedar mengembangkan potensi yang dimiliki, melainkan haruslah timbul dari hati orang yang menyadari bahwa hidupnya telah ditebus dan diselamatkan oleh Kristus, sehingga ia memiliki kerinduan yang besar untuk membalas kasih Tuhan dengan mempersembahkan hidup bagi-Nya (Roma 12:1).
Apalah artinya seseorang tampak sibuk melakukan kegiatan-kegiatan rohani di gereja namun hidupnya tidak mencerminkan orang yang sedang melayani Tuhan? Inti kehidupan Kristen adalah bagaimana kita bisa menyenangkan hati Tuhan dan bagaimana hidup kita bisa menjadi garam dan terang dunia (Matius 5:13-16). Karena itu orang yang melayani Tuhan haruslah memiliki standar hidup yang berbeda yaitu hidup berkenan kepada Tuhan: "...haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang," (1 Timotius 3:2-3).
Tak kalah penting, hidup orang yang melayani Tuhan harus terpancar terlebih dahulu dalam kehidupan keluarga sebagai komunitas terkecil untuk memraktekkan kasih dan nilai-nilai kebenaran. "...seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?" (1 Timotius 3:4-5).
Ternyata bukan perkara mudah melayani Tuhan! Selain harus punya kehidupan yang berkenan kepada Tuhan, kita juga harus siap menghadapi tantangan! Siapakah kita?
Wednesday, April 25, 2018
MILIKILAH HIDUP YANG SOPAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 April 2018
Baca: 1 Tesalonika 4:1-12
"...sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka." 1 Tesalonika 4:12
Kita pasti senang ketika melihat ada orang yang sopan. Sebaliknya kita akan mengelus dada jika melihat ada orang yang berlaku norak, tidak punya sopan santun. Secara umum arti kata 'sopan' adalah hormat, tertib menurut adat yang baik, baik budi bahasa dan sebagainya. Sikap inilah yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya! Orang percaya yang berlaku tidak sopan hanya akan menjadi cemoohan, batu sandungan bagi orang lain dan mempermalukan nama Tuhan. "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia..." (1 Petrus 1:18), supaya kita memiliki kehidupan yang berbeda dengan dunia. Sepatutnya kita merasa malu jika melakukan perbuatan-perbuatan yang tak sopan, malu hidup dengan cara-cara dunia.
Berlaku hidup sopan berarti hidup dalam kekudusan, "...Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu," (1 Tesalonika 4:3). Hidup kudus adalah kehendak Tuhan yang tidak bisa ditawar lagi. "...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:15-16). Orang berlaku tidak sopan karena hidupnya dikendalikan oleh nafsu kedagingannya, sedangkan hidup Kristiani adalah hidup yang dikendalikan dan dikontrol oleh Roh Kudus. Rasul Paulus menasihati, "...hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki." (Galatia 5:16-17).
Berlaku hidup sopan adalah hidup tenang, tidak suka ribut, tidak menyampuri urusan orang lain, dan bukan pemalas. "Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu," (1 Tesalonika 4:11). Bagaimana bisa menjadi berkat dan terang bagi dunia, jika dalam hidup keseharian kita berlaku sangat tidak sopan?
Di mana pun berada dan kapan pun waktunya kita harus bisa menjaga perkataan dan perbuatan kita sesuai firman Tuhan!
Baca: 1 Tesalonika 4:1-12
"...sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka." 1 Tesalonika 4:12
Kita pasti senang ketika melihat ada orang yang sopan. Sebaliknya kita akan mengelus dada jika melihat ada orang yang berlaku norak, tidak punya sopan santun. Secara umum arti kata 'sopan' adalah hormat, tertib menurut adat yang baik, baik budi bahasa dan sebagainya. Sikap inilah yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya! Orang percaya yang berlaku tidak sopan hanya akan menjadi cemoohan, batu sandungan bagi orang lain dan mempermalukan nama Tuhan. "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia..." (1 Petrus 1:18), supaya kita memiliki kehidupan yang berbeda dengan dunia. Sepatutnya kita merasa malu jika melakukan perbuatan-perbuatan yang tak sopan, malu hidup dengan cara-cara dunia.
Berlaku hidup sopan berarti hidup dalam kekudusan, "...Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu," (1 Tesalonika 4:3). Hidup kudus adalah kehendak Tuhan yang tidak bisa ditawar lagi. "...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:15-16). Orang berlaku tidak sopan karena hidupnya dikendalikan oleh nafsu kedagingannya, sedangkan hidup Kristiani adalah hidup yang dikendalikan dan dikontrol oleh Roh Kudus. Rasul Paulus menasihati, "...hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki." (Galatia 5:16-17).
Berlaku hidup sopan adalah hidup tenang, tidak suka ribut, tidak menyampuri urusan orang lain, dan bukan pemalas. "Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu," (1 Tesalonika 4:11). Bagaimana bisa menjadi berkat dan terang bagi dunia, jika dalam hidup keseharian kita berlaku sangat tidak sopan?
Di mana pun berada dan kapan pun waktunya kita harus bisa menjaga perkataan dan perbuatan kita sesuai firman Tuhan!
Tuesday, April 24, 2018
BERKAT ABRAHAM: Berkat Orang Percaya (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 April 2018
Baca: Roma 4:1-25
"...dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan." Roma 4:21
Kebimbangan adalah musuh iman! Orang yang bimbang tak akan menerima sesuatu dari Tuhan (Yakobus 1:6-7). Jika sampai detik ini kita belum mengalami penggenapan janji Tuhan, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengoreksi diri, mungkin selama ini kita tidak sepenuhnya percaya kepada Tuhan, alias bimbang. Abraham, selain tidak bimbang, memiliki keyakinan penuh bahwa Tuhan sanggup melaksanakan janji-Nya (ayat nas): "Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana:" (Yesaya 14:24). Karena itu ia membuang segala ketakutan dan kekuatiran, terus berpegang teguh kepada janji Tuhan. Bagi Tuhan memberikan keturunan kepada Abraham adalah hal yang sungguh teramat mudah.
Tentang janji Tuhan, pemazmur menulis: "Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah." (Mazmur 12:7). Nabi Yesaya menuturkan, "Oleh perjalananmu yang jauh engkau sudah letih lesu, tetapi engkau tidak berkata: 'Tidak ada harapan!' Engkau mendapat kekuatan yang baru, dan sebab itu engkau tidak menjadi lemah." (Yesaya 57:10). Tuhan tidak pernah main-main dengan janji-Nya, Ia membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya.
Mungkin saat ini Saudara sedang mengalami pergumulan hidup yang berat dan merasa jenuh, bosan, putus asa. Hari ini firman Tuhan mengingatkan untuk terus menerus bertekun menanti-nantikan Tuhan. "...orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah." (Yesaya 40:31). Milikilah keyakinan penuh bahwa Tuhan sanggup melakukan segala perkara. "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9).
"Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah." Galatia 3:29
Baca: Roma 4:1-25
"...dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan." Roma 4:21
Kebimbangan adalah musuh iman! Orang yang bimbang tak akan menerima sesuatu dari Tuhan (Yakobus 1:6-7). Jika sampai detik ini kita belum mengalami penggenapan janji Tuhan, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengoreksi diri, mungkin selama ini kita tidak sepenuhnya percaya kepada Tuhan, alias bimbang. Abraham, selain tidak bimbang, memiliki keyakinan penuh bahwa Tuhan sanggup melaksanakan janji-Nya (ayat nas): "Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana:" (Yesaya 14:24). Karena itu ia membuang segala ketakutan dan kekuatiran, terus berpegang teguh kepada janji Tuhan. Bagi Tuhan memberikan keturunan kepada Abraham adalah hal yang sungguh teramat mudah.
Tentang janji Tuhan, pemazmur menulis: "Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah." (Mazmur 12:7). Nabi Yesaya menuturkan, "Oleh perjalananmu yang jauh engkau sudah letih lesu, tetapi engkau tidak berkata: 'Tidak ada harapan!' Engkau mendapat kekuatan yang baru, dan sebab itu engkau tidak menjadi lemah." (Yesaya 57:10). Tuhan tidak pernah main-main dengan janji-Nya, Ia membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya.
Mungkin saat ini Saudara sedang mengalami pergumulan hidup yang berat dan merasa jenuh, bosan, putus asa. Hari ini firman Tuhan mengingatkan untuk terus menerus bertekun menanti-nantikan Tuhan. "...orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah." (Yesaya 40:31). Milikilah keyakinan penuh bahwa Tuhan sanggup melakukan segala perkara. "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9).
"Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah." Galatia 3:29
Monday, April 23, 2018
BERKAT ABRAHAM: Berkat Orang Percaya (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 April 2018
Baca: Roma 4:1-25
"Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Roma 4:18
Tuhan berjanji kepada Abraham bahwa Ia akan memberinya keturunan. Alkitab menyebutkan bahwa keturunan Abraham akan seperti debu tanah banyaknya dan juga seperti bintang-bintang yang bertebaran di langit, seperti tertulis: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: 'Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.'" (Kejadian 15:5). Tuhan menegaskan hal ini beberapa kali kepada Abraham dan ketika menerima janji tersebut usia Abraham sudah sangat lanjut, isterinya pun telah tertutup rahimnya. Secara manusia dan ditinjau dari sudut medis mustahil baginya untuk bisa memiliki keturunan. Tidaklah mengherankan jika mereka sempat tertawa ketika mendengar janji Tuhan ini!
Tuhan berfirman, "Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki." (Kejadian 18:14). Tuhan menggenapi janji-Nya: "Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya. Abraham menamai anaknya yang baru lahir itu Ishak, yang dilahirkan Sara baginya." (Kejadian 21:2-3). Tak mudah mengalami penggenapan janji Tuhan ini karena Abraham harus menunggu bertahun-tahun. Dua puluh lima tahun menanti bukanlah waktu yang singkat!
Banyak orang gagal menikmati janji Tuhan karena tak sabar menantikan waktu-Nya. Penting sekali kita belajar dari Abraham yang mampu memegang teguh janji Tuhan sekalipun harus melewati proses panjang. Alkitab menyatakan, "...terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah," (Roma 4:20). Abraham tidakbimbang terhadap janji Tuhan, meski secara kasat mata situasi atau keadaan tidak mendukung sama sekali. "...maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." (Kejadian 15:6).
Tidak bimbang berarti percaya penuh kepada Tuhan!
Baca: Roma 4:1-25
"Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Roma 4:18
Tuhan berjanji kepada Abraham bahwa Ia akan memberinya keturunan. Alkitab menyebutkan bahwa keturunan Abraham akan seperti debu tanah banyaknya dan juga seperti bintang-bintang yang bertebaran di langit, seperti tertulis: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: 'Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.'" (Kejadian 15:5). Tuhan menegaskan hal ini beberapa kali kepada Abraham dan ketika menerima janji tersebut usia Abraham sudah sangat lanjut, isterinya pun telah tertutup rahimnya. Secara manusia dan ditinjau dari sudut medis mustahil baginya untuk bisa memiliki keturunan. Tidaklah mengherankan jika mereka sempat tertawa ketika mendengar janji Tuhan ini!
Tuhan berfirman, "Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki." (Kejadian 18:14). Tuhan menggenapi janji-Nya: "Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya. Abraham menamai anaknya yang baru lahir itu Ishak, yang dilahirkan Sara baginya." (Kejadian 21:2-3). Tak mudah mengalami penggenapan janji Tuhan ini karena Abraham harus menunggu bertahun-tahun. Dua puluh lima tahun menanti bukanlah waktu yang singkat!
Banyak orang gagal menikmati janji Tuhan karena tak sabar menantikan waktu-Nya. Penting sekali kita belajar dari Abraham yang mampu memegang teguh janji Tuhan sekalipun harus melewati proses panjang. Alkitab menyatakan, "...terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah," (Roma 4:20). Abraham tidakbimbang terhadap janji Tuhan, meski secara kasat mata situasi atau keadaan tidak mendukung sama sekali. "...maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." (Kejadian 15:6).
Tidak bimbang berarti percaya penuh kepada Tuhan!
Subscribe to:
Comments (Atom)