Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Februari 2018
Baca: Markus 5:1-20
"Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala
apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi
heran." Markus 5:20
Dalam renungan beberapa waktu yang lalu dijelaskan bahwa keberadaan orang percaya di tengah dunia adalah sebagai surat Kristus atau menjadi saksi-saksi Kristus. Kita semua tahu bahwa tugas seorang saksi adalah memberi kesaksian atas apa yang dialami, dilihat, dan dirasakannya secara pribadi. Setelah dibebaskan dari belenggu kuasa roh jahat, orang Gerasa itu berkeinginan untuk mengikuti ke mana Tuhan pergi, tapi Ia tidak memperkenankannya. Tuhan memerintahkan orang itu untuk pulang ke rumah dan bersaksi tentang mujizat yang dialaminya dan ia melakukan apa yang Tuhan perintahkan: "Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala
apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi
heran." (ayat nas).
Kesaksian yang benar adalah senjata yang ampuh untuk memberitakan tentang Kristus dan kuasa-Nya. Melalui kesaksian yang disampaikan, orang lain yang mendengarnya beroleh kekuatan, semangat, motivasi dan penghiburan, sehingga mereka semakin berkeyakinan bahwa dalam segala perkara Tuhan turut bekerja. Namun sering ditemui ada banyak orang Kristen yang begitu pandai bersaksi tetapi mereka tidak menjadikan hidupnya sebagai saksi yang benar, padahal menjadi saksi berarti kita memperlihatkan kehidupan kekristenan yang mampu menjadi teladan dan berkat di mana pun berada. Kita sering mendengar pula ada banyak kesaksian-kesaksian yang disampaikan oleh para jemaat atau hamba Tuhan yang inti kesaksiannya tidak lagi memberitakan tentang Kristus dan pekerjaan-Nya, tetapi mereka malah menceritakan tentang pribadi sendiri atau menonjolkan diri sendiri, padahal inti dari sebuah kesaksian seharusnya adalah menceritakan bagaimana Tuhan turut campur tangan dalam setiap permasalahan, bagaimana Tuhan sanggup membuka jalan saat tiada jalan.
Di sepanjang perjalanan hidup ini tak terhitung banyaknya kita mengalami pertolongan dari Tuhan: disembuhkan dari sakit-penyakit, dipulihkan dari keterpurukan ekonomi dan sebagainya. Sudahkah hal itu kita saksikan kepada orang lain?
Setiap saksi Kristus pasti akan senang dan rela hati membagikan kesaksian hidupnya bersama Tuhan kepada semua orang di setiap kesempatan.
Thursday, February 8, 2018
Wednesday, February 7, 2018
BERSAKSI: Memberitakan Kristus dan Karya-Nya (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Februari 2018
Baca: Markus 5:1-20
"Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!" Markus 5:19
Perikop dari pembacaan firman hari ini adalah Tuhan Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa. Alkitab menyatakan: "...tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorangpun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu." (ayat 3-5). Dan ketika melihat Tuhan Yesus dari kejauhan, orang yang dirasuki oleh roh jahat itu berlari dan sujud menyembah-Nya. "Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!" (ayat 7). Hal itu terjadi karena sebelumnya Tuhan Yesus telah mengusirnya: "Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!" (ayat 8).
Ketika Tuhan Yesus bertanya: "'Siapa namamu?' Jawabnya: 'Namaku Legion, karena kami banyak.'" (ayat 9). Legion adalah sebutan untuk tentara Romawi yang ditata menurut pasukan, atau legiun dari 4000 dan 6000 prajurit, tiap legiun terdiri dari 10 kelompok. Artinya ada sejumlah besar roh jahat yang selama ini menguasai orang Gerasa tersebut! Roh-roh jahat itu meminta kepada Tuhan agar mereka dipindahkan ke dalam kawanan babi dan Tuhan mengabulkan permintaan mereka dan akhirnya roh-roh jahat itu memasuki babi-babi itu, lalu kawanan babi tersebut terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati (ayat 13).
Setelah melihat peristiwa itu para penjaga babi itu pun lari dan menceritakan apa yang telah dilihatnya itu kepada semua orang, sehingga mereka terdorong untuk melihat secara langsung bahwa orang Gerasa yang kerasukan roh legiun itu telah sembuh. Berita itu segera tersebar ke mana-mana, karena masing-masing orang tidak bisa menahan bibirnya untuk bercerita kepada yang lain; dan karena takutnya, orang banyak itu mendesak Tuhan Yesus untuk segera meninggalkan daerah mereka!
Dalam Kristus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi (Filipi 2:10).
Baca: Markus 5:1-20
"Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!" Markus 5:19
Perikop dari pembacaan firman hari ini adalah Tuhan Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa. Alkitab menyatakan: "...tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorangpun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu." (ayat 3-5). Dan ketika melihat Tuhan Yesus dari kejauhan, orang yang dirasuki oleh roh jahat itu berlari dan sujud menyembah-Nya. "Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!" (ayat 7). Hal itu terjadi karena sebelumnya Tuhan Yesus telah mengusirnya: "Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!" (ayat 8).
Ketika Tuhan Yesus bertanya: "'Siapa namamu?' Jawabnya: 'Namaku Legion, karena kami banyak.'" (ayat 9). Legion adalah sebutan untuk tentara Romawi yang ditata menurut pasukan, atau legiun dari 4000 dan 6000 prajurit, tiap legiun terdiri dari 10 kelompok. Artinya ada sejumlah besar roh jahat yang selama ini menguasai orang Gerasa tersebut! Roh-roh jahat itu meminta kepada Tuhan agar mereka dipindahkan ke dalam kawanan babi dan Tuhan mengabulkan permintaan mereka dan akhirnya roh-roh jahat itu memasuki babi-babi itu, lalu kawanan babi tersebut terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati (ayat 13).
Setelah melihat peristiwa itu para penjaga babi itu pun lari dan menceritakan apa yang telah dilihatnya itu kepada semua orang, sehingga mereka terdorong untuk melihat secara langsung bahwa orang Gerasa yang kerasukan roh legiun itu telah sembuh. Berita itu segera tersebar ke mana-mana, karena masing-masing orang tidak bisa menahan bibirnya untuk bercerita kepada yang lain; dan karena takutnya, orang banyak itu mendesak Tuhan Yesus untuk segera meninggalkan daerah mereka!
Dalam Kristus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi (Filipi 2:10).
Tuesday, February 6, 2018
TAK KUASA MENGEKANG LIDAH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Februari 2018
Baca: Matius 12:33-37
"Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman." Matius 12:36
Di akhir zaman ini Iblis juga sedang gencar melancarkan serangannya terhadap gereja Tuhan yaitu dengan cara mengambil kontrol atas lidah jemaat melalui gosip, fitnah, dusta, tipu muslihat dan segala macam perkataan jahat lainnya, supaya jemaat Tuhan saling berselisih, bertengkar, bermusuhan, mengkritik, sehingga terjadi perpecahan. Iblis tahu benar bahwa bila tidak ada kesatuan di antara jemaat, gereja pasti akan menjadi lemah. "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan." (Matius 12:25).
Karena itu Rasul Paulus mendesak jemaat di Efesus: "Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan." (Efesus 4:31). Banyak orang Kristen tidak disiplin, lalai dan menganggap sepele pentingnya menjaga lidah atau ucapan. Mereka mudah sekali menggemakan perkataan-perkataan negatif alias tak kuasa mengekang lidahnya. Hal itu menandakan bahwa mereka sama sekali tidak berusaha mengontrol atau menundukkan lidah mereka di bawah pimpinan Roh Kudus. Tidaklah mengherankan, meski tampak rajin beribadah, atau mungkin sudah terlibat aktif dalam pelayanan, pada saat yang sama mereka masih saja suka menggosip, memfitnah, mengumpat atau berkata-kata kasar tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Mereka tidak menyadari bahwa ucapan-ucapan tersebut bisa mendatangkan kutuk atas diri sendiri. "Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." (Matius 12:37). Rasul Yakobus mengatakan bahwa jika ada orang tidak bisa mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri dan ibadah yang dilakukannya pun menjadi sia-sia (Yakobus 1:26). Selama kita masih belum mampu mengekang lidah dari perkataan-perkataan yang negatif, kita masih belum mampu menyalibkan keinginan daging!
"Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;" Mazmur 34:13-14
Baca: Matius 12:33-37
"Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman." Matius 12:36
Di akhir zaman ini Iblis juga sedang gencar melancarkan serangannya terhadap gereja Tuhan yaitu dengan cara mengambil kontrol atas lidah jemaat melalui gosip, fitnah, dusta, tipu muslihat dan segala macam perkataan jahat lainnya, supaya jemaat Tuhan saling berselisih, bertengkar, bermusuhan, mengkritik, sehingga terjadi perpecahan. Iblis tahu benar bahwa bila tidak ada kesatuan di antara jemaat, gereja pasti akan menjadi lemah. "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan." (Matius 12:25).
Karena itu Rasul Paulus mendesak jemaat di Efesus: "Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan." (Efesus 4:31). Banyak orang Kristen tidak disiplin, lalai dan menganggap sepele pentingnya menjaga lidah atau ucapan. Mereka mudah sekali menggemakan perkataan-perkataan negatif alias tak kuasa mengekang lidahnya. Hal itu menandakan bahwa mereka sama sekali tidak berusaha mengontrol atau menundukkan lidah mereka di bawah pimpinan Roh Kudus. Tidaklah mengherankan, meski tampak rajin beribadah, atau mungkin sudah terlibat aktif dalam pelayanan, pada saat yang sama mereka masih saja suka menggosip, memfitnah, mengumpat atau berkata-kata kasar tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Mereka tidak menyadari bahwa ucapan-ucapan tersebut bisa mendatangkan kutuk atas diri sendiri. "Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." (Matius 12:37). Rasul Yakobus mengatakan bahwa jika ada orang tidak bisa mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri dan ibadah yang dilakukannya pun menjadi sia-sia (Yakobus 1:26). Selama kita masih belum mampu mengekang lidah dari perkataan-perkataan yang negatif, kita masih belum mampu menyalibkan keinginan daging!
"Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;" Mazmur 34:13-14
Monday, February 5, 2018
UCAPAN KITA MENENTUKAN HIDUP KITA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Februari 2018
Baca: Amsal 21:1-31
"Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran." Amsal 21:23
Serangan yang dilancarkan Iblis terhadap orang percaya di tengah kehidupan yang penuh problematika ini adalah mengontrol lidah mereka agar selalu mengucapkan perkataan-perkataan yang negatif. Tujuannya supaya orang percaya gagal menikmati janji Tuhan. Hal itulah yang ditanamkan Iblis pada lidah sepuluh pengintai, supaya dengan memberikan laporan yang negatif semua orang yang mendengarnya menjadi tawar hati.
Ada banyak orang Kristen hidup dalam kekalahan setiap hari oleh karena mereka tak mampu menahan lidahnya dari terus menggemakan ucapan-ucapan negatif yang menyatakan rasa takut, kuatir, ragu, tak bisa, tidak percaya dan mustahil. Padahal firman Tuhan jelas menyatakan bahwa "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21). Setiapkali masalah datang, yang biasa mereka lakukan adalah bersungut-sungut dan mengeluh. Ketika menderita sakit mereka tak berhenti mengeluhkan rasa sakit yang dialami, mengeluhkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk berobat dan terus mengkhawatirkan hasil pemeriksaan dokter, bukannya mengucapkan perkataan iman yang membangkitkan semangat bahwa tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan, atau mengamini ayat firman Tuhan yang berkata: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita." (Matius 8:17), dan "Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh." (1 Petrus 2:24b).
Ketika mengalami masalah keuangan kita lupa bahwa Tuhan kita adalah Jehovah Jireh, kita terus mengeluhkan ketidakmampuan dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Imanilah apa yang rasul Paulus katakan: "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:19). Lupakah Saudara dengan kisah-kisah ini? Elia dipelihara Tuhan di tepi sungai Kerit; mujizat yang dialami oleh janda Sarfat; lima roti dan dua ikan sanggup mengenyangkan lima ribu orang dan masih tersisa 12 bakul; wanita yang menderita pendarahan selama 12 tahun menjadi sembuh, hanya dengan menjamah jumbai jubah Tuhan.
Dalam menghadapi masalah, apakah kita memperkatakan firman Tuhan yang mendatangkan berkat, ataukah perkataan negatif yang mendatangkan kesukaran?
Baca: Amsal 21:1-31
"Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran." Amsal 21:23
Serangan yang dilancarkan Iblis terhadap orang percaya di tengah kehidupan yang penuh problematika ini adalah mengontrol lidah mereka agar selalu mengucapkan perkataan-perkataan yang negatif. Tujuannya supaya orang percaya gagal menikmati janji Tuhan. Hal itulah yang ditanamkan Iblis pada lidah sepuluh pengintai, supaya dengan memberikan laporan yang negatif semua orang yang mendengarnya menjadi tawar hati.
Ada banyak orang Kristen hidup dalam kekalahan setiap hari oleh karena mereka tak mampu menahan lidahnya dari terus menggemakan ucapan-ucapan negatif yang menyatakan rasa takut, kuatir, ragu, tak bisa, tidak percaya dan mustahil. Padahal firman Tuhan jelas menyatakan bahwa "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21). Setiapkali masalah datang, yang biasa mereka lakukan adalah bersungut-sungut dan mengeluh. Ketika menderita sakit mereka tak berhenti mengeluhkan rasa sakit yang dialami, mengeluhkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk berobat dan terus mengkhawatirkan hasil pemeriksaan dokter, bukannya mengucapkan perkataan iman yang membangkitkan semangat bahwa tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan, atau mengamini ayat firman Tuhan yang berkata: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita." (Matius 8:17), dan "Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh." (1 Petrus 2:24b).
Ketika mengalami masalah keuangan kita lupa bahwa Tuhan kita adalah Jehovah Jireh, kita terus mengeluhkan ketidakmampuan dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Imanilah apa yang rasul Paulus katakan: "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:19). Lupakah Saudara dengan kisah-kisah ini? Elia dipelihara Tuhan di tepi sungai Kerit; mujizat yang dialami oleh janda Sarfat; lima roti dan dua ikan sanggup mengenyangkan lima ribu orang dan masih tersisa 12 bakul; wanita yang menderita pendarahan selama 12 tahun menjadi sembuh, hanya dengan menjamah jumbai jubah Tuhan.
Dalam menghadapi masalah, apakah kita memperkatakan firman Tuhan yang mendatangkan berkat, ataukah perkataan negatif yang mendatangkan kesukaran?
Sunday, February 4, 2018
JANGANLAH MEMBERONTAK KEPADA TUHAN (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Februari 2018
Baca: Bilangan 14:1-38
"Bahwasanya kamu ini tidak akan masuk ke negeri yang dengan mengangkat sumpah telah Kujanjikan akan Kuberi kamu diami, kecuali Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun!" Bilangan 14:30
Sepuluh pengintai yang diutus Musa memberikan laporan yang negatif. Berbeda dengan Yosua dan Kaleb yang justru memberikan laporan yang bermuatan iman: "Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (Bilangan 13:30). Mendengar pernyataan kedua orang itu rakyat Israel bukannya mengamini, sebaliknya malah hendak melempari keduanya dengan batu. Mendengar ketidakpercayaan mereka Yosua dan Kaleb pun kembali menegaskan: "Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka." (Bilangan 14:7-9).
Karena lebih memercayai laporan negatif dari sepuluh pengintai, mereka terus menggemakan persungutan dan keluh kesah sebagai tanda ketidakpercayaan kepada Tuhan. Di mata Tuhan apa yang mereka lakukan adalah sebuah pemberontakan. Tuhan pun menjadi geram! "Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka! Aku akan memukul mereka dengan penyakit sampar dan melenyapkan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari pada mereka." (Bilangan 14:11-12).
Musa berusaha melunakkan hati Tuhan dan memohon pengampunan: "Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari. Berfirmanlah TUHAN: 'Aku mengampuninya sesuai dengan permintaanmu.'" (Bilangan 14:11-12).
Bagaimanapun juga setiap ketidaktaatan dan pemberontakan selalu mendatangkan akibat, yaitu mereka gagal masuk ke Tanah Perjanjian!
Baca: Bilangan 14:1-38
"Bahwasanya kamu ini tidak akan masuk ke negeri yang dengan mengangkat sumpah telah Kujanjikan akan Kuberi kamu diami, kecuali Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun!" Bilangan 14:30
Sepuluh pengintai yang diutus Musa memberikan laporan yang negatif. Berbeda dengan Yosua dan Kaleb yang justru memberikan laporan yang bermuatan iman: "Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (Bilangan 13:30). Mendengar pernyataan kedua orang itu rakyat Israel bukannya mengamini, sebaliknya malah hendak melempari keduanya dengan batu. Mendengar ketidakpercayaan mereka Yosua dan Kaleb pun kembali menegaskan: "Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka." (Bilangan 14:7-9).
Karena lebih memercayai laporan negatif dari sepuluh pengintai, mereka terus menggemakan persungutan dan keluh kesah sebagai tanda ketidakpercayaan kepada Tuhan. Di mata Tuhan apa yang mereka lakukan adalah sebuah pemberontakan. Tuhan pun menjadi geram! "Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka! Aku akan memukul mereka dengan penyakit sampar dan melenyapkan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari pada mereka." (Bilangan 14:11-12).
Musa berusaha melunakkan hati Tuhan dan memohon pengampunan: "Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari. Berfirmanlah TUHAN: 'Aku mengampuninya sesuai dengan permintaanmu.'" (Bilangan 14:11-12).
Bagaimanapun juga setiap ketidaktaatan dan pemberontakan selalu mendatangkan akibat, yaitu mereka gagal masuk ke Tanah Perjanjian!
Saturday, February 3, 2018
JANGANLAH MEMBERONTAK KEPADA TUHAN (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Februari 2018
Baca: Bilangan 14:1-38
"Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: 'Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini!'" Bilangan 14:2
Sesudah melakukan pengintaian 40 hari lamanya sepuluh pengintai memberikan laporannya: "Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita... Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami." (Bilangan 13:31-33). Reaksi umat Israel atas laporan tersebut adalah menerima, kemudian bersungut-sungut dan mengeluh. Bahkan berani menyalahkan Tuhan: "'Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?' Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: 'Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.'" (Bilangan 14:3-4).
Tuhan telah berjanji kepada umat Israel bahwa Ia akan memberikan tanah Kanaan sebagai warisan dan akan menghalau semua musuh yang menghalanginya. Namun begitu mendengar laporan yang melemahkan, perhatian mereka langsung tertuju kepada situasi, kesulitan atau tantangan, bukannya berpegang teguh kepada apa yang Tuhan janjikan. Akhirnya mereka menjadi tawar hati! "Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu." (Amsal 24:10). Mulailah mereka mengucapkan perkataan-perkataan yang menunjukkan ketakutan, kekuatiran, keraguan dan ketidakpercayaan terhadap janji Tuhan. Yang terbayang hanyalah ketidakmampuan dan kekalahan. Mereka lupa begitu saja dengan pekerjaan Tuhan yang heran dan mujizat yang telah Tuhan kerjakan di sepanjang perjalanannya ke luar dari tanah Mesir.
Mereka tidak menyadari bahwa dengan mengucapkan perkataan-perkataan yang negatif berarti mereka sedang membatasi kuasa Tuhan bekerja.
Bersungut-sungut dan mengeluh adalah tanda orang tidak percaya akan kuasa Tuhan!
Baca: Bilangan 14:1-38
"Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: 'Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini!'" Bilangan 14:2
Sesudah melakukan pengintaian 40 hari lamanya sepuluh pengintai memberikan laporannya: "Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita... Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami." (Bilangan 13:31-33). Reaksi umat Israel atas laporan tersebut adalah menerima, kemudian bersungut-sungut dan mengeluh. Bahkan berani menyalahkan Tuhan: "'Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?' Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: 'Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.'" (Bilangan 14:3-4).
Tuhan telah berjanji kepada umat Israel bahwa Ia akan memberikan tanah Kanaan sebagai warisan dan akan menghalau semua musuh yang menghalanginya. Namun begitu mendengar laporan yang melemahkan, perhatian mereka langsung tertuju kepada situasi, kesulitan atau tantangan, bukannya berpegang teguh kepada apa yang Tuhan janjikan. Akhirnya mereka menjadi tawar hati! "Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu." (Amsal 24:10). Mulailah mereka mengucapkan perkataan-perkataan yang menunjukkan ketakutan, kekuatiran, keraguan dan ketidakpercayaan terhadap janji Tuhan. Yang terbayang hanyalah ketidakmampuan dan kekalahan. Mereka lupa begitu saja dengan pekerjaan Tuhan yang heran dan mujizat yang telah Tuhan kerjakan di sepanjang perjalanannya ke luar dari tanah Mesir.
Mereka tidak menyadari bahwa dengan mengucapkan perkataan-perkataan yang negatif berarti mereka sedang membatasi kuasa Tuhan bekerja.
Bersungut-sungut dan mengeluh adalah tanda orang tidak percaya akan kuasa Tuhan!
Friday, February 2, 2018
TAK SEKALI PUN TUHAN INGKAR JANJI (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Februari 2018
Baca: Bilangan 24:1-9
"Allah, yang membawa mereka keluar dari Mesir, adalah bagi mereka seperti tanduk kekuatan lembu hutan. Bangsa-bangsa yang menjadi lawannya akan ditelannya habis, dan tulang-tulang mereka akan dihancurkannya dan akan ditembaknya tembus dengan panah-panahnya." Bilangan 24:8
Tuhan telah berfirman, "Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana:" (Yesaya 14:24), dan jika Tuhan telah merancang segala sesuatu, siapakah yang dapat menggagalkannya? (Yesaya 14:27). Bileam yang pekerjaannya melakukan tenung dibuat Tuhan tak berdaya. Ia yang biasanya tergiur dengan upah kini bisa berkata, "Sekalipun Balak memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku tidak akan sanggup melanggar titah TUHAN dengan berbuat baik atau jahat atas kemauanku sendiri; apa yang akan difirmankan TUHAN, itulah yang akan kukatakan." (Bilangan 24:13). Bahkan Tuhan sanggup memakai keledai untuk memperingatkan dan menegur Bileam! Jadi, akhirnya yang keluar dari mulutnya adalah perkataan berkat atas Israel. Dengan kata lain bangsa Israel pun diluputkan dari kutuk yang diinginkan oleh raja Moab itu.
Pula, rancangan Tuhan atas hidup orang percaya adalah rancangan damai sejahtera dan masa depan penuh harapan (Yeremia 29:11) dan Ia berjanji akan memberkati, memelihara, melindungi dan menyertai kita, asalkan kita senantiasa tinggal di dalam firman-Nya.
Jika kita belum mengalami penggenapan janji Tuhan bukan berarti Tuhan ingkar atau lalai menggenapi janji-Nya. Tetaplah tekun dan setia mengerjakan apa yang menjadi bagian kita, sebab Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Tidak ada kuasa mana pun yang dapat menghalangi berkat Tuhan datang kepada kita. "...apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka." (Wahyu 3:7). Sekalipun kita berada di situasi-situasi sulit, sekalipun di sekeliling ada orang-orang yang ingin mencelakai kita, asalkan kita tetap berada di jalan Tuhan, Tuhan pasti akan membela, melindungi dan memelihara kehidupan kita.
"Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah." Mazmur 12:7
Baca: Bilangan 24:1-9
"Allah, yang membawa mereka keluar dari Mesir, adalah bagi mereka seperti tanduk kekuatan lembu hutan. Bangsa-bangsa yang menjadi lawannya akan ditelannya habis, dan tulang-tulang mereka akan dihancurkannya dan akan ditembaknya tembus dengan panah-panahnya." Bilangan 24:8
Tuhan telah berfirman, "Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana:" (Yesaya 14:24), dan jika Tuhan telah merancang segala sesuatu, siapakah yang dapat menggagalkannya? (Yesaya 14:27). Bileam yang pekerjaannya melakukan tenung dibuat Tuhan tak berdaya. Ia yang biasanya tergiur dengan upah kini bisa berkata, "Sekalipun Balak memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku tidak akan sanggup melanggar titah TUHAN dengan berbuat baik atau jahat atas kemauanku sendiri; apa yang akan difirmankan TUHAN, itulah yang akan kukatakan." (Bilangan 24:13). Bahkan Tuhan sanggup memakai keledai untuk memperingatkan dan menegur Bileam! Jadi, akhirnya yang keluar dari mulutnya adalah perkataan berkat atas Israel. Dengan kata lain bangsa Israel pun diluputkan dari kutuk yang diinginkan oleh raja Moab itu.
Pula, rancangan Tuhan atas hidup orang percaya adalah rancangan damai sejahtera dan masa depan penuh harapan (Yeremia 29:11) dan Ia berjanji akan memberkati, memelihara, melindungi dan menyertai kita, asalkan kita senantiasa tinggal di dalam firman-Nya.
Jika kita belum mengalami penggenapan janji Tuhan bukan berarti Tuhan ingkar atau lalai menggenapi janji-Nya. Tetaplah tekun dan setia mengerjakan apa yang menjadi bagian kita, sebab Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Tidak ada kuasa mana pun yang dapat menghalangi berkat Tuhan datang kepada kita. "...apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka." (Wahyu 3:7). Sekalipun kita berada di situasi-situasi sulit, sekalipun di sekeliling ada orang-orang yang ingin mencelakai kita, asalkan kita tetap berada di jalan Tuhan, Tuhan pasti akan membela, melindungi dan memelihara kehidupan kita.
"Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah." Mazmur 12:7
Thursday, February 1, 2018
TAK SEKALI PUN TUHAN INGKAR JANJI (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Februari 2018
Baca: Bilangan 23:4-30
"Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" Bilangan 23:19
Memasuki hari di bulan Februari ini kita tetap berharap kepada Tuhan agar beroleh kekuatan dalam menjalani hari demi hari. Tetapi ada banyak di antara orang Kristen yang masih bertanya-tanya dalam hati, "Benarkah Tuhan akan memulihkan dan memberkati hidupku? Benarkah janji-janji Tuhan yang tertulis di Alkitab ini akan digenapi, ataukah tak lebih dari sekedar teori?" Pertanyaan-pertanyaan yang mengindikasikan keragu-raguan, kebimbangan dan ketidakpercayaan, yang keluar dari mulut orang percaya adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu Iblis. Semakin orang ragu dan bimbang terhadap firman Tuhan semakin memuluskan jalan bagi Iblis untuk melancarkan serangan dan menghancurkan kehidupannya.
Bileam berasal dari Petor, di tepi sungai Efrat. Ia bekerja sebagai penenung dan dari pekerjaannya ini ia beroleh upah. Suatu ketika Bileam diminta oleh Balak (raja Moab) untuk mengucapkan kutuk atas bangsa Israel. Tetapi kuasa Tuhan bekerja dalam diri Bileam sehingga ia menolak secara tegas permintaan Balak ini. Ia menegaskan bahwa jika Tuhan telah memberkati bangsa Israel, tak seorang pun dapat mengubahnya: "Bagaimanakah aku menyerapah yang tidak diserapah Allah? Bagaimanakah aku mengutuk yang tidak dikutuk TUHAN?" (Bilangan 23:8), "...dan apabila Dia memberkati, maka aku tidak dapat membalikkannya." (Bilangan 23:20).
Jika Bileam mau melakukan apa yang diperintahkan oleh Balak, kemungkinan besar ia akan mendapatkan imbalan yang nilainya sangat menggiurkan. Tetapi Bileam menjawab, "Sekalipun Balak memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku tidak akan sanggup berbuat sesuatu, yang kecil atau yang besar, yang melanggar titah TUHAN, Allahku." (Bilangan 22:18). Tuhan telah berjanji kepada bangsa Israel untuk memberkati dan melindungi mereka apabila mereka mau mendengarkan firman-Nya dan hidup dalam ketaatan (Ulangan 28:1-14).
Tuhan tidak pernah ingkar dengan apa yang telah dijanjikan-Nya, jika Ia berjanji untuk memberkati, tak seorang pun dapat menggagalkan rencana-Nya!
Baca: Bilangan 23:4-30
"Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" Bilangan 23:19
Memasuki hari di bulan Februari ini kita tetap berharap kepada Tuhan agar beroleh kekuatan dalam menjalani hari demi hari. Tetapi ada banyak di antara orang Kristen yang masih bertanya-tanya dalam hati, "Benarkah Tuhan akan memulihkan dan memberkati hidupku? Benarkah janji-janji Tuhan yang tertulis di Alkitab ini akan digenapi, ataukah tak lebih dari sekedar teori?" Pertanyaan-pertanyaan yang mengindikasikan keragu-raguan, kebimbangan dan ketidakpercayaan, yang keluar dari mulut orang percaya adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu Iblis. Semakin orang ragu dan bimbang terhadap firman Tuhan semakin memuluskan jalan bagi Iblis untuk melancarkan serangan dan menghancurkan kehidupannya.
Bileam berasal dari Petor, di tepi sungai Efrat. Ia bekerja sebagai penenung dan dari pekerjaannya ini ia beroleh upah. Suatu ketika Bileam diminta oleh Balak (raja Moab) untuk mengucapkan kutuk atas bangsa Israel. Tetapi kuasa Tuhan bekerja dalam diri Bileam sehingga ia menolak secara tegas permintaan Balak ini. Ia menegaskan bahwa jika Tuhan telah memberkati bangsa Israel, tak seorang pun dapat mengubahnya: "Bagaimanakah aku menyerapah yang tidak diserapah Allah? Bagaimanakah aku mengutuk yang tidak dikutuk TUHAN?" (Bilangan 23:8), "...dan apabila Dia memberkati, maka aku tidak dapat membalikkannya." (Bilangan 23:20).
Jika Bileam mau melakukan apa yang diperintahkan oleh Balak, kemungkinan besar ia akan mendapatkan imbalan yang nilainya sangat menggiurkan. Tetapi Bileam menjawab, "Sekalipun Balak memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku tidak akan sanggup berbuat sesuatu, yang kecil atau yang besar, yang melanggar titah TUHAN, Allahku." (Bilangan 22:18). Tuhan telah berjanji kepada bangsa Israel untuk memberkati dan melindungi mereka apabila mereka mau mendengarkan firman-Nya dan hidup dalam ketaatan (Ulangan 28:1-14).
Tuhan tidak pernah ingkar dengan apa yang telah dijanjikan-Nya, jika Ia berjanji untuk memberkati, tak seorang pun dapat menggagalkan rencana-Nya!
Wednesday, January 31, 2018
HIDUP DALAM KEPURA-PURAAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Januari 2018
Baca: Mazmur 28:1-9
"Janganlah menyeret aku bersama-sama dengan orang fasik ataupun dengan orang yang melakukan kejahatan, yang ramah dengan teman-temannya, tetapi yang hatinya penuh kejahatan." Mazmur 28:3
Hidup dalam kepura-puraan sama artinya hidup dalam kemunafikan. Munafik berarti bermuka dua, orang yang sedang memainkan peran ganda, orang yang perkataannya berbeda dengan isi hatinya, atau orang yang perkataannya tidak sesuai dengan perbuatan yang sesungguhnya. Dalam Perjanjian Baru kata munafik diterjemahkan dari kata Yunani, hypokrites, yang berarti orang yang sedang memainkan peran di atas panggung. Bagi pemain drama/sandirawa, karakter yang mereka lakoni di atas panggung belum tentu sama, bahkan bisa sangat bertolak belakang dengan karakter yang sesungguhnya atau perilaku dalam kesehariannya.
Hidup dalam kepura-puraan inilah yang dilakukan oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Matius 23:1-26). Meskipun secara teori mereka sangat ahli dalam menguasai isi Kitab Suci atau Taurat, namun dalam prakteknya perbuatan mereka sama sekali tidak selaras dengan pengetahuan mereka tentang kebenaran. Tuhan mengecam keras orang-orang yang demikian, "Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya." (Matius 23:3). Ini menjadi tamparan keras bagi semua orang percaya, terlebih-lebih kita yang sudah melayani pekerjaan Tuhan. Sebagai pelayan Tuhan sudah semestinya kita hidup dalam kebenaran dan benar-benar menjadi pelaku firman. Jangan sampai kita disebut sebagai orang-orang yang munafik, melayani Tuhan, tapi hidup kita jauh menyimpang dari firman Tuhan.
Tuhan sama sekali tidak menilai kita berdasarkan penampilan luar dan perkataan-perkataan manis yang keluar dari mulut kita. Dia menyelidik sampai ke dalam hati kita dan segala sesuatu yang tersembunyi di dalamnya: "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibrani 4:13).
Jadilah orang percaya yang punya integritas dan takut akan Tuhan, jangan penuh kepura-puraan!
Baca: Mazmur 28:1-9
"Janganlah menyeret aku bersama-sama dengan orang fasik ataupun dengan orang yang melakukan kejahatan, yang ramah dengan teman-temannya, tetapi yang hatinya penuh kejahatan." Mazmur 28:3
Hidup dalam kepura-puraan sama artinya hidup dalam kemunafikan. Munafik berarti bermuka dua, orang yang sedang memainkan peran ganda, orang yang perkataannya berbeda dengan isi hatinya, atau orang yang perkataannya tidak sesuai dengan perbuatan yang sesungguhnya. Dalam Perjanjian Baru kata munafik diterjemahkan dari kata Yunani, hypokrites, yang berarti orang yang sedang memainkan peran di atas panggung. Bagi pemain drama/sandirawa, karakter yang mereka lakoni di atas panggung belum tentu sama, bahkan bisa sangat bertolak belakang dengan karakter yang sesungguhnya atau perilaku dalam kesehariannya.
Hidup dalam kepura-puraan inilah yang dilakukan oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Matius 23:1-26). Meskipun secara teori mereka sangat ahli dalam menguasai isi Kitab Suci atau Taurat, namun dalam prakteknya perbuatan mereka sama sekali tidak selaras dengan pengetahuan mereka tentang kebenaran. Tuhan mengecam keras orang-orang yang demikian, "Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya." (Matius 23:3). Ini menjadi tamparan keras bagi semua orang percaya, terlebih-lebih kita yang sudah melayani pekerjaan Tuhan. Sebagai pelayan Tuhan sudah semestinya kita hidup dalam kebenaran dan benar-benar menjadi pelaku firman. Jangan sampai kita disebut sebagai orang-orang yang munafik, melayani Tuhan, tapi hidup kita jauh menyimpang dari firman Tuhan.
Tuhan sama sekali tidak menilai kita berdasarkan penampilan luar dan perkataan-perkataan manis yang keluar dari mulut kita. Dia menyelidik sampai ke dalam hati kita dan segala sesuatu yang tersembunyi di dalamnya: "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibrani 4:13).
Jadilah orang percaya yang punya integritas dan takut akan Tuhan, jangan penuh kepura-puraan!
Tuesday, January 30, 2018
ORANG PERCAYA: Surat Kristus yang Hidup (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Januari 2018
Baca: 2 Korintus 3:1-18
"Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia." 2 Korintus 3:3
Untuk bisa menjadi surat Kristus yang hidup, dari pihak kita harus ada pertobatan yang sungguh supaya bisa memberi kesan bagi siapa pun yang membacanya. Sebagaimana sebuah pohon dikenal lewat buahnya, pula kita akan dikenal lewat buah-buah pertobatan yang dihasilkan melalui kehidupan secara nyata.
Rasul Paulus menyatakan bahwa 'surat' itu "...ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia." (ayat nas). Mengapa Tuhan menulisnya di dalam hati? Karena hati merupakan pancaran sumber kehidupan (Amsal 4:23), dan "Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu." (Amsal 27:19). Perkataan atau tingkah laku kita bisa dimanipulasi, tetapi hati kita tidak bisa. Demikian juga di dalam perbuatan orang bisa saja berpura-pura (pakai topeng), bersikap sopan dan baik di hadapan sesamanya, tetapi hati tetap tidak bisa ditipu dan dibohongi. Karena itulah rasul Paulus mengatakan bahwa surat itu ditulis di dalam hati. Kalau hati sudah diubahkan atau dipulihkan, maka secara otomatis akan terefleksi pada setiap perkataan, perbuatan atau tingkah laku yang turut diubahkan.
Manusia tidak bisa melihat apa yang ada di hati orang lain, tetapi Tuhan bisa. Hati yang sudah mengalami pemulihan pasti akan mengeluarkan hal-hal yang berbeda dari sebelumnya. "Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat." (Yehezkiel 36:26). Jadi yang menulis surat itu bukanlah manusia atau diri kita sendiri, melainkan Roh Tuhan. Apa yang Roh Tuhan tulis di hati kita? Yaitu firman-Nya atau hukum-hukum-Nya.
"Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku." Yeremia 31:33
Baca: 2 Korintus 3:1-18
"Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia." 2 Korintus 3:3
Untuk bisa menjadi surat Kristus yang hidup, dari pihak kita harus ada pertobatan yang sungguh supaya bisa memberi kesan bagi siapa pun yang membacanya. Sebagaimana sebuah pohon dikenal lewat buahnya, pula kita akan dikenal lewat buah-buah pertobatan yang dihasilkan melalui kehidupan secara nyata.
Rasul Paulus menyatakan bahwa 'surat' itu "...ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia." (ayat nas). Mengapa Tuhan menulisnya di dalam hati? Karena hati merupakan pancaran sumber kehidupan (Amsal 4:23), dan "Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu." (Amsal 27:19). Perkataan atau tingkah laku kita bisa dimanipulasi, tetapi hati kita tidak bisa. Demikian juga di dalam perbuatan orang bisa saja berpura-pura (pakai topeng), bersikap sopan dan baik di hadapan sesamanya, tetapi hati tetap tidak bisa ditipu dan dibohongi. Karena itulah rasul Paulus mengatakan bahwa surat itu ditulis di dalam hati. Kalau hati sudah diubahkan atau dipulihkan, maka secara otomatis akan terefleksi pada setiap perkataan, perbuatan atau tingkah laku yang turut diubahkan.
Manusia tidak bisa melihat apa yang ada di hati orang lain, tetapi Tuhan bisa. Hati yang sudah mengalami pemulihan pasti akan mengeluarkan hal-hal yang berbeda dari sebelumnya. "Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat." (Yehezkiel 36:26). Jadi yang menulis surat itu bukanlah manusia atau diri kita sendiri, melainkan Roh Tuhan. Apa yang Roh Tuhan tulis di hati kita? Yaitu firman-Nya atau hukum-hukum-Nya.
"Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku." Yeremia 31:33
Monday, January 29, 2018
ORANG PERCAYA: Surat Kristus yang Hidup (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Januari 2018
Baca: 2 Korintus 3:1-18
"Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang." 2 Korintus 3:2
Tidak semua orang percaya mengerti bahwa sebagai pengikut Kristus, sesungguhnya keberadaan kita di tengah-tengah dunia adalah menjadi surat-surat Kristus yang terbuka, yang bisa dibaca oleh semua orang. Karena itu, baik perkataan maupun tingkah laku kita haruslah bisa menjadi berkat dan kesaksian yang baik bagi dunia. Seringkali kita diingatkan dengan ayat ini: "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yohanes 2:6). Kalau kehidupan kita sama sekali tidak mencerminkan kehidupan seperti Kristus, maka kita bisa disebut sebagai orang-orang Kristen yang gagal total, sebab sasaran utama hidup kekristenan adalah menjadi serupa dengan Kristus. "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar." (2 Korintus 3:18).
Orang percaya disebut sebagai surat Kristus, artinya kehidupan kita bisa dibaca oleh semua orang. Hidup kita sama seperti surat yang merupakan sarana komunikasi tanpa suara, tetapi bisa dimengerti dari tulisan yang ada di dalamnya. Seandainya kita menerima surat yang berisi tentang hal-hal yang menyedihkan, maka kita yang membacanya pasti akan turut menjadi sedih. Demikian juga sebaliknya, kalau kita membaca surat yang berisikan tentang berita bahagia, maka kita pun akan turut merasakan kebahagiaan tersebut. Jadi, ada pengaruh bagi setiap orang yang membaca surat itu.
Demikian pula seharusnya kehidupan setiap pengikut Kristus yaitu bisa dibaca oleh orang lain dan dapat memberikan dampak yang positif, sehingga meskipun kita belum bersuara atau memberitakan Injil, tetapi melalui perkataan dan perbuatan kita yang 'berbeda' dari dunia, kita sedang memberitakan Injil Kristus kepada orang-orang yang ada di sekitar. Ketika kehidupan orang percaya bisa menjadi teladan yang baik, maka tanpa disadari kita sedang memperkenalkan Kristus kepada dunia, sebelum kita memberitakan Injil kepada mereka.
"Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan." Matius 3:8
Baca: 2 Korintus 3:1-18
"Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang." 2 Korintus 3:2
Tidak semua orang percaya mengerti bahwa sebagai pengikut Kristus, sesungguhnya keberadaan kita di tengah-tengah dunia adalah menjadi surat-surat Kristus yang terbuka, yang bisa dibaca oleh semua orang. Karena itu, baik perkataan maupun tingkah laku kita haruslah bisa menjadi berkat dan kesaksian yang baik bagi dunia. Seringkali kita diingatkan dengan ayat ini: "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yohanes 2:6). Kalau kehidupan kita sama sekali tidak mencerminkan kehidupan seperti Kristus, maka kita bisa disebut sebagai orang-orang Kristen yang gagal total, sebab sasaran utama hidup kekristenan adalah menjadi serupa dengan Kristus. "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar." (2 Korintus 3:18).
Orang percaya disebut sebagai surat Kristus, artinya kehidupan kita bisa dibaca oleh semua orang. Hidup kita sama seperti surat yang merupakan sarana komunikasi tanpa suara, tetapi bisa dimengerti dari tulisan yang ada di dalamnya. Seandainya kita menerima surat yang berisi tentang hal-hal yang menyedihkan, maka kita yang membacanya pasti akan turut menjadi sedih. Demikian juga sebaliknya, kalau kita membaca surat yang berisikan tentang berita bahagia, maka kita pun akan turut merasakan kebahagiaan tersebut. Jadi, ada pengaruh bagi setiap orang yang membaca surat itu.
Demikian pula seharusnya kehidupan setiap pengikut Kristus yaitu bisa dibaca oleh orang lain dan dapat memberikan dampak yang positif, sehingga meskipun kita belum bersuara atau memberitakan Injil, tetapi melalui perkataan dan perbuatan kita yang 'berbeda' dari dunia, kita sedang memberitakan Injil Kristus kepada orang-orang yang ada di sekitar. Ketika kehidupan orang percaya bisa menjadi teladan yang baik, maka tanpa disadari kita sedang memperkenalkan Kristus kepada dunia, sebelum kita memberitakan Injil kepada mereka.
"Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan." Matius 3:8
Subscribe to:
Comments (Atom)