Sunday, October 11, 2020

HIDUP ORANG PERCAYA: Minyak Yang Harum

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Oktober 2020

Baca:  2 Korintus 2:12-17

"...kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa."  2 Korintus 2:15

Sebagai orang percaya kehidupan kita selayaknya menjadi persembahan yang harum di hadapan Tuhan, dan juga membawa keharuman kapan pun dan di mana pun berada.  Mengapa?  Karena kita bukan lagi hamba dosa:  hidup kita sudah ditebus dan disucikan melalui darah Kristus di kayu salib:  "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat."  (1 Petrus 1:18-19).

     Menjadi persembahan yang harum ini seperti minyak narwastu yang dibawa seorang perempuan, yang wadahnya dipecah dan minyaknya dicurahkan ke atas kepala Yesus  (Markus 14:3).  Minyak narwastu tersebut dipakai perempuan itu untuk meminyaki Tuhan.  Ini berbicara tentang kehidupan yang mempermuliakan Tuhan, meninggikan, mengagungkan, dan menghormati Tuhan!  Pada zaman itu minyak narwastu adalah minyak istimewa dan berharga sangat mahal, yaitu 300 dinar  (Yohanes 12:5).  Coba bandingkan dengan upah seorang pekerja waktu itu:  satu hari satu dinar.  Jadi bisa dibayangkan betapa mahal dan berharganya minyak narwastu itu.  Inilah tujuan Kristus rela mati mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib, bukan hanya menyelamatkan kita, tapi supaya kita yang sudah diselamatkan-Nya juga mempermuliakan nama-Nya.  Mempermuliakan Tuhan berarti hidup menyenangkan hati Tuhan, menjadi persembahan harum di hadapan-Nya.

     Kita harus bisa membawa keharuman bagi dunia ini, menjadi kesaksian di mana pun dan kapan pun.  Banyak orang Kristen yang hidupnya belum bisa mempermuliakan nama Tuhan dan belum bisa membawa keharuman, oleh karena minyak itu, ibaratnya, masih tersimpan di dalam buli-buli, belum dipecahkan dan dicurahkan.  Belum dipecahkan berbicara tentang kehidupan yang tak mau membayar harga, tak mau dibentuk, tak mau diremukkan kedagingannya atau tak mau menanggalkan manusia lamanya.

Sudahkah kehidupan kita membawa keharuman ataukah malah sebaliknya?

Saturday, October 10, 2020

SEPERTI TANAH YANG BAIKKAH HATI KITA?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Oktober 2020

Baca:  Yeremia 4:1-4

"Sebab beginilah firman TUHAN kepada orang Yehuda dan kepada penduduk Yerusalem: 'Bukalah bagimu tanah baru, dan janganlah menabur di tempat duri tumbuh.'"  Yeremia 4:3

Sadar atau tidak sadar segala sesuatu yang terjadi dan kita alami dalam hidup ini memiliki keterkaitan dengan apa yang ada di dalam hati kita, atau cerminan dari apa yang ada di hati kita.  Contoh:  kalau hati kita dipenuhi sukacita dan ucapan syukur, hari-hari yang kita jalani pun tampak menyenangkan, kita menjalani hidup dengan penuh optimisme.

     Alkitab menggambarkan hati manusia itu seperti tanah:  ada tanah yang dipenuhi kerikil atau batu, ada tanah sangat keras, ada tanah yang ditumbuhi semak duri, ada pula tanah yang baik  (subur).  Meski sama-sama mendengarkan firman Tuhan, pertumbuhan rohani setiap orang sangat ditentukan oleh respons hati mereka masing-masing.  Sekalipun berkali-kali mendengarkan firman Tuhan, jika tanah hati kita tetap keras seperti batu, maka benih firman Tuhan tidak bisa tumbuh dengan baik, alias takkan berdampak dalam hidup kita.  Benih firman Tuhan dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah yang lebat bila disemai di atas tanah yang baik.

     Hati kita digambarkan sebagai tanah yang baik apabila sudah bersih dari segala bentuk kotoran, berupa kepahitan, kebencian, dendam, amarah, sakit hati dan sebagainya.  Jika kotoran-kotoran tersebut masih saja menempel dan tidak segera dibersihkan, pertumbuhan benih firman pasti terhambat sekalipun kita aktif beribadah atau rajin hadir di persekutuan doa.  Hati kita digambarkan sebagai tanah yang baik apabila bebas dari segala yang jahat.  Karena itu kita harus menjaga hati kita dengan penuh kewaspadaan, sebab dari hati timbul segala pikiran jahat  (Matius 15:19).  Pemazmur mengingatkan bahwa bila ada niat jahat di dalam hati saja, doa kita tak didengar oleh Tuhan!  (Mazmur 66:18).  Jangan pula hati kita ini dipenuhi dengan segala keinginan-keinginan dunia yang sarat dengan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup  (1 Yohanes 2:16).  Jangan pula hati kita ini dipenuhi dengan ambisi-ambisi dunia yang bertujuan semata-mata untuk kemegahan diri sendiri.  Bila hati dipenuhi dengan ambisi pribadi, hal itu akan menyondongkan orang menjadi serakah dan tamak.

Mohon Roh Kudus menyelidiki hati kita supaya tetap berkenan kepada Tuhan!