Monday, October 5, 2020

JAMAHAN ROH KUDUS: Mengubah Hidup Kita

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Oktober 2020

Baca:  Kisah Para Rasul 19:1-12

"Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat."  Kisah 19:6

Kegerakan rohani terbesar gereja Tuhan dimulai saat Roh Kudus turun di hari Pentakosta  (Kisah 2:1-13).  Saat Roh Kudus melawat dan menjamah murid-murid Tuhan terjadilah terobosan baru!  Murid-murid Tuhan mengalami titik balik dalam pelayanan!  Mereka melayani pekerjaan Tuhan dengan kekuatan dan semangat yang baru sehingga pelayanan mereka tidak lagi biasa-biasa saja, tapi menjadi luar biasa.  Hidup mereka menjadi berubah, semua diawali dari ketaatan mereka saat diperintahkan Tuhan untuk tidak meninggalkan Yerusalem:  "...Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ..."  (Kisah 1:4), sampai mereka diperlengkapi dengan kuasa Roh Kudus dari tempat yang mahatinggi.  Setelah menerima kuasa Roh Kudus barulah mereka melangkah keluar mengerjakan panggilan Tuhan sebagai pemberita Injil.

     Setiap orang percaya harus memiliki pengalaman pribadi dengan Roh Kudus sebab kehidupan kekristenan tak dapat dipisahkan dari pekerjaan Roh Kudus.  Bagi orang percaya Roh Kudus disebut sebagai  'Parakletos' (Yunani) diartikan sebagai Penolong, Penghibur, Pembela. Pengertian aslinya adalah Pendamping:  Pribadi yang selalu menyertai orang untuk memberikan pertolongan, khususnya dalam persidangan/pengadilan sebagai pembela!  Roh Kudus menolong kita dalam setiap kesulitan dan masalah yang kita hadapi.  Tanpa campur tangan Roh Kudus kita lemah dan tak punya kekuatan, sebab Roh Kudus yang ada di dalam kita  "...lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia."  (1 Yohanes 4:4).  Tanpa penyertaan Roh Kudus kita takkan mampu menjalankan fungsi kita sebagai saksi-saksi Kristus di tengah dunia ini:  "...kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."  (Kisah 1:8).

     Di tengah dunia yang penuh problematika ini kita sangat membutuhkan Roh Kudus, Dialah yang senantiasa menghibur saat kita susah, mengingatkan kita akan penyertaan-Nya, janji-janji firman-Nya, perlindungan-Nya, sehingga kita menjadi tenang.

Tanpa Roh Kudus kehidupan kekristenan kita akan tumpul.

Sunday, October 4, 2020

MENGAPA TAK MENGALAMI KUASA IBADAH?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Oktober 2020

Baca:  2 Timotius 3:1-9

"Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya."  2 Timotius 3:5a

Apa yang mendorong Saudara untuk beribadah di gereja?  Ingin mendengarkan khotbah dari hamba Tuhan terkenal?  Sekedar mengisi waktu luang, daripada bosan di rumah?  Sekedar memenuhi kewajiban sebagai orang Kristen, atau kita benar-benar rindu berjumpa secara pribadi dengan Tuhan?  Kerinduan besar untuk bertemu dengan Tuhan adalah kunci mengalami lawatan Tuhan dan jamahan-Nya yang penuh kuasa!  Lawatan Tuhan inilah yang sanggup mengubah hidup setiap orang.  Mengapa banyak orang tampak rajin datang ke gereja tapi tidak mengenal Tuhan?  Saat diperhadapkan dengan masalah, respons mereka pun tak menunjukkan kualitas orang yang berkemenangan.

     Mari, mungkin ada hal yang perlu dikoreksi!  Apakah kita beribadah hanya sebatas rutinitas atau sekedar menjalankan kewajiban secara lahiriah?  Ibadah yang dilakukan sebatas rutinitas atau kewajiban tak menghasilkan kuasa.  Ada pula yang datang ke gereja karena terdesak kebutuhan atau iming-iming materi.  Motivasi yang demikian takkan membuat orang mampu bertahan dalam mengikut Tuhan karena mereka cenderung mudah kecewa dan mengalami kepahitan bila terbentur masalah.  Semasa pelayanan di bumi banyak orang berbondong-bondong mengikuti Kristus ke mana pun Ia pergi, bukan merindukan pribadi-Nya, tapi menginginkan berkat-Nya saja:  "...kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang."  (Yohanes 6:26);  mereka mencari Tuhan demi  'roti'  atau mujizat saja, bahkan hendak memaksa Kristus menjadi raja atas mereka bukan karena ingin mempermuliakan nama-Nya, tapi supaya hidup mereka terjamin  (Yohanes 6:15).

     Dalam menggenapi rencana-Nya di akhir zaman Tuhan hendak membangun kembali pondok Daud yang telah roboh!  (Kisah 15:16-18).  Pondok Daud berbicara tentang rumah Tuhan!  Tuhan menginginkan persekutuan yang karib dengan umat-Nya di bait-Nya yang kudus.  Ia rindu melalui gereja-Nya banyak jiwa yang diselamatkan.

Bila kita datang ke rumah Tuhan dengan sikap hati yang benar, kita pasti mengalami lawatan-Nya!