Saturday, September 19, 2020

MENYUKAKAN MANUSIA: Hamba Manusia

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 September 2020

Baca:  Galatia 1:1-10

"Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus."  Galatia 1:10b

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh orang-orang yang terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan adalah berkenaan dengan motivasi.  Dalam melayani pekerjaan Tuhan kita harus memiliki motivasi yang murni yaitu mengejar perkenanan Tuhan, bukan mencari perkenanan dari manusia.  Kalau pelayanan kita hanya bertujuan untuk menyenangkan hati manusia atau orang-orang yang dilayani berarti motivasi kita sudah melenceng jauh.  Perhatikan apa yang rasul Paulus katakan,  "Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus."  (ayat nas).

     Fenomena ini sedang melanda gereja Tuhan di akhir zaman:  banyak pelayan Tuhan atau hamba Tuhan yang karena takut kehilangan jemaatnya akhirnya memilih untuk berkompromi dengan dosa.  Mereka tidak berani menegur jemaatnya yang berbuat kesalahan;  mereka tetap saja menutup mata seolah-olah tidak terjadi apa-apa;  mereka tidak bisa bersikap tegas!  Ketika kita lebih takut kepada manusia demi menyenangkan hatinya, atau lebih memilih untuk mencari pujian manusia, sama artinya kita sudah menghambakan diri kepada manusia.  Yang namanya  'hamba'  adalah orang yang berusaha melakukan apa saja demi untuk menyenangkan hati tuannya.  Ketika kita melakukan segala sesuatu dan menempuh segala cara dengan tujuan untuk menyenangkan hati manusia berarti kita sudah menjadi hamba manusia.

     Sebagai hamba-hamba Tuhan kita harus memiliki satu tujuan dalam melayani pekerjaan Tuhan kita harus memiliki satu tujuan bagaimana supaya kita tetap berkenan dan menyenangkan hati Tuhan.  Orang yang mengejar perkenanan Tuhan pasti akan menghambakan diri kepada Tuhan sepenuhnya dan berkomitmen untuk meninggalkan cara hidup yang tidak berkenan kepada Tuhan;  kita tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari kebenaran yang membuat hati Tuhan sedih.  Inilah harga yang harus dibayar seorang hamba Tuhan!  Apa pun situasinya kita harus tetap berdiri teguh dalam kebenaran firman Tuhan dan tidak akan berkompromi dengan dosa.

Kristus sudah mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus dosa-dosa kita, karena itu kita harus menghambakan diri sepenuhnya hanya kepada Tuhan!

Friday, September 18, 2020

PADANG GURUN MENDATANGKAN KEBAIKAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 September 2020

Baca:  Ulangan 29:1-29

"Empat puluh tahun lamanya Aku memimpin kamu berjalan melalui padang gurun; pakaianmu tidak menjadi rusak di tubuhmu, dan kasutmu tidak menjadi rusak di kakimu."  Ulangan 29:5

Masalah dan penderitaan adalah dua hal yang menjadi bagian dari kehidupan manusia di dunia, yang bisa menyebabkan orang menjadi teretekan dan mengalami stres.  Keadaan ini bisa terjadi dan dialami oleh semua orang tanpa terkecuali!  Bila tubuh kita ini mengalami tekanan yang berat dan stres secara terus-menerus dapat memengaruhi sel-sel yang ada di dalam tubuh kita, dan akhirnya bisa menyebabkan sakit-penyakit.

     Kita bisa mengambil hikmah dari perjalanan bangsa Israel saat keluar dari perbudakan di Mesir menuju ke Tanah Perjanjian, di mana mereka mengalami tekanan yang sangat berat dan membuat mereka menjadi stres, terlebih-lebih saat berada di padang gurun, suatu masa di mana kehidupan mereka seolah-olah berada di titik terendah  (nol).  Dalam situasi ini mereka diajarkan untuk bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, dan justru saat berada di padang gurun, saat segala sesuatu sepertinya tidak ada harapan atau mengalami jalan buntu, mereka malah mengalami mujizat demi mujizat, keajaiban Tuhan dinyatakan.  Oleh karena itu belajarlah untuk tetap mengucap syukur kepada Tuhan sekalipun harus mengalami situasi seperti di padang gurun.  Inilah saat yang tepat untuk kita semakin mendekat kepada Tuhan, membangun persekutuan yang karib dengan Dia.  Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini!  Jika kita diijinkan untuk melewati  'padang gurun'  berarti Tuhan memiliki maksud dan tujuan supaya kita belajar untuk hidup mengandalkan Dia, tidak mengandalkan kekuatan sendiri.

     Masa-masa di padang gurun memang identik dengan kesulitan, kesukaran, bahaya dan penderitaan, tapi mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengalaminya, sebab iman kita sedang dilatih dan dibentuk supaya makin kuat.  Hal penting yang harus diperhatikan adalah respons hati kita harus benar!  Jangan seperti bangsa Israel yang respons hatinya negatif:  mengeluh, bersungut-sungut, mengomel, menyalahkan keadaan, menyalahkan pemimpin, dan bahkan menyalahkan Tuhan.

Karena terus mengeraskan hati dan memberontak kepada Tuhan, bangsa Israel harus mengalami proses pembentukan selama 40 tahun di padang gurun.