Thursday, September 17, 2020

MENOLONG ORANG LAIN: Menolong Diri Sendiri

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 September 2020

Baca:  Amsal 3:27-35

"Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: 'Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,' sedangkan yang diminta ada padamu."  Amsal 3:28

Kita seringkali menunda-nunda waktu dan memiliki banyak sekali pertimbangan ketika hendak menolong atau memberi sesuatu kepada orang lain.  Kita menghitung untung rugi:  kalau aku menolong si A saat ini, apa yang kudapatkan balik dari si A?  Firman Tuhan mengingatkan bahwa waktu untuk menolong orang lain adalah sekarang, bukan menundanya sampai besok, lusa, minggu depan, atau waktu yang tidak pasti.

     "Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai."  (Pengkhotbah 11:4).  Jika hari ini ada orang yang datang kepada kita untuk meminta pertolongan, tapi kita menyuruh dia untuk pergi dan memintanya untuk kembali lagi besok atau di hari lain untuk kita beri yang dia perlukan, padahal sesungguhnya kita punya sesuatu untuk diberikan hari ini, itu artinya kita tidak punya kerinduan untuk menolong orang tersebut:  "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?"  (1 Yohanes 3:17).  Ingatlah bahwa kita ini tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain.  Keberhasilan kita di bidang apa pun tak luput dari dukungan atau peran serta dari orang lain juga.  Tidak ada kata  'rugi'  mengulurkan tangan menolong, berbuat baik, dan bermurah hati kepada orang lain.  Ada tertulis:  "Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri."  (Amsal 11:17).  Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi orang lain seperti diri sendiri, bahkan kita juga diperintahkan untuk mengasihi musuh,  "Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian."  (Lukas 6:33).  Mengasihi orang lain itu harus dengan hati yang tulus, tanpa ada kepura-puraan dan jangan karena pamrih.

     Dalam kehidupan di dunia ini berlaku hukum tabur tuai!  Jika kita menabur sikap masa bodo terhadap orang lain di sekitar kita, jangan terkejut bila orang-orang di sekitar akan berlaku masa bodoh pula terhadap kita, mereka tidak akan mempedulikan kita. 

"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka."  Matius 7:12

Wednesday, September 16, 2020

KEBIMBANGAN ITU PENGHALANG

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 September 2020

Baca:  Mazmur 119:33-40

"Teguhkanlah pada hamba-Mu ini janji-Mu, yang berlaku bagi orang yang takut kepada-Mu."  Mazmur 119:38

Banyak orang Kristen tak mengalami penggenapan janji Tuhan dalam hidupnya bukan karena Tuhan tidak mengasihi mereka atau Tuhan ingkar terhadap janji-Nya, tapi kita sendiri yang mengalami kebimbangan dan tak sabar menantikan Tuhan.

     Tuhan berjanji kepada Abraham, yang pada waktu itu masih bernama Abram, untuk memberikan keturunan,  "'Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.' Maka firman-Nya kepadanya: 'Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.'"  (Kejadian 15:5)  Disebutkan keturunan Abraham jumlahnya akan seperti debu tanah dan bintang-bintang yang bertaburan di langit, tak terhitung.  Padahal ketika menerima janji dari Tuhan Abraham dan Sara sudah berusia lanjut, yang secara akal, mustahil untuk memiliki keturunan...tak mengherankan bila Sara sempat tertawa ketika mendengar hal itu  (Kejadian 18:12).  Meski janji Tuhan sepertinya mustahil, tapi  "...percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran."  (Kejadian 15:6).  Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham tetap berharap dan percaya, bahkan  "Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup."  (Roma 4:19).

     Abraham harus melewati ujian waktu yang tidak singkat dalam menantikan janji Tuhan tersebut.  Ia terus memperkuat percayanya kepada Tuhan dan tidak bimbang  (Roma 4:20), sebab  "...orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan."  (Yakobus 1:6-7).  Kebimbangan adalah lawan iman!  Karena itu arahkan pandangan hanya kepada Tuhan dan jangan terpengaruh situasi yang ada.  Kita harus memegang teguh janji Tuhan sebab Dia yang berjanji adalah setia.  Sekalipun janji itu belum terlihat, percayalah bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan!  Apa yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, tak pernah timbul dalam hati, itu yang Tuhan sediakan bagi kita yang mengasihi Dia  (1 Korintus 2:9).

Pegang teguh janji Tuhan, sebab Ia membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya!