Tuesday, September 15, 2020

BELAJAR DARI SIFAT BURUNG MERPATI (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 September 2020

Baca:  Matius 10:16-33

"...orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat."  Matius 10:22

Sudahkah kita menjadi anak-anak Tuhan yang setia?  Setia ketika segala sesuatu berjalan dengan lancar, itu hal yang mudah!  Masihkah kita setia ketika sedang berada dalam situasi sulit, tekanan, masalah, atau penderitaan?  Kita seringkali berubah sikap dan tak lagi setia, ketika sedang berada dalam masalah.  Seorang Kristus sejati pasti akan setia di segala keadaan!  Sebab Tuhan kita adalah Tuhan yang setia!  "jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya."  (2 Timotius 2:13).

     Kita harus setia dalam hal apa?  Dalam hal beribadah kepada Tuhan!  Ibadah adalah hal sangat penting!  "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (1 Timotius 4:8).  Komitmen untuk setia beribadah di tunjukkan oleh Yosua dan keluarganya!  "...aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"  (Yosua 24:15b);  kita harus setia berdoa;  kita harus setia dalam membaca, meneliti dan mereungkan firman Tuhan;  kita harus setia melelayani pekerjaan Tuhan sesuai talenta dan karunia yang Tuhan beri.  "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan."  (Roma 12:11).

      Rasul Paulus begitu setia melayani Tuhan dan selalu ingin memberikan yang terbaik bagi Tuhan:  "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan."  (Filipi 1:21), dan  "...aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku..."  (Kisah 20:24).  Satu lagi tentang merpati:  burung ini tak punya kantong empedu.  Itulah sebabnya merpati tak punya sifat dendam atau sakit hati.  Jangan ada seorang pun yang menjauhkan diri dari kasih karunia Tuhan agar jangan tumbuh akar yang pahit  (Ibrani 12:15):  "Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan."  (Efesus 4:31).  Kalau kita masih menyimpan akar pahit, kemarahan, dendam, sakit hati dan hal-hal jahat lainnya, mungkinkah kita bisa menjadi berkat bagi orang lain?

Tuhan mau kita setia dan tak menyimpan hal-hal jahat, seperti burung merpati!

Monday, September 14, 2020

BELAJAR DARI SIFAT BURUNG MERPATI (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 September 2020

Baca:  Matius 10:16:33

"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati."  Matius 10:16

Hari-hari yang kita jalani di dunia ini semakin hari semakin berat karena tantangan yang kita hadapi juga semakin besar, gejolak di segala bidang kehidupan dan kejahatan manusia juga semakin memuncak.  Orang tak lagi punya kepedulian terhadap sesamanya karena kasih sudah menjadi dingin;  orang mudah sekali tersulut emosi, suka memberontak dan tak lagi mengindahkan hukum atau aturan.  Dunia ini sudah seperti hutan rimba, siapa yang kuat dialah yang menang.  Dunia dipenuhi dengan serigala-serigala yang siap menerkam, tapi Tuhan justru mengutus kita untuk berlaku seperti domba di tengah serigala.  Karena itu kita harus memiliki kewaspadaan yang tinggi karena serigala selalu mencari mangsa.  Biarlah kita menjadi cerdik seperti ular, tetapi tetap tulus seperti merpati.

     Mengapa kita harus tulus seperti merpati?  Merpati adalah salah satu lambang dari Roh Kudus.  Ketika Tuhan Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan Alkitab menyatakan,  "...pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: 'Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.'"  (Matius 3:16-17).  Selain itu merpati juga sering dipakai sebagai simbol kesetiaan!  Mengapa?  Karena merpati dikenal sebagai burung yang sangat setia terhadap pasangannya, di mana biasanya merpati hanya memiliki satu kekasih atau pasangan untuk seumur hidupnya.

     Tuhan sedang mencari orang-orang yang setia meski tak mudah menemukan orang yang setia!  Pemazmur mengeluhkan hal ini,  "...telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia."  (Mazmur 12:2).  Kesetiaan adalah karakter yang Tuhan cari dalam diri orang percaya:  "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?"  (Amsal 20:6), sebab  "Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;"  (Amsal 19:22).  Apakah karakter setia itu ada pada kita?  "Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia."  (Wahyu 17:14b).