Wednesday, January 15, 2020

ORANG PERCAYA: Dipanggil Menjadi Terang (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Januari 2020

Baca:  Yesaya 60:1-22

"Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu."  Yesaya 60:1

Hidup orang percaya adalah hidup yang berjalan bersama Kristus setiap hari.  Sebagaimana Kristus adalah terang dunia:  "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."  (Yohanes 8:12), maka orang percaya pun dituntut untuk bisa menjadi terang, sebab  "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."  (1 Yohanes 2:6).  "Kamu adalah terang dunia. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."  (Matius 5:14a, 16).

     Hidup yang menjadi terang berarti orang percaya tidak lagi menjalani hidup secara asal-asalan, tetapi punya kehidupan yang berarti dan berdampak bagi dunia.  Karena itu orang percaya harus mengalami percepatan untuk bangkit dari segala permasalahan hidup, bangkit dari keterpurukan, dan bangkit dari segala ketertinggalan.  "...marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita."  (Ibrani 12:1).  Itulah cara agar supaya kehidupan kita bisa menjadi kesaksian yang baik.  Tanpa memiliki kehidupan yang berbeda dari orang-orang dunia, kita tidak akan bisa menjadi terang dan menyatakan kemuliaan Kristus di tengah-tengah dunia ini.  Perhatikan dunia saat ini!  Dunia semakin hari semakin kelam dan diliputi oleh kegelapan yang teramat pekat.

     Karena dunia berada dalam kegelapan, banyak orang dibelenggu oleh ketakutan, banyak orang tidak lagi malu berbuat dosa.  Kehidupan orang-orang dunia saat ini benar-benar semakin jauh dari kehendak Tuhan.  Mereka sudah tidak lagi menyadari dan menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada, sehingga mereka dengan sengaja hidup dalam dosa.  Itulah sebabnya orang percaya dipanggil untuk menjadi terang di tengah-tengah mereka, sebab kita ini adalah anak-anak terang, yang telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang Kristus yang ajaib  (1 Petrus 2:9).  Terang itu hanya berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran  (Efesus 5:9).  Kalau orang percaya tidak bisa menjadi terang, orang-orang dunia meneladani siapa?

Tuesday, January 14, 2020

JANGAN BERKATA TUHAN TAK ADIL!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Januari 2020

Baca:  Ayub 8:1-22

"Masakan Allah membengkokkan keadilan? Masakan Yang Mahakuasa membengkokkan kebenaran?"  Ayub 8:3

Saat berada dalam masalah, penderitaan, tekanan dan kesulitan, yang sepertinya tiada berujung, biasanya orang akan cenderung untuk menjadi kecewa, marah, dan berontak kepada Tuhan dan menganggap bahwa Tuhan berlaku tidak adil terhadapnya.  Ayub pun pernah mengalami dan merasakan hal itu.  Padahal Ayub adalah orang yang saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan  (Ayub 1:1), tapi ia pun tak luput dari penderitaan dan pencobaan yang datang secara bertubi-tubi:  semua anaknya mati, harta benda ludes, dan bahkan isteri yang dikasihinya pun menghujat dia,  "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!"  (Ayub 2:9).

     Alkitab menyatakan bahwa Ayub berkeluh kesah dan frustasi, sampai-sampai ia mengutuki dirinya sendiri karena tak tahan menanggung beban penderitaan yang teramat berat ini:  "Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku dan malam yang mengatakan: Seorang anak laki-laki telah ada dalam kandungan."  (Ayub 3:3), dan kemudian ia juga protes kepada Tuhan,  "Kalau aku berbuat dosa, apakah yang telah kulakukan terhadap Engkau, ya Penjaga manusia? Mengapa Engkau menjadikan aku sasaran-Mu, sehingga aku menjadi beban bagi diriku?"  (Ayub 7:20).  Karena itu  "...aku lebih suka dicekik dan mati dari pada menanggung kesusahanku."  (Ayub 7:15).  Prihatin dengan kondisi ini, Bildad, orang Suah, menegur Ayub,  "Berapa lamakah lagi engkau akan berbicara begitu, dan perkataan mulutmu seperti angin yang menderu?"  (Ayub 8:2).

     Mungkin Saudara sedang kecewa dengan Tuhan, karena Saudara sudah merasa hidup benar di hadapan-Nya, tapi mengapa masalah datang silih berganti dengan tiada henti.  Sementara kita melihat perjalanan hidup orang-orang di luar Tuhan sepertinya tampak mulus tanpa aral.  Jangan sekali-kali menuduh Tuhan berlaku tidak adil!  Tak satu pun peristiwa yang kita alami luput dari pengawasan Tuhan.  Adakalanya Tuhan mengijinkan hal itu terjadi untuk menguji kadar iman kita.  Segeralah Ayub menyadari kesalahannya dan mencabut semua kata-kata negatif yang pernah diucapkan  (Ayub 42:6), Tuhan pun memulihkan dan memberkati Ayub dengan double portion.

Di balik masalah yang Tuhan ijinkan terjadi, ada rencana-Nya yang besar atas kita.