Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Februari 2019
Baca: 2 Timotius 3:1-9
"Manusia akan mencintai dirinya sendiri...lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah." 2 Timotius 3:2, 4
Manusia diciptakan Tuhan menurut gambar dan rupa-Nya (Kejadian 1:26-27) sehingga manusia lebih istimewa dibandingkan dengan ciptaan-Nya yang lainnya. Namun dalam keistimewaannya itu manusia justru memberontak terhadap Tuhan dan hidup menyimpang dari jalan-jalan-Nya. Semakin hari kejahatan manusia semakin menjadi-jadi, "...segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata," (Kejadian 6:5). Apa yang manusia perbuat benar-benar memilukan hati Tuhan, sampai-sampai Tuhan merasa menyesal telah menciptakan manusia di bumi (Kejadian 6:5-6).
Degradasi moral atau kebobrokan karakter manusia di luar Kristus menjadi salah satu ciri populer menjelang hari kedatangan Tuhan. Bahkan kalau kita perhatikan, di media massa hampir setiap hari perilaku jahat manusia atau kebobrokan karakter manusia ini menjadi berita utama. Dalam pembacaan firman Tuhan yang berperikop 'Keadaan manusia pada akhir zaman' ini kita melihat ciri-ciri karakter manusia pada akhir zaman, seperti tertulis: "Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka
akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah,
mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih,
tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya." (2 Timotius 3:2-5). Bukankah hal ini jelas-jelas terjadi dan merupakan fakta yang tak terbantahkan?
Akibat perilaku manusia yang semakin menyimpang dari kehendak Tuhan, orang percaya pun terkena dampaknya. "Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan." (2 Timotius 3:12-13).
Orang percaya dituntut punya kehidupan yang berbeda dengan dunia, apa pun resikonya!
Tuesday, February 26, 2019
Monday, February 25, 2019
JANGAN SAMPAI DISESATKAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Februari 2019
Baca: 1 Yohanes 2:18-27
"Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak." 1 Yohanes 2:22
Seorang percaya yang peka rohani pasti menyadari bahwa saat-saat ini adalah masa akhir dari akhir zaman. Keadaan, kejadian atau peristiwa yang sedang terjadi di dunia ini semakin menguatkan bahwa kedatangan Kristus yang kedua kalinya sudah teramat dekat. Alkitab menyatakan bahwa sebelum hari itu tiba akan ada tanda-tanda menyertai: pemberitaan Injil ke seluruh dunia, terjadinya kemurtadan, penyesatan, kesukaran atau masa-masa sulit, dan sebagainya. Firman Tuhan menasihati: "...berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi," (Matius 24:6b).
Tanda lain yang semakin mempertegas tentang akhir zaman adalah munculnya antikristus walaupun sesungguhnya hal antikristus ini bukalah sesuatu yang baru, karena sudah ada sejak lama, bahkan semasa rasul Yohanes sudah ada. Kata antikristus ditulis lima kali dalam Perjanjian Baru, semuanya ada dalam tulisan Yohanes ini. Apa pekerjaan antikristus? Berusaha merusak persekutuan hidup orang percaya dengan menyisipkan kebohongan dalam kebenaran, atau ajaran yang menyesatkan. Hal nyata yang ditunjukkan oleh antikristus adalah sikap penolakan dan penyangkalan terhadap Bapa dan juga Anak (ayat nas). Dengan ajaran palsunya antikristus secara tegas menolak Kristus sebagai Anak Bapa dan menolak doktrin inkarnasi Kristus, "Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus." (2 Yohanes 1:7). Penolakan terhadap Kristus sebagai Anak otomatis juga menolak Bapa yang mengutus Anak-Nya untuk menebus dosa umat manusia (1 Yohanes 4:9-10).
Menghadapi situasi zaman ini kita tidak boleh menyerah, justru ini kesempatan bagi kita untuk terus membangun manusia rohaniah, "sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan," (Efesus 4:14).
Seberat apa pun tekanan yang ada jangan sampai kita menyangkal Kristus, sebab tersedia mahkota kehidupan bagi kita yang setia dalam iman sampai akhir.
Baca: 1 Yohanes 2:18-27
"Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak." 1 Yohanes 2:22
Seorang percaya yang peka rohani pasti menyadari bahwa saat-saat ini adalah masa akhir dari akhir zaman. Keadaan, kejadian atau peristiwa yang sedang terjadi di dunia ini semakin menguatkan bahwa kedatangan Kristus yang kedua kalinya sudah teramat dekat. Alkitab menyatakan bahwa sebelum hari itu tiba akan ada tanda-tanda menyertai: pemberitaan Injil ke seluruh dunia, terjadinya kemurtadan, penyesatan, kesukaran atau masa-masa sulit, dan sebagainya. Firman Tuhan menasihati: "...berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi," (Matius 24:6b).
Tanda lain yang semakin mempertegas tentang akhir zaman adalah munculnya antikristus walaupun sesungguhnya hal antikristus ini bukalah sesuatu yang baru, karena sudah ada sejak lama, bahkan semasa rasul Yohanes sudah ada. Kata antikristus ditulis lima kali dalam Perjanjian Baru, semuanya ada dalam tulisan Yohanes ini. Apa pekerjaan antikristus? Berusaha merusak persekutuan hidup orang percaya dengan menyisipkan kebohongan dalam kebenaran, atau ajaran yang menyesatkan. Hal nyata yang ditunjukkan oleh antikristus adalah sikap penolakan dan penyangkalan terhadap Bapa dan juga Anak (ayat nas). Dengan ajaran palsunya antikristus secara tegas menolak Kristus sebagai Anak Bapa dan menolak doktrin inkarnasi Kristus, "Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus." (2 Yohanes 1:7). Penolakan terhadap Kristus sebagai Anak otomatis juga menolak Bapa yang mengutus Anak-Nya untuk menebus dosa umat manusia (1 Yohanes 4:9-10).
Menghadapi situasi zaman ini kita tidak boleh menyerah, justru ini kesempatan bagi kita untuk terus membangun manusia rohaniah, "sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan," (Efesus 4:14).
Seberat apa pun tekanan yang ada jangan sampai kita menyangkal Kristus, sebab tersedia mahkota kehidupan bagi kita yang setia dalam iman sampai akhir.
Subscribe to:
Comments (Atom)