Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Februari 2015
Baca: 1 Raja-Raja 17:7-24
"Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kauucapkan itu adalah benar." 1 Raja-Raja 17:24
Ketika mengalami masalah berat umumnya kita langsung menyerah pada keadaan, tidak mau berbuat sesuatu, hanya diam di tempat dan mengasihani diri sendiri. Kita jadi malas berdoa, ogah baca Alkitab dan tidak semangat beribadah. Ini salah besar! Jika ingin keadaan berubah kita pun harus berani membuat perubahan.
Pada waktu Elia mengalami masalah berat karena sungat Kerit yang mengering ia mau melangkah menaati perintah Tuhan, padahal sungai Kerit sudah menjadi zona nyaman baginya. Elia meninggalkan zona nyaman itu dengan perintah Tuhan: "...pergi ke Sarfat, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan." (1 Raja-Raja 17:9). Ingin dipulihkan Tuhan? Kita harus berani meninggalkan zona nyaman kita. Sesungguhnya Elia punya alasan kuat kuatir pergi ke Sarfat, karena Sarfat adalah wilayah Sidon, sedangkan raja Sidon adalah orang tua Izabel (renungan 17 Februari 2015). Tapi Tuhan justru menyuruh Elia tinggal di Sidon. Kata tinggal berarti berada di tempat itu dalam kurun waktu tertentu. Jadi meski kuatir, Elia tetap mengikuti kehendak Tuhan.
Hari-hari ini banyak orang kuatir akan masa depan hidupnya karena BBM naik per-18 November 2014 lalu, yang secara otomatis berdampak pada naiknya harga kebutuhan hidup lainnya. Kata-kata yang ada di pikiran kita hanyalah: tidak mungkin, mustahil, apa bisa; karena segala sesuatu kita ukur dengan logika kita. Terkadang perintah Tuhan sangat tidak masuk akal, namun ketika kita taat kita akan melihat perkara-perkara ajaib dinyatakan. Di Sarfat Elia diutus Tuhan untuk menemui janda miskin yang hanya mempunyai segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Meski ia sendiri berada dalam kesulitan Elia tetap melangkah mengerjakan tugasnya, bahkan ia mampu menguatkan orang lain dan menjadi saluran berkat. "Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli
itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke
atas muka bumi." (1 Raja-Raja 17:14).
Ketaatan dan ketidakkuatiran adalah kunci mengubah situasi yang buruk menjadi penuh berkat!
Friday, February 20, 2015
Thursday, February 19, 2015
TUHAN SANGGUP MEMELIHARA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Februari 2015
Baca: 1 Raja-Raja 19:1-6
"Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu." 1 Raja-Raja 17:6
Kekeringan boleh saja melanda di segala tempat tapi berkat Tuhan tidak bergantung situasi. Di tengah kekeringan sekalipun, ketika semua orang mengalami kesukaran, Elia tetap mengalami kebaikan Tuhan.
Dengan cara-Nya yang ajaib dan sangat tidak masuk akal Tuhan menyediakan segala yang dibutuhkan oleh Elia. "Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu." (ayat nas). Bagi setiap orang yang mau membayar harga untuk hidup taat kepada Tuhan, pasti ada upah. "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9). Pemeliharaan Tuhan terhadap Elia tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Ketika sungai Kerit itu mulai kering dan tidak ada lagi airnya, sepertinya Elia akan bernasib sama dengan orang lain dan tidak lagi punya harapan untuk hidup. Tetapi firman Tuhan menegaskan bahwa bagi orang percaya "...masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang." (Amsal 23:18). Sesuatu yang kita harapkan menjadi kering dan secara manusia tidak ada pertolongan, di tambah lagi omongan-omongan negatif orang lain seringkali melemahkan dan membuat kita putus asa.
Apa yang dialami Elia kiranya menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk tetap semangat menjalani hidup ini karena kita mempunyai Tuhan yang layak diandalkan, sebab Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang tidak pernah mengenal kekeringan. "Hujan yang melimpah Engkau siramkan, ya Allah; Engkau memulihkan tanah milik-Mu yang gersang, sehingga kawanan hewan-Mu menetap di sana; dalam kebaikan-Mu Engkau memenuhi kebutuhan orang yang tertindas, ya Allah." (Mazmur 68:10-11). Ketika sungai Kerit mengering Elia diperintahkan Tuhan untuk pergi ke Sarfat, yang termasuk dalam wilayah Sidon, sebab Tuhan telah menyiapkan berkat bagi Elia melalui janda miskin bersama anaknya, yang akan menjamu dia di masa kekeringan.
"Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takut akan Engkau," Mazmur 31:20
Baca: 1 Raja-Raja 19:1-6
"Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu." 1 Raja-Raja 17:6
Kekeringan boleh saja melanda di segala tempat tapi berkat Tuhan tidak bergantung situasi. Di tengah kekeringan sekalipun, ketika semua orang mengalami kesukaran, Elia tetap mengalami kebaikan Tuhan.
Dengan cara-Nya yang ajaib dan sangat tidak masuk akal Tuhan menyediakan segala yang dibutuhkan oleh Elia. "Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu." (ayat nas). Bagi setiap orang yang mau membayar harga untuk hidup taat kepada Tuhan, pasti ada upah. "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9). Pemeliharaan Tuhan terhadap Elia tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Ketika sungai Kerit itu mulai kering dan tidak ada lagi airnya, sepertinya Elia akan bernasib sama dengan orang lain dan tidak lagi punya harapan untuk hidup. Tetapi firman Tuhan menegaskan bahwa bagi orang percaya "...masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang." (Amsal 23:18). Sesuatu yang kita harapkan menjadi kering dan secara manusia tidak ada pertolongan, di tambah lagi omongan-omongan negatif orang lain seringkali melemahkan dan membuat kita putus asa.
Apa yang dialami Elia kiranya menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk tetap semangat menjalani hidup ini karena kita mempunyai Tuhan yang layak diandalkan, sebab Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang tidak pernah mengenal kekeringan. "Hujan yang melimpah Engkau siramkan, ya Allah; Engkau memulihkan tanah milik-Mu yang gersang, sehingga kawanan hewan-Mu menetap di sana; dalam kebaikan-Mu Engkau memenuhi kebutuhan orang yang tertindas, ya Allah." (Mazmur 68:10-11). Ketika sungai Kerit mengering Elia diperintahkan Tuhan untuk pergi ke Sarfat, yang termasuk dalam wilayah Sidon, sebab Tuhan telah menyiapkan berkat bagi Elia melalui janda miskin bersama anaknya, yang akan menjamu dia di masa kekeringan.
"Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takut akan Engkau," Mazmur 31:20
Subscribe to:
Posts (Atom)