Saturday, July 21, 2012

ORANG KRISTEN: Harus Bisa Menjaga Perkataan!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Juli 2012 -

Baca:  Kolose 4:1-6

"Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang."  Kolose 4:6

Topik hari ini adalah mengingatkan kita agar berhati-hati dengan mulut/ucapan kita, karena kekuatan dari perkataan adalah sangat luar biasa.  Apalagi kita sebagai anak-anak Tuhan harus bisa menjadi teladan/kesaksian bagi orang-orang di luar Tuhan, salah satunya melalui ucapan mulut kita.  "Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu."  (1 Timotius 4:12b).

     Banyak orang Kristen yang ketika berada di luar 'area suci' (gereja) tidak bisa menguasai mulutnya:  masih suka mengumpat, berkata-kata kasar, jorok, membicarakan kelemahan/kekurangan pendeta (gosip) dan sebagainya.  Dalam amsal 20:19 dikatakan,  "Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut."  Mulut kita bisa menjadi sangat powerful (berkuasa).  Ada banyak orang yang beroleh kekuatan dan dibangkitkan semangat hidupnya akibat mendengarkan perkataan dari orang lain.  Sebaliknya ada pula yang menjadi terluka, hancur, frustasi dan putus asa oleh karena terbunuh oleh perkataan yang disampaikan oleh orang lain.

     Lalu, bagaimana seharusnya perkataan orang Kristen itu?  1.  Perkataan penuh kasih.  Artinya suatu perkataan yang penuh dengan keramahan dan didasari oleh kasih setelah terlebih dahulu dipertimbangkan dengan matang, sehingga orang lain yang mendengarnya dibangun, dikuatkan, dihibur serta didorong ke arah yang baik.  Karena itu  "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia."  (Efesus 4:29).  2.  Perkataan yang menyampaikan firman.  Tertulis:  "Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah;"  (1 Petrus 4:11a).  Ini bukan berarti kita menggurui atau sok pintar, tetapi perkataan kita hendaknya sesuai dengan firman Tuhan, bermuatan kesaksian dan nasihat sehingga orang yang mendengarnya diberkati.

Bagaimana dengan perkataan Saudara selama ini?

Friday, July 20, 2012

HORMAT DAN PUJIAN UNTUK DIRI SENDIRI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Juli 2012 -

Baca:  2 Korintus 10:12-18

"Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan."  2 Korintus 10:18

Apa tujuan Saudara melayani Tuhan atau terlibat pelayanan pekerjaan Tuhan?  Memberikan yang terbaik untuk Tuhan sesuai dengan talenta dan karunia yang Dia beri, ingin tampil dan dilihat banyak orang, atau supaya terkenal dan beroleh pujian dari orang lain?

     Firman Tuhan dengan tegas menyatakan bahwa setiap kita, terlebih para pelayan Tuhan, tidak diperkenankan mencari penghargaan, hormat dan pujian dari orang lain ketika kita melayani pekerjaan Tuhan.  Itu sangat dibenci oleh Tuhan!  Dia berkata,  "Masakan engkau mencari hal-hal yang besar bagimu sendiri? Janganlah mencarinya! Sebab, sesungguhnya, Aku mendatangkan malapetaka atas segala makhluk,..."  (Yeremia 45:5).  Bila kita berusaha untuk menjadi yang terbesar di dalam pelayanan, kita tidak akan pernah dapat mencapainya karena hal itu sangat bertentangan dengan kehendak Tuhan.  Dalam Kerajaan Sorga justru mereka yang dianggap 'kecil' di pemandangan manusialah akan menjadi yang terbesar (baca Lukas 9:48c).  Nabi Yesaya pun telah menubuatkan,  "Yang paling kecil akan menjadi kaum yang besar, dan yang paling lemah akan menjadi bangsa yang kuat; Aku, Tuhan, akan melaksanakannya dengan segera pada waktunya."  (Yesaya 60:22).  Karena itulah Rasul Paulus sangat berhati-hati dalam pelayanan, tak membiarkan dirinya terlena oleh sanjungan manusia, apalagi sampai memuji diri sendiri atau membanggakan diri.  Ia berusaha rendah hati dan sebisa mungkin tidak meninggikan diri, tapi memberikan segala hormat, pujian dan kemuliaan hanya bagi Tuhan.  Inilah pernyataannya,  "juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus."  (1 Tesalonika 2:6).

     Keberhasilan seseorang dalam pelayanan adalah karena campur tangan Tuhan, bukan karena kuat dan gagahnya.  Seorang pelayan Tuhan yang benar tidak akan memperhatikan penghormatan dan pujian dari manusia.  Ia akan berusaha menarik perhatian orang hanya kepada Tuhan Yesus, bukan pada dirinya sendiri.

Tujuan utama pelayanan adalah memuliakan nama Tuhan, bukan mencari hormat dan pujian bagi diri sendiri!