Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Juli 2012 -
Baca: Filipi 4:11
"...sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan." Filipi 4:11
Sudah menjadi sifat manusia tidak puas dengan apa yang ada atau dimilikinya. Inginnya mendapatkan lebih dan lebih seperti ada tertulis: "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya." (Pengkotbah 5:9a). Sifat tidak puas terhadap uang atau kekayaan telah mendorong banyak orang untuk melakukan tindakan yang melanggar hukum atau bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan, dan rasa-rasanya tradisi tidak punya malu ini sudah kian mewabah di berbagai kalangan. Itulah sebabnya sejak dulu Yohanes Pembaptis memperingatkan para pemungut pajak (yaitu orang-orang yang bekerja di kantor pajak), "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu." (Lukas 3:13), dan juga para prajurit (yaitu karyawan, pegawai), "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu." (Lukas 3:14b).
Mari belajar dari sikap hidup Rasul paulus yang di segala keadaan tetap bisa mengucap syukur: "Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam
segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan
rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik
dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan." (Filipi 4:12). Mengapa Rasul Paulus tetap bisa puas dan bersyukur? Karena dia tahu bahwa "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (Filipi 4:13). Bagi Paulus kepuasan bukan lagi ditentukan oleh kekurangan atau kelebihan, melainkan menerima dengan sukacita berapa pun porsi berkat yang Tuhan tetapkan untuk kita.
Ketidakpuasan yang tanpa batas dalam diri seseorang akan membawa kepada keserakahan dan ketamakan, akibatnya orang akan selalu merasa kurang dan tidak pernah cukup. Meski telah mengecap pertolongan dan kebaikan Tuhan, bangsa Israel tidak pernah merasa puas sehingga yang keluar dari mulutnya hanyalah keluh kesah dan persungutan. Maka, mari belajar untuk mengucap syukur di segala keadaan!
"Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar." 1 Timotius 6:6-7
Tuesday, July 17, 2012
Monday, July 16, 2012
IMAN: Kunci Mengalahkan Ketakutan! (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Juli 2012 -
Baca: Markus 4:35-41
"Lalu Ia berkata kepada mereka: 'Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?'" Markus 4:40
Dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus menegaskan bahwa Tuhan tidak memberikan kepada kita roh ketakutan. Artinya bahwa roh ketakutan itu bukan berasal dari Tuhan melainkan dari Iblis yang berusaha untuk melemahkan dan menghancurkan kehidupan orang percaya.
Jika seseorang terus dikuasai oleh rasa takut, ia tidak akan dapat melangkah maju menggapai berkat Tuhan karena yang tertanam di hatinya hanyalah: "Tidak mungkin, terlalu sukar, aku pasti tidak mampu" seperti yang dialami oleh 10 pengintai yang diutus Musa. Mereka dan orang-orang yang terpengaruh laporannya akhirnya tidak bisa menikmati janji Tuhan. Sebaliknya Kaleb dan Yosua dapat mencapai tanah Perjanjian karena keduanya dapat mengalahkan roh ketakutan itu. Ketakutan yang terus dipelihara hanya akan membawa kita kepada kegagalan, dan menghalangi kita untuk melihat perkara-perkara besar yang dikerjakan Tuhan. Tidak seharusnya anak-anak Tuhan menjalani hari-harinya dengan penuh ketakutan sebab Tuhan Yesus sudah memberikan kepada kita seorang Penolong yaitu Roh Kudus, di mana "...Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia." (1 Yohanes 4:4b). Ada dasar yang sangat kuat bagi kita untuk tidak takut menghadapi apa pun, yaitu Roh Kudus yang ada di dalam kita, dimana Ia lebih besar daripada roh apa pun yang ada di dunia ini; itulah sumber kekuatan kita.
Begitu banyak peristiwa yang sedang terjadi di dunia ini; krisis, bencana alam, huru-hara, ataupun yang diprediksi akan terjadi di waktu-waktu mendatang. Jangan takut dan gemetar! Tetap kuatkan iman dan percayakan hidup kita kepada Tuhan. Para murid menjadi sangat ketakutan ketika ada "...taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu," (Markus 4:37). Bukankah hidup kita ini ibarat perahu yang sedang berlayar di tengah lautan luas, yang kadangkala dihantam ombak dan gelombang besar? Ketakutan datang ketika kita mengandalkan kekuatan sendiri.
Bila kita memiliki iman dan percaya penuh kebenaran firmanNya, kita dapat melewati badai apa pun dengan penuh kemenangan, karena Tuhan di pihak kita!
Baca: Markus 4:35-41
"Lalu Ia berkata kepada mereka: 'Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?'" Markus 4:40
Dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus menegaskan bahwa Tuhan tidak memberikan kepada kita roh ketakutan. Artinya bahwa roh ketakutan itu bukan berasal dari Tuhan melainkan dari Iblis yang berusaha untuk melemahkan dan menghancurkan kehidupan orang percaya.
Jika seseorang terus dikuasai oleh rasa takut, ia tidak akan dapat melangkah maju menggapai berkat Tuhan karena yang tertanam di hatinya hanyalah: "Tidak mungkin, terlalu sukar, aku pasti tidak mampu" seperti yang dialami oleh 10 pengintai yang diutus Musa. Mereka dan orang-orang yang terpengaruh laporannya akhirnya tidak bisa menikmati janji Tuhan. Sebaliknya Kaleb dan Yosua dapat mencapai tanah Perjanjian karena keduanya dapat mengalahkan roh ketakutan itu. Ketakutan yang terus dipelihara hanya akan membawa kita kepada kegagalan, dan menghalangi kita untuk melihat perkara-perkara besar yang dikerjakan Tuhan. Tidak seharusnya anak-anak Tuhan menjalani hari-harinya dengan penuh ketakutan sebab Tuhan Yesus sudah memberikan kepada kita seorang Penolong yaitu Roh Kudus, di mana "...Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia." (1 Yohanes 4:4b). Ada dasar yang sangat kuat bagi kita untuk tidak takut menghadapi apa pun, yaitu Roh Kudus yang ada di dalam kita, dimana Ia lebih besar daripada roh apa pun yang ada di dunia ini; itulah sumber kekuatan kita.
Begitu banyak peristiwa yang sedang terjadi di dunia ini; krisis, bencana alam, huru-hara, ataupun yang diprediksi akan terjadi di waktu-waktu mendatang. Jangan takut dan gemetar! Tetap kuatkan iman dan percayakan hidup kita kepada Tuhan. Para murid menjadi sangat ketakutan ketika ada "...taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu," (Markus 4:37). Bukankah hidup kita ini ibarat perahu yang sedang berlayar di tengah lautan luas, yang kadangkala dihantam ombak dan gelombang besar? Ketakutan datang ketika kita mengandalkan kekuatan sendiri.
Bila kita memiliki iman dan percaya penuh kebenaran firmanNya, kita dapat melewati badai apa pun dengan penuh kemenangan, karena Tuhan di pihak kita!
Subscribe to:
Posts (Atom)