Monday, July 9, 2012

MENELADANI HIDUP SEORANG ATLET (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Juli 2012 -

Baca:  1 Timotius 2:1-7

"Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga."  2 Timotius 2:5

Susi Susanti adalah salah satu atlet legenda yang dimiliki bangsa Indonesia.  Prestasinya sangat fenomenal di cabang bulutangkis.  Gelar yang diraih Susi Susanti diantaranya adalah:  juara All England 4 kali  (1990, 1991, 1993 dan 1994), juara dunia tahun 1993, juara final grandprix sebanyak 6 kali  (1990-1994 dan 1996), dan belum termasuk gelar di turnamen-turnamen terbuka lainnya.  Ada pun gelar terbesarnya adalah ketika ia merebut mendali emas di ajang Olimpiade Barcelona 1992.  Ini adalah sejarah emas pertama yang diraih bangsa Indonesia sepanjang keikutsertaannya dalam olimpiade.

     Meraih prestasi seperti Susi Susanti adalah pekerjaan yang tidak mudah bagi seorang atlet, ada harga yang harus dibayar.  Tekun dalam berlatih, mau bekerja keras, tidak manja, tidak mudah putus asa dan berkeyakinan kuat (mental juara) adalah kunci kemenangan seorang atlet.  Tanpa itu semua mustahil seorang atlet akan meraih prestasi yang luar biasa.  Itulah sebab Rasul Paulus menasihatkan agar kita mau belajar dan meneladani perjuangan atlet di gelanggang pertandingan, karena perjalanan kekristenan kita juga diibaratkan seperti berada di gelanggang pertandingan iman:  "Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.  Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.  Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak."  (1 Korintus 9:25-27).  Jadi tidak ada istilah 'leha-leha' dalam menjalankan kekristenan kita.  Sebaliknya kita harus berusaha keras mengerjakan keselamatan kita ini dengan hati yang takut dan gentar karena kedatangan Tuhan yang sudah semakin dekat.

     Jika saat ini kita dipercaya dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, biarlah kita lakukan dengan setia dan penuh ketaatan karena tidak semua orang beroleh kesempatan itu.  Inilah yang dilakukan Rasul Paulus:  "...berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus."  Filipi 3:14
(Bersambung)

Sunday, July 8, 2012

BERMULA DARI HAL-HAL KECIL

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Juli 2012 -

Baca:  Lukas 16:10-12

"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar."  Lukas 16:10a

Saudara, jangan pernah meremehkan atau mengabaikan perkara-perkara kecil dalam kehidupan kita.  Bermula dari hal-hal kecillah perkara besar akhirnya terjadi.  Banyak orang merasa enggan memulai sesuatu dari hal-hal kecil, maunya langsung mengerjakan perkara-perkara besar.  Contohnya dalam hal pelayanan, tidak sedikit jemaat yang inginnya langsung terlibat dalam pelayanan yang besar, berada di atas mimbar atau bisa dilihat oleh banyak orang:  menjadi pembicara (pengkhotbah) atau worship leader di gereja-gereja besar.  Sementara ketika diutus untuk memulai pelayanan di gereja-gereja kecil, gereja di desa atau di kampung yang jumlah jemaatnya hanya sedikit dan dari kalangan orang-orang sederhana, kita merasa enggan dan berbagai alasan kita kemukakan untuk menghindar dari pelayanan.

     Untuk menjadi 'besar' harus dimulai dari bawah, melalui proses, baik dalam hal kesetiaan, ketekunan dan juga komitmen.  Jika dari hal-hal kecil saja kita tidak mau setia, bagaimana Tuhan akan mempercayakan perkara-perkara besar kepada kita?  Karena itu mari belajar setia mengerjakan tugas dan kepercayaan dari Tuhan meski kelihatannya itu sederhana dan 'kecil' menurut penilaian manusia.  Daud adalah contoh orang yang setia dari hal-hal kecil.  Ketika diperintahkan menggembalakan domba oleh ayahnya, yang hanya berjumlah 2-3 ekor saja, ia begitu setia dan tekun, bahkan rela mempertaruhkan nayawanya untuk melindungi domba-dombanya dari binatang buas.  Karena kesetiaannya, akhirnya Tuhan mempercayakan hal besar kepada Daud:  menjadi raja atas Israel.

     Kesetiaan adalah karakter yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya jika ingin mendapatkan promosi dari Tuhan atau dipercaya hal-hal besar.  Dalam Amsal 19:22 dikatakan:  "Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;"  Harus kita ingat bahwa keberhasilan tidak bisa diraih dalam sekejap mata, semuanya melalui tahap demi tahap dan pastilah dimulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu.  Jadi kesetiaan kita mengerjakan perkara-perkara kecil akan menuntun kita kepada keberhasilan.

Kesalahan-kesalahan kecil yang terus kita abaikan pada saatnya akan berakibat fatal yaitu kegagalan.