Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Juli 2012 -
Baca: Mazmur 91:1-6
"Sebab Tuhan ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu," Mazmur 91:9
Mazmur 91 ini adalah satu mazmur yang berisikan tentang janji perlindungan Tuhan bagi orang percaya. Keamanan, ketenangan dan kedamaian adalah dambaan semua insan di dunia ini. Namun, adakah tempat di mana seseorang dapat terlindungi dengan aman? Tidak ada tempat di belahan bumi mana pun yang dapat menjamin seseorang merasa aman dan terlindungi. Seorang presiden, pejabat tinggi Negara atau artis bisa saja punya pengawal bersenjata yang menyertainya ke mana saja mereka pergi bertugas; orang kaya boleh saja memiliki satpam yang berjaga-jaga selama 24 jam di rumahnya, namun tidak bisa menjamin keamanan mereka 100% karena bagaimanapun juga para pengawal adalah manusia biasa yang terbatas kekuatan dan kemampuannya.
Pemazmur berkata, "Jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga." (Mazmur 127:1b). Satu-satunya Pribadi yang dapat memberikan perlindungan yang sempurna, sehingga kita akan merasa aman, tenang dan damai adalah Tuhan. Tidak ada yang lain! Memang, Tuhan tidak pernah berjanji perjalanan hidup kita tidak akan terlepas dari masalah, tantangan dan pergumulan, tapi Ia berjanji akan senantiasa menyertai kita, menopang, menguatkan, melindungi dan memberi pertolongan saat kita diperhadapkan dengan semuanya itu.
Jadi perlindungan yang sempurna akan dialami oleh orang-orang yang senantiasa mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Perlindungan adalah satu bagian berkat yang Tuhan sediakan. "Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!" (Yeremia 17:7), sebaliknya, "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!" (Yeremia 17:5), dan "Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang
mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu
banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi
tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari
Tuhan." (Yesaya 31:1).
Jaminan perlindungan kita adalah Tuhan!
Sunday, July 1, 2012
Saturday, June 30, 2012
HIDUP YANG BERHASIL ADALAH RENCANA TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Juni 2012 -
Baca: Ayub 42:1-6
"Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal." Ayub 42:2
Tak seorang pun dari kita ingin menjadi orang gagal dan terpuruk, melainkan menjadi orang berhasil dan sukses dalam segala hal. Mungkinkah? Sangat mungkin! Karena hidup yang berhasil dan diberkati adalah rancangan Tuhan bagi anak-anakNya. Memang untuk berhasil tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terkadang kita harus menghadapi banyak sekali ujian, tantangan dan harga yang harus dibayar. Banyak contoh tokoh besar dalam Alkitab yang sebelum mengalami penggenapan janji Tuhan dan diberkati harus mengalami proses demi proses lebih dahulu.
Ayub adalah seorang yang berhasil. Sebagai orang yang berhasil bukan berarti Ayub tidak pernah gagal dalam hidupnya. Ayub pun harus mengalami kegagalan demi kegagalan, penderitaan dan keterpurukan. Namun Ayub tidak pernah menyerah dan putus asa di tengah jalan. Ia tetap bangkit dan mengarahkan pandangannya kepada Tuhan. Ayub tetap bersyukur kepada Tuhan. Di tengah keterpurukannya Ayub masih bisa berkata, "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!" (Ayub 1:21) dan "Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya." (Ayub 2:10b).
Gagal bukan akhir segalanya. Tetaplah mengucap syukur seperti Ayub, karena kegagalan bukan rencana Tuhan walau terkadang Tuhan ijinkan kegagalan itu terjadi supaya kita belajar tidak sombong, dan belajar bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Kegagalan mengingatkan kita untuk introspeksi diri, mungkin selama ini kita mengandalkan kekuatan sendiri dan tidak melibatkan Tuhan dalam setiap rencana kita. Kadang kita diijinkan gagal supaya kita tidak sombong dan mengajar kita untuk berharap dan bergantung kepada Tuhan dalam segala hal.
Di tengah proses yang ada Ayub tidak keluar dari jalan Tuhan dan tetap melekat kepadaNya; dan janji Tuhan itu ya dan amin, Tuhan memberkati Ayub "...dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu." Ayub 42:10
Baca: Ayub 42:1-6
"Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal." Ayub 42:2
Tak seorang pun dari kita ingin menjadi orang gagal dan terpuruk, melainkan menjadi orang berhasil dan sukses dalam segala hal. Mungkinkah? Sangat mungkin! Karena hidup yang berhasil dan diberkati adalah rancangan Tuhan bagi anak-anakNya. Memang untuk berhasil tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terkadang kita harus menghadapi banyak sekali ujian, tantangan dan harga yang harus dibayar. Banyak contoh tokoh besar dalam Alkitab yang sebelum mengalami penggenapan janji Tuhan dan diberkati harus mengalami proses demi proses lebih dahulu.
Ayub adalah seorang yang berhasil. Sebagai orang yang berhasil bukan berarti Ayub tidak pernah gagal dalam hidupnya. Ayub pun harus mengalami kegagalan demi kegagalan, penderitaan dan keterpurukan. Namun Ayub tidak pernah menyerah dan putus asa di tengah jalan. Ia tetap bangkit dan mengarahkan pandangannya kepada Tuhan. Ayub tetap bersyukur kepada Tuhan. Di tengah keterpurukannya Ayub masih bisa berkata, "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!" (Ayub 1:21) dan "Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya." (Ayub 2:10b).
Gagal bukan akhir segalanya. Tetaplah mengucap syukur seperti Ayub, karena kegagalan bukan rencana Tuhan walau terkadang Tuhan ijinkan kegagalan itu terjadi supaya kita belajar tidak sombong, dan belajar bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Kegagalan mengingatkan kita untuk introspeksi diri, mungkin selama ini kita mengandalkan kekuatan sendiri dan tidak melibatkan Tuhan dalam setiap rencana kita. Kadang kita diijinkan gagal supaya kita tidak sombong dan mengajar kita untuk berharap dan bergantung kepada Tuhan dalam segala hal.
Di tengah proses yang ada Ayub tidak keluar dari jalan Tuhan dan tetap melekat kepadaNya; dan janji Tuhan itu ya dan amin, Tuhan memberkati Ayub "...dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu." Ayub 42:10
Subscribe to:
Posts (Atom)