Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Juli 2011 -
Baca: 2 Timotius 3:1-9
"Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang." 2 Timotius 3:2a
Saat ini krisis kasih terjadi di mana-mana, entah dalam kehidupan masyarakat, bangsa, bahkan juga gereja. Ayat 2-4 menggambarkan keadaan manusia di akhir zaman ini. Intinya: manusia kini memiliki kencenderungan mencintai dirinya sendiri dan tidak lagi mengasihi orang lain. Kini karakter kasih sulit sekali ditemukan dalam diri manusia.
Kasih mudah diucapkan, tapi untuk mempraktekkan ada harga yang harus dibayar. Kebanyakan orang menjadikan kasih hanya sebagai slogan saja, tapi ketika dihadapkan pada dunia nyata, kasih hanyalah bayang-bayang dan yang sering muncul justru hal-hal sebaliknya. Bagaimana reaksi kita saat dibenci, difitnah dan disakiti oleh orang lain? Setiap kali kita diperlakukan secara buruk atau menyakitkan selalu timbul keinginan untuk membalas dengan perlakukan yang sama atau malah bahkan lebih buruk. Perhatikan apa yang dikatakan Tuhan Yesus, "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:44). Kasih adalah satu-satunya kekuatan yang mampu mengubah lawan menjadi kawan!
Ada banyak hal yang membuat kita tidak dapat menunjukkan kasih kepada sesama. Terkadang kita sudah berusaha mengasihi orang-orang yang membenci kita. Tetapi mereka terus memperlakukan kita dengan buruk sehingga kekuatan kita mulai melemah. Kasih kita menjadi semakin berkurang dan lambat laun menjadi pudar, dan sebagai gantinya, karakter-karakter lama kita kembali muncul. Supaya kita bisa mengasihi orang lain secara bijaksana di tengah situasi yang sulit, adalah baik merenungkan betapa besar kasih Allah kepada kita. Seharusnya hati kita menjadi hancur bila kita mengingat-ingat bagaimana Tuhan berulang-ulang mengampuni kita dan bersabar terhadap kita, padahal kita seringkali memberontak dan menyakiti Dia dengan ketidaktaatan kita. Lalu, bagaimana mungkin kita terus membenci orang lain sedangkan Allah terus-menerus menunjukkan kasihNya kepada kita, sekalipun kita berdosa padaNya? Bahkan, Ia rela menanggung penderitaan karena dosa-dosa kita sehingga kita beroleh keselamatan. Alkitab menyatakan, "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8).
Allah adalah kasih; jika kita tidak mengasihi kita meyangkal Allah dan meragukan kasihNya dalam Yesus Kristus.
Thursday, July 21, 2011
Wednesday, July 20, 2011
TAAT ADALAH BUKTI KITA MENGERTI KEHENDAK TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Juli 2011 -
Baca: 1 Petrus 4:1-6
"Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, -karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa-, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah." 1 Petrus 4:1-2
Penderitaan dan sampai pada kematian yang dialami oleh Yesus telah dinubuatkan ribuan tahun sebelumnya (baca Yesaya 53:1-12). Dikatakan bahwa, "...Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak Tuhan akan terlaksana olehnya." (Yesaya 53:10). Jadi, penderitaan dan kematian Yesus merupakan kehendak Allah yang tidak bisa dibatalkan oleh siapa pun. Hal itu adalah perwujudan kasih Allah kepada dunia ini, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yangtunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16). Sebagai orang percaya kita merindukan kehendak Tuhan terjadi dalam kehidupan kita, tetapi tanpa disadari kita sendirilah yang justru sering membatalkan kehendak Tuhan itu oleh karena ketidaktaatan kita atau pemberontakan kita.
Kehendak Bapa dalam diri Yesus tergenapi secara sempurna oleh sebab Yesus taat sepenuhnya kepada Bapa, bahkan Ia taat sampai mati di atas kayu salib. Secara fisik Yesus memang harus mengalami penderitaan yang luar biasa, tapi secara roh, kuasa Allah sungguh nyata dalam kehidupanNya.
Bagaimana kita mengerti kehendak Tuhan? Tidak ada jalan lain selain kita harus belajar untuk tunduk sepenuhnya pada pimpinan Roh Kudus dan tidak lagi hidup menuruti daging (baca Galatia 5:16), sebab orang yang hidup dalam kedagingan tidak mungkin berkenan kepada Tuhan. Roh Kudus akan berkarya dalam kehidupan kita jikalau kita taat melakukan kehendak Tuhan. Kita harus berani menghadapi banyak penderitaan. Bukan berarti kita harus hidup miskin, sengsara atau sakit-sakitan, tetapi kata menderita di sini dikarenakan kita melakukan kehendak Tuhan dan melawan dosa.
Saat ini kita hidup di penghujung zaman, saat di mana Tuhan sedang melakukan penampian dan hanya orang-orang yang melakukan kehendak Tuhanlah yang berhak menikmati janji-janjiNya!
Baca: 1 Petrus 4:1-6
"Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, -karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa-, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah." 1 Petrus 4:1-2
Penderitaan dan sampai pada kematian yang dialami oleh Yesus telah dinubuatkan ribuan tahun sebelumnya (baca Yesaya 53:1-12). Dikatakan bahwa, "...Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak Tuhan akan terlaksana olehnya." (Yesaya 53:10). Jadi, penderitaan dan kematian Yesus merupakan kehendak Allah yang tidak bisa dibatalkan oleh siapa pun. Hal itu adalah perwujudan kasih Allah kepada dunia ini, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yangtunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16). Sebagai orang percaya kita merindukan kehendak Tuhan terjadi dalam kehidupan kita, tetapi tanpa disadari kita sendirilah yang justru sering membatalkan kehendak Tuhan itu oleh karena ketidaktaatan kita atau pemberontakan kita.
Kehendak Bapa dalam diri Yesus tergenapi secara sempurna oleh sebab Yesus taat sepenuhnya kepada Bapa, bahkan Ia taat sampai mati di atas kayu salib. Secara fisik Yesus memang harus mengalami penderitaan yang luar biasa, tapi secara roh, kuasa Allah sungguh nyata dalam kehidupanNya.
Bagaimana kita mengerti kehendak Tuhan? Tidak ada jalan lain selain kita harus belajar untuk tunduk sepenuhnya pada pimpinan Roh Kudus dan tidak lagi hidup menuruti daging (baca Galatia 5:16), sebab orang yang hidup dalam kedagingan tidak mungkin berkenan kepada Tuhan. Roh Kudus akan berkarya dalam kehidupan kita jikalau kita taat melakukan kehendak Tuhan. Kita harus berani menghadapi banyak penderitaan. Bukan berarti kita harus hidup miskin, sengsara atau sakit-sakitan, tetapi kata menderita di sini dikarenakan kita melakukan kehendak Tuhan dan melawan dosa.
Saat ini kita hidup di penghujung zaman, saat di mana Tuhan sedang melakukan penampian dan hanya orang-orang yang melakukan kehendak Tuhanlah yang berhak menikmati janji-janjiNya!
Subscribe to:
Comments (Atom)