Sunday, July 17, 2011

MENGALAMI KERAJAAN ALLAH: Menjadi Seperti Anak Kecil

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Juli 2011 -

Baca:  Markus 10:13-16

"Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah."  Markus 10:14

Tuhan Yesus rindu agar umatNya mengalami Kerajaan Allah dalam hidupnya, yang bukan saja akan kita alami saat kita bertemu dengan Dia di sorga kelak, tetapi Kerajaan Allah itu seharusnya juga kita alami saat kita masih hidup di bumi ini.  Ada pun yang menjadi ukuran bahwa kita mengalami kerajaanNya bukanlah dari banyaknya harta yang kita miliki (uang, mobil mewah, rumah megah) atau tingginya jabatan dan kedudukan kita dalam masyarakat,.  "Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus."  (Roma 14:17).  Mengalami Kerajaan Allah berarti dalam hidup kita ada sukacita, ketenangan, damai sejahtera dan sebagainya.

     Bagaimana caranya agar kita bisa mengalami KerajaanNya?  Kita harus menjadi seperti seorang anak kecil:  1.  Sederhana dan polos.  Sedangkan lawan dari sederhana dan polos adalah licik.  Contohnya adalah Yudas Iskariot.  Saat di taman Getsemani ia mencium Yesus, padahal di balik itu ada niat jahat, yaitu hendak menjual Yesus.  Orang yang hidup dalam kemunafikan (bermuka dua) tidak akan mengalami Kerajaan Allah dalam hidupnya.

     2.  Mudah untuk diajar.  Dalam Amsal 9:9 dikatakan,  "berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah."  Seorang anak kecil juga mudah untuk diajar.  Sudahkah kita memiliki hati yang mudah diajar dan dibentuk?  Ataukah hati kita masih keras dan sulit menerima teguran?  Bukankah masih banyak orang Kristen yang sulit sekali menerima teguran?  Kita gampang sekali tersinggung dan sakit hati ketika menerima firman Tuhan yang keras.  Ayub berkata,  "Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah;  sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.  Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat;  dia yang memukuli, tetapi yang di tangan-Nya menyembuhkan pula."  (Ayub 5:17-18).

     3.  Percaya penuh pada bapanya.  Seorang anak kecil memiliki kepercayaan penuh kepada ayahnya.  Ia tidak pernah kuatir tentag apa pun karena semua kebutuhannya terpenuhi.  Kita juga harus percaya penuh kepada Tuhan dan jangan sekali-kali  "...bersandar kepada pengertianmu sendiri."  (Amsal 3:5).

Kita harus berubah, supaya Kerajaan Allah dapat kita alami dan rasakan setiap hari.

Saturday, July 16, 2011

ELIA: Terancam dan Lelah!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Juli 2011 -

Baca:  Roma 8:31-39

"Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?"  Roma 8:32

Terancam merupakan situasi yang tidak nyaman, dan orang terancam itu pasti sangat menderita karena terus dihantui rasa takut dan was-was.  Seperti itulah yang dirasakan oleh Elia.  Ia menerima ancaman yang tidak main-main dari Izebel.  Setelah mendengar bahwa Elia telah berhasil membunuh empat ratus lima puluh nabi Baal, Izebel menjadi sangat geram dan melakukan ancaman terhadap Elia,  "...jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka."  (1 Raja-Raja 19:2).  Karena diancam hendak dibunuh hati Elia diliputi oleh perasaan takut yang luar biasa;  Elia kehilangan damai sejahtera, bahkan sepertinya ia sudah putus pengharapan dan ingin mati saja.

     Terkadang dalam hidup ini kita mengalami hal yang sama, kehilangan damai sejahtera dan sukacita, karena beratnya tekanan hidup.  Atau karena omongan orang lain yang berusaha untuk melemahkan dan merendahkan kita.  Iblis tidak pernah berhenti mendakwa adan mengintimidasi kita dengan mengungkit-ungkit kenangan buruk atau dosa-dosa masa lalu, sehingga kita pun menjadi lelah dan tak berdaya.  Jangan kuatir dan merasa terancam karena Tuhan sanggup menolong dan melepaskan kita dari persoalan-persoalan yang kita alami.  Dia Tuhan yang tidak hanya peduli, bahkan Ia turut merasakan apa yang telah kita rasakan (baca Ibrani 4:15).  Akibat merasa sendiri dan terancam hidupnya, Elia menjadi lelah dan rasa-rasanya ia sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan tugas pelayanan yang dipercayakan Tuhan padanya.  Namun Tuhan tidak tinggal diam, disuruhnyalah seorang malaikat untuk memberi dia makan dan minum.

     Mungkin saat ini kita merasa lelah dan tidak lagi bersemangat dalam melayani Tuhan,  "Aku mau mundur saja dari pelayanan ini.  Percuma, sudah berkorban banyak tapi tidak mendapat apa-apa"  Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita!  Jangan menyerah pada keadaan, tetapi kuatkan hati,  "...karena besar upah yang menantinya,"  (Ibrani 10:35).

Sekecil apa pun pengorbanan kita untuk Tuhan, diperhitungkanNya dan itu tidak pernah sia-sia!