Sunday, January 23, 2011

KISAH YAIRUS: Pertolongan yang Sempat Tertunda

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Januari 2011 -

Baca:  Markus 5:21-43

"Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?"  Markus 5:35

Alkitab menyatakan,  "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."  (Ibrani 11:1).  Artinya kita percaya meski belum melihat hasil.  Ketika kita beriman kepada Tuhan berarti kita percaya kepada Tuhan bahwa Dia berkuasa untuk melakukan mujizat.  Beriman kepada Tuhan juga berarti kita memiliki penyerahan penuh kepada Dia.  Berserah bukanlah suatu tindakan yang nekat, bukan pula suatu tindakan yang diambil karena kita sudah menemui jalan buntu.  Akan tetapi, berserah adalah tindakan yang lahir dari pergumulan yang positif karena menyadari bahwa Tuhan tidak akan mengecewakan orang yang berharap kepadaNya.  Tertulis:  "Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita."  (Roma 5:5).  Penyerahan diri kepada Tuhan adalah sebuah keputusan yang beresiko.

     Inilah yang dialami Yairus yang sedang terjepit pada suatu keadaan yang beresiko.  Ketika anaknya sedang sakit keras dan hampir mati, Yairus justru mengambil keputusan beresiko dengan meninggalkan anaknya itu dan pergi mencari Yesus yang diyakini dapat menyembuhkan anaknya.  Ketika sudah bertemu dengan Yesus dan hendak menuju rumahnya, di tengah jalan ada seorang wanita yang mengalami pendarahan selama 12 tahun sedang menjamah jubah Yesus, sehingga langkah Yesus pun jadi terhenti.  Tentunya kejadian ini membuat Yairus bertambah panik karena keadaan anaknya sangat kritis.  Meskipun demikian Yairus tetap setia menunggu, bukti bahwa ia sangat peduli akan penderitaan anaknya.  Namun datang kabar dari keluarganya bahwa anaknya akhirnya mati.  Maka bisa saja Yairus marah dan kecewa kepada Tuhan Yesus, karena Ia tidak dapat segera datang ke rumahnya.  Tapi Yairus sama sekali tidak terpengaruh dengan berita buruk yang didengarnya (ayat nas), ia tetap berharap dan menantikan Yesus bertindak.

     Seringkali berita-berita negatif membuat kita goyah dan tidak lagi berserah penuh kepada Tuhan.  Maka karena kesabarannya menantikan Tuhan, keluarga Yairus mengalami mujizat yaitu anaknya disembuhkan.

Jangan berhenti berharap pada Tuhan;  pada saat yang tepat Dia pasti bertindak.  Sungguh,  "Semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu;"  (Mazmur 25:3a).

Saturday, January 22, 2011

KESABARAN: Salah Satu Kunci Kesuksesan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Januari 2011 -

Baca:  Roma 12:9-21

"Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!"  Roma 12:12

Menjadi orang yang sabar, bisa nggak ya?  Pasti bisa.  Harus kita akui bahwa kesabaran adalah salah satu karakter yang dapat menunjang kesuksesan seseorang, tapi tidak mudah untuk dimiliki.  Bagi orang Kristen, memiliki kesabaran itu hukumnya adalah wajib, karena kesabaran adalah bagian dari buah-buah Roh.  Kesabaran itu sebuah kekuatan, bahkan kekuatannya melebihi seorang pahlawan dan orang yang merebut kota (baca  Amsal 16:32).  Ibarat tanaman, kesabaran itu harus dirawat dan dipupuk setiap saat supaya dapat tumbuh dengan subur, dan pada saatnya berbuah lebat.  Bila kita perhatikan, orang-orang yang sukses ternyata adalah orang-orang yang memiliki kesabaran.  Tanpa kesabaran sulit untuk meraih kesuksesan.  Banyak orang yang ingin berhasil dan sukses tapi tidak mau sabar dan tekun;  maunya sukses secara cepat (instant), tidak mau menderita.

     Kesabaran adalah kunci keberhasilan.  Cobalah bertanyalah kepada orang-orang sukses di sekitar Saudara, mereka pasti akan mengakui bahwa tidak ada keberhasilan tanpa kesabaran, karena keberhasilan itu tidak didapat secara kebetulan, melainkan melalui proses tahap demi tahap serta direncanakan dengan penuh kesabaran.  Kesabaran membuat seseorang memandang jauh ke depan.  Kita harus sabar, karena kesabaran menolong kita dari hal-hal yang merugikan diri sendiri.  Kesabaran menolong kita untuk tidak terlibat suatu masalah dengan orang lain seperti tertulis:  "Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan."  (Amsal 15:18);  Kesabaran menolong kita tetap kuat dalam menghadapi segala masalah dan tantangan yang ada.

     Dalam pelayanan pemberitaan Injil, Paulus harus banyak mengalami ujian dan penderitaan, tapi dia tetap sabar menjalaninya.  "Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu;  jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga."  (2 Korintus 1:6).  Begitu pula untuk memperoleh jawaban doa dibutuhkan kesabaran untuk menunggu, karena waktu Tuhan bukanlah waktu kita.

Keberhasilan tidak didapat dengan instan, butuh proses yang panjang dan kesabaran.