Sunday, June 30, 2013

MENJADI PENJALA MANUSIA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Juni 2013 -

Baca:  Lukas 5:1-11

"Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia."  Lukas 5:10b

Pertimbangan Tuhan Yesus memilih murid-muridNya ternyata bukanlah sembarangan.  Salah satunya adalah saat Tuhan memilih Petrus.  Tuhan Yesus memilih Petrus bukan karena ia tampan, cerdas dan punya kedudukan, melainkan karena ia memiliki karakter hidup yang luar biasa.  Meski hanya berprofesi sebagai seorang nelayan atau penjala ikan, di dalam diri Petrus tersimpan potensi yang besar.

     Apa saja kualitas yang ada di dalam diri Petrus, sehingga Tuhan memilih dan memanggilnya untuk menjadi alat kemuliaanNya?  Pertama, Petrus adalah orang yang taat.  Telah sepanjang malam mengarungi danau Genesaret Petrus tidak mendapatkan ikan sama sekali.  Namun ketika Tuhan Yesus menyuruhnya untuk menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai,  "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."  (ayat 4), Petrus taat melakukan apa yang diperintahkan Tuhan Yesus kepadanya, padahal ia punya alasan yang kuat untuk menolak perintah Tuhan itu sebab ia adalah seorang nelayan yang sudah sarat pengalaman.  Tapi simak respons Petrus ini:  "...karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."  (ayat 5).  Pada saat Petrus taat, dia menangkap begitu banyak ikan sehingga jalanya terkoyak.

     Kedua, Petrus adalah orang yang rendah hati.  Darimana kita tahu bahwa Petrus punya kerendahan hati?  Ayat 8 menyatakan:  "...iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: 'Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.'"  Pengakuan yang jujur dari Petrus yang mengatakan bahwa dirinya seorang berdosa menyiratkan bahwa ia orang yang rendah hati;  ia menyadari siapa dirinya, orang yang tidak layak di hadapan Tuhan.  Tidak mudah bagi seseorang untuk tersungkur di bawah kaki orang lain kecuali dia punya kerendahan hati.  Petrus merendahkan dirinya di hadapan Yesus karena ia tahu siapa yang ada di hadapannya.  Itulah sebabnya ia yang tadinya memanggil Yesus dengan sebutan 'Guru' kini memanggilNya 'Tuhan'.  Satu bentuk pengagungan dan penghormatan yang ia tujukan kepada Yesus.  Selain itu, kata 'tersungkur di depan Yesus' menunjukkan bahwa petrus sedang menyembah dan memuji Tuhan!

Punya ketaatan, kerendahan hati dan senantiasa mengagungkan Tuhan adalah sikap yang diperlukan bagi seorang penjala manusia, dan itu ada pada Petrus!

Saturday, June 29, 2013

MENYIA-NYIAKAN PANGGILAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Juni 2013 -

Baca:  Efesus 1:15-23

"Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus,"  Efesus 1:18

Yudas Iskariot dan juga ratu Wasti sesungguhnya adalah orang-orang yang sangat istimewa dan beroleh panggilan hidup yang luar biasa.  Sayang seribu sayang, mereka kurang menghargai panggilan Tuhan dalam hidupnya sehingga mereka tidak dapat menjalankan tugas dalam panggilannya secara maksimal.

     Yudas Iskariot adalah salah satu dari 12 murid yang dipanggil oleh Yesus sendiri.  "Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan."  (Matius 10:1).  Sebagai orang pilihan Tuhan ia diperlengkapi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat, menyembuhkan segala penyakit dan juga kelemahan tubuh lainnya.  Modal yang sangat luar biasa!  Sebagai rasul, hari-hari Yudas Iskariot terasa istimewa karena selalu dekat dengan Tuhan.  Ia termasuk murid yang diutus berdua-dua memberitakan Injil Kerajaan Allah.  Ia memulai pelayanannya dengan baik.  Tetapi suatu saat tipu daya kekayaan telah menyilaukan hatinya sehingga ia berani mengkhianati Yesus.  "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya."  (Matius 26:15).  Ia rela menjual Tuhannya hanya dengan 30 keping perak, yang saat itu adalah sama dengan harga seorang budak.  Yudas Iskariot lebih memilih 'mamon' dari pada Tuhan dan tidak lagi mengerjakan panggilan hidupnya.  Akhir kehidupan Yudas Iskariot pun sangat mengenaskan, ia frustasi dan gantung diri.

     Kemudian ratu Wasti.  Sebagai permaisuri, Wasti hidup berkelimpahan, tidak kekurangan apa pun.  Namun ia kurang bisa mensyukuri keadaannya dan lebih memilih mencari kesenangan pribadi.  Ia lupa, bukan karena kecantikannya yang membuatnya dipilih menjadi ratu di kerajaan besar, namun karena kasih karunia Tuhan.  Dengan mudahnya ratu Wasti menolak undangan raja Ahasyweros yang disampaikan sida-sida kepadanya yang membuat raja sangat murka sehingga mahkotanya sebagai ratu dicopot.

Jangan pernah sia-siakan panggilan Tuhan dalam hidupmu!

Friday, June 28, 2013

MENYIA-NYIAKAN PANGGILAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Juni 2013 -

Baca:  Kisah Para Rasul 1:15-26

"Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya: dan: Biarlah jabatannya diambil orang lain."  Kisah 1:20

Jangan pernah bangga dengan status kita sebagai orang kristen bila kehidupan kita tidak berpadanan dengan panggilan Tuhan, sebab keberadaan kita di dunia ini adalah mengerjakan panggilan Tuhan.

     Istilah 'dipanggil' memiliki beberapa pengertian, di antaranya:  dikembalikan pada kedudukan semula atau didekatkan kembali kepada Allah.  "...kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya."  (Kolose 1:21).  Kita yang dahulu berada di dalam kegelapan kita masuk ke dalam terangNya yang ajaib  (baca  1 Petrus 2:9).  Selain itu dipanggil berarti pula dikhususkan bagi Tuhan untuk tugas tertentu.  Jadi secara garis besar panggilan Tuhan kepada orang percaya itu meliputi panggilan umum dan panggilan khusus.  Panggilan umum bagi setiap orang percaya adalah menjadi garam dunia dan juga terang dunia  (baca  Matius 5:13-16).  Adapun panggilan khusus yang dimaksud ialah panggilan untuk melayani sesuai dengan karunia yang diberikan kepada kita.

     Jika saat ini kita sedang dipanggil Tuhan untuk tujuan 'khusus', itu berarti berkat tersendiri bagi kita, sebab kesempatan tersebut tidak didapat oleh semua orang, hanya orang-orang tertentu saja!  Ada banyak orang sedang berlomba-lomba dan berjuang sedemikian rupa untuk mendapatkan kepercayaan itu.  Namun di sisi lain justru ada orang-orang tertentu yang sudah dipanggil dan dipilih malah menyia-nyiakan kesempatan yang istimewa itu;  mereka tidak lagi setia dalam menjalankan tugas dan menyalahgunakan jabatan yang dipercayakan kepadanya, padahal Tuhan  "...memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman"  (2 Timotius 1:9).  Ada beberapa contoh orang yang tertulis di dalam Alkitab yang berlaku demikian, menyia-nyiakan panggilan hidupnya, di antaranya adalah Yudas Iskariot dan juga ratu Wasti.  (Bersambung)

Thursday, June 27, 2013

PERSEMBAHAN YANG TIDAK SUNGGUH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Juni 2013 -

Baca:  Yesaya 1:10-20

"Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan."  Yesaya 1:13

Sebagai anak-anak Tuhan kita pasti memiliki kerinduan selalu memberi yang terbaik dan berkorban bagi Tuhan dengan apa yang bisa kita perbuat dan dengan apa yang kita miliki.  Kita rela mencurahkan waktu, tenaga, pikiran bahkan materi untuk membantu pekerjaan Tuhan atau terlibat dalam pelayanan, menjadi donatur gereja, menjadi orangtua asuh, menolong orang tidak mampu dan sebagainya dengan harapan perbuatan ini berkenan dan menyenangkan hatiNya.  Pertanyaannya:  apakah Tuhan benar-benar disenangkan dengan persembahan dan korban dari umatNya?  Perhatikan ayat ini:  "Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik dari pada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat."  (Pengkotbah 4:17).  Ternyata tidak selamanya Tuhan berkenan dengan persembahan-persembahan umatNya!

     Tuhan sangat memperhatikan sikap hati kita dalam memberi dan juga perbuatan-perbuatan kita.  Tuhan tidak bisa kita suap dengan persembahan kita sementara kita masih saja hidup dalam ketidaktaatan atau berkompromi dengan dosa.  Karena itu  "Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah!"  Perhatikan langkah hidup kita terlebih dahulu sebelum datang ke rumah Tuhan dan mempersembahkan korban kepadaNya.  Dengan keras Tuhan berkata,  "Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat,"  (Yesaya 1:16).

     Jika kita masih saja berbuat dosa, ibadah dan persembahan kita menjadi sesuatu yang keji bagi Tuhan.  Jalan-jalan Tuhan itu kudus, karena itu Ia juga menghendaki kita hidup dalam kekudusan sehingga ibadah dan persembahan kita akan menjadi korban yang harum bagi Tuhan dan menyenangkan hatiNya.

Berhentilah berbuat jahat dan jadilah pelaku firman setiap hari, maka Tuhan akan mengindahkan setiap persembahan dan juga ibadah kita!

Wednesday, June 26, 2013

BERSERU-SERU KEPADA TUHAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Juni 2013 -

Baca:  Yeremia 33:1-13

"Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui."  Yeremia 33:3

Berseru kepada Tuhan adalah hal yang kita lakukan apabila kita sedang dihadapkan pada masalah yang berat dan jalan buntu.  Ketika doa-doa kita serasa tidak kunjung dijawab dan ketika daya upaya kita sudah tidak memungkinkan, hanya ini yang bisa kita lakukan yaitu berteriak dan berseru-seru memanggil nama Tuhan dengan segenap kekuatan kita.  Janji firmanNya:  ketika kita mau berseru kepada Tuhan, Dia akan menjawab kita, bahkan lebih dari yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kita ketahui.  "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."  (1 Korintus 2:9).

     Bartimeus, seorang pengemis buta, ketika mendengar bahwa Tuhan Yesus sedang lewat, mulai berseru,  "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!"  (Markus 10:47).  Meski ditegor oleh banyak orang supaya ia diam, ia semakin keras berseru,  "Anak Daud, kasihanilah aku!"  (Markus 10:48).  Mendengar seruan Bartimeus Yesus pun mengulurkan tanganNya dan memberi pertolongan.  "Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya."  (Markus 10:52b).  Juga Daud, sebelum menjadi raja, kehidupannya diwarnai dengan penderitaan yang disebabkan oleh orang-orang terdekatnya.  Salah satunya adalah Saul yang adalah mertuanya sendiri.  Bagi Daud, Saul bukan sekedar mertua, tetapi juga seorang raja, pemimpin, panutan yang seharusnya mengayomi, tapi Saul justru berbuat yang sebaliknya yaitu ingin melenyapkan Daud.  Dalam keadaan terjepit Daud pun berseru-seru kepada Tuhan,  "Aku berseru kepada Allah, Yang Mahatinggi, kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku."  (Mazmur 57:3).

     Saudara sedang berbeban berat?  Datanglah kepada Tuhan dan berserulah kepadaNya dengan iman, jangan sekali-kali mencari pertolongan di luar Dia.

"Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku."  Mazmur 50:15

Tuesday, June 25, 2013

PENGENALAN YANG SALAH

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Juni 2013 -

Baca:  Matius 12:22-37

"Tetapi ketika orang Farisi mendengarnya, mereka berkata: 'Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan.'"  Matius 12:24

Menjadi Kristen lama atau bertahun-tahun tidak menjamin seseorang memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan.  Banyak yang kerohaniannya tidak pernah bertumbuh dan tetap begitu-begitu saja, sekalipun  "...ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil."  (Ibrani 5:12-13).  Rasul Petrus menasihati,  "...bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus."  (2 Petrus 3:18).

     Memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan berarti tahu siapa Tuhan, memahami jalan-jalanNya, kuasaNya dan juga kehendakNya.  Jika kita tidak memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan, kita akan bertindak seperti orang-orang Farisi.  Ketika melihat Tuhan Yesus menyembuhkan orang buta dan bisu yang kerasukan setan, orang-orang Farisi yang secara teori paham benar tentang firman Tuhan malah menuduh,  "Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan."  (ayat nas).  Ini sangat berbahaya!  Apabila cara pandang yang salah ini tidak segera dibereskan, sampai kapan pun kita akan menjalani hidup kekristenan kita dengan paradigma yang salah seperti orang-orang Farisi.  Tuhan Yesus menyembuhkan dengan kuasa Allah, tetapi mereka mengira bahwa Dia menyembuhkan orang sakit dengan kuasa Beelzebul.  Keterlaluan sekali!

     Peristiwa seperti ini juga dialami murid-murid Yesus ketika melihatNya berjalan di atas air.  Mereka terkejut dan mengira bahwa Dia adalah hantu.  Aneh sekali!  Padahal mereka telah sekian lama berkumpul tetapi mereka tidak dapat membedakan antara Tuhan dan hantu.  "Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: 'Tenanglah! Aku ini, jangan takut!'"  (Matius 14:27).  Pada saat murid-murid mengalami ketakutan akibat ketidaktahuannya, Tuhan Yesus tidak marah, tetapi Ia menenangkan mereka supaya tidak takut.  Sejauh mana kita mengenal Tuhan Yesus secara pribadi?

Untuk memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan, kita harus karib dengan Dia dan senantiasa merenungkan firmanNya!

Monday, June 24, 2013

MENJUNJUNG NILAI KEBENARAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Juni 2013 -

Baca:  Amsal 15:1-33

"Jalan orang fasik adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi siapa mengejar kebenaran, dikasihi-Nya."  Amsal 15:9

Di zaman akhir ini kehidupan orang percaya benar-benar berada dalam proses penampian.  Karena itu kita harus benar-benar memperhatikan hidup kita.  Jika tidak tahan uji kita akan tertinggal, sebab  "Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."  (Matius 3:12).  Jadi tidak ada lagi istilah main-main dengan kekristenan kita.  Ketika orang-orang di luar sana makin disibukkan dengan perkara-perkara daging (duniawi) dan tidak lagi menjunjung nilai-nilai kebenaran, kita harus memiliki kehidupan yang sebaliknya, yaitu berjuang untuk tetap hidup dalam kebenaran.

     Mungkinkah hidup benar di tengah-tengah dunia yang penuh kompromi terhadap ketidakbenaran dan segala bentuk kejahatan ini?  Perhatikan:  "Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah."  (Yakobus 4:4). 

     Bidan Sifra dan Pua (Keluaran 1:15) adalah contoh orang-orang yang memiliki hati takut akan Tuhan serta menjunjung nilai kebenaran meski orang lain lebih memilih untuk berkompromi dengan dosa.  Sebagai bidan mereka sangat dibutuhkan oleh banyak orang pada saat persalinan.  Suatu ketika mereka beroleh mandat dari raja Firaun untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang dilahirkan oleh perempuan Ibrani, dengan maksud membinasakan satu generasi umat Tuhan dan ingin melenyapkan orang-orang Ibrani keturunan Abraham, Ishak dan Yakub.  Suatu perintah yang tidak berperikemanusiaan!  Sifra dan Pua dihadapkan pada buah simalakama:  taat kepada raja berarti berkompromi dengan dosa, tidak taat kepada raja resikonya mereka sendiri yang akan mati.  Namun keduanya memilih untuk  "...takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir..."  (Keluaran 1:17).  Karena hidup dalam kebenaran, Tuhan pun menyatakan kasihNya kepada dua bidan itu.  Mereka terlindungi dari murka raja, bahkan diberkati Tuhan dan  "...Ia membuat mereka berumah tangga."  (Keluaran 1:21). 

Tuhan menjaga orang-orang yang hidup dalam kebenaran!

Sunday, June 23, 2013

SIMSON: Akhir Hidup yang Tragis!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Juni 2013 -

Baca:  Hakim-Hakim 16:23-31

"Biarlah kiranya aku mati bersama-sama orang Filistin ini."  Hakim-Hakim 16:30

Karena kecerobohannya sendiri Simson harus menanggung akibatnya:  kehilangan kekuatan, dibelenggu, dipenjara, dicungkil matanya dan menjadi tontonan bangsa kafir!  Ia dipermalukan di depan banyak orang.  Mereka berkata,  "Telah diserahkan oleh allah kita ke dalam tangan kita Simson, musuh kita."  (Hakim-Hakim 16:23).

     Alkitab mencatat bahwa Simson merupakan salah satu pahlawan iman yang besar dan "...memerintah sebagai hakim atas orang Israel dalam zaman orang Filistin, dua puluh tahun lamanya."  (Hakim-Hakim 15:20).  Namun Simson tidak konsisten mengerjakan panggilan Tuhan, malah berkompromi dengan dosa, tidak lagi hidup menurut pimpinan Roh Tuhan tapi menuruti keinginan daging.  Galatia 5:19-21 menyebutkan bahwa yang termasuk perbuatan daging antara lain percabulan, kecemaran dan hawa nafsu.  Simson yang telah dipanggil sebagai nazir (seseorang yang dipisahkan, disucikan, dikhususkan untuk tujuan mulia) bagi Tuhan justru jatuh dalam dosa yang demikian.  Firman Tuhan menegaskan,  "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya."  (Galatia 5:24).  Akibat menuruti kedagingannya akhirnya Simson mengabaikan perjanjiannya dengan Tuhan dan melangkah keluar dari panggilan hidup yang sudah Tuhan tetapkan.  Ia menyalahgunakan kekuatan dan kelebihan fisik yang diberikan Tuhan untuk memuaskan hawa nafsunya.  Menjelang akhir hidupnya Simson menyadari kesalahannya dan berseru kepada Tuhan,  "Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah, supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin."  (Hakim-Hakim 16:28).  Namun semuanya sudah terlambat walau  "Yang mati dibunuhnya pada waktu matinya itu lebih banyak dari pada yang dibunuhnya pada waktu hidupnya."  (Hakim-Hakim 16:30b), tapi hidup Simson harus berakhir dengan tragis. 

     Ini peringatan bagi kita para pelayan Tuhan!  Melayani Tuhan adalah anugerah tak ternilai.  Karena itu jangan pernah sia-siakan panggilan Tuhan dalam hidup kita.

Mohon pimpinan Roh Kudus selalu supaya kita dapat mengerjakan tugas pelayanan kita sampai garis akhir hidup kita!

Saturday, June 22, 2013

SIMSON: Kecerobohan yang Menghancurkan!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Juni 2013 -

Baca:  Hakim-Hakim 16:4-22

"Sesudah itu Simson jatuh cinta kepada seorang perempuan dari lembah Sorek yang namanya Delila."  Hakim-Hakim 16:4

Kisah Simson dan Delila sangat tidak asing, bahkan kita sudah mendengarkan cerita ini semasa kita masih bersekolah Minggu, bukan?  Industri film Hollywood pun pernah merilis kisah legendaris ini ke layar lebar tahun 1950 dengan judul  "Samson and Delilah".

     Banyak pelajaran berharga kita dapatkan dari perjalanan hidup Simson ini.  Simson adalah hakim ke 12 yang berkuasa di Israel pada zaman hakim-hakim.  Ia anak dari Manoah, adapun ibunya awalnya mandul sampai akhirnya Tuhan mengutus malaikat menyatakan rencanaNya,  "Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; kepalanya takkan kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah dan dengan dia akan mulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin."  (Hakim-Hakim 13:5) dan kemudian  "...perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan memberi nama Simson kepadanya. Anak itu menjadi besar dan TUHAN memberkati dia."  (Hakim-Hakim 13:24).  Simson sudah dipilih Tuhan sejak masih dalam kandungan, karenanya Roh Tuhan menyertai hidup Simson sehingga ia tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan gagah perkasa.  Sayang, kemudian Simson mengabaikan panggilan Tuhan dalam hidupnya.  Ia lebih mengandalkan kekuatan sendiri dan memilih memuaskan keinginan dagingnya.  "Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging;"  (Roma 8:5) dan "Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah."  (Roma 8:8).

     Inilah awal kehancuran hidup Simson!  Ia terpikat kemolekan perempuan kafir, yaitu Delila, sehingga tak mampu mengendalikan hawa nafsunya.  "Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji."  (Amsal 31:30).  Karena tipu daya Delila ia rela membocorkan rahasia kekuatannya,  "Kepalaku tidak pernah kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibuku aku ini seorang nazir Allah. Jika kepalaku dicukur, maka kekuatanku akan lenyap dari padaku, dan aku menjadi lemah dan sama seperti orang-orang lain." (Hakim-Hakim 16:17), padahal Delila telah bersekongkol dengan penguasa Filistin.  Tanpa disadari, Simson telah dijebak dan masuk dalam perangkap si musuh.  (Bersambung)

Friday, June 21, 2013

PENGORBANAN DI BALIK KEMENANGAN

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Juni 2013 -

Baca:  Kisah Para Rasul 20:17-38

"Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah."  Kisah 20:24

Beberapa waktu lalu nama Indonesia kembali berkibar di kancah perbulutangkisan dunia.  Keberhasilan ganda campuran Tantowi Ahmad/Lilyana Natasir menjadi juara All England kedua kalinya secara beruntun adalah prestasi yang sangat membanggakan.  Kemenangan mereka ibarat tetesan embun bagi dunia olahraga Indonesia dan menjadi lecutan bagi atlet-atlet lain untuk meraih kemenangan dan membawa harum nama Indonesia.  Semudah itukah kemenangan diraih?  Tidak, karena kemenangan tidak jatuh dari langit!  Selalu ada harga yang harus dibayar.  Di balik kemenangan pasti ada pengorbanan:  kerja keras, disiplin, keringat yang bercucuran, air mata, atau bahkan darah yang tercurah.

     Demikian juga dengan keselamatan, kemenangan, kesembuhan, pemulihan, berkat dan lain-lain yang telah kita terima secara cuma-cuma, ini adalah buah pengorbanan Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib.  "dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus."  (Roma 3:24).  Yesus Kristus rela menderita dan menyerahkan nyawaNya supaya kita terbebas dari segala kutuk dosa.  "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'"  (Galatia 3:13).  Rasul Petrus juga menegaskan,  "...kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat."  (1 Petrus 1:18-19).  Sebuah pengorbanan yang tak ternilai harganya!

     Banyak orang Kristen meremehkan pengorbanan Kristus di kayu salib.  Terbukti kita masih berkompromi dengan dosa dan hidup untuk diri sendiri.  Berbeda dengan Paulus yang merespons anugerah keselamatan yang diterimanya itu dengan bertekad,  "...bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan."  (Filipi 1:21).

Paulus rela korbankan waktu, tenaga, seluruh hidupnya demi Injil sampai titik darah penghabisan!

Thursday, June 20, 2013

TUHAN YESUS: Teladan Utama Kesetiaan!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Juni 2013 -

Baca:  Filipi 2:1-11

"Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."  Filipi 2:8

Tuhan Yesus adalah teladan utama kita dalam hal kesetiaan dan ketaatan.  Saat berada di bumi Dia setia melakukan kehendak bapa, bahkan taat sampai mati di kayu salib.  Tiada waktu yang terlewati tanpa mengerjakan kehendak Bapa.  "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya."  (Yohanes 4:34).  Ketika dihadapkan dengan cawan kematian pun yesus berkata,  "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."  (Matius 26:39).  Melakukan kehendak bapa adalah yang terutama dalam hidup Yesus.  Karena kesetiaanNya ini maka  "...Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!"  (Filipi 2:9-11).

     Adakah Tuhan menemukan kesetiaan itu dalam diri kita?  Seringkali kita setia kepada Tuhan hanya waktu-waktu tertentu saja:  saat diberkati, enak, menyenangkan atau saat segala sesuatunya berjalan dengan baik.  Bagaimana saat badai persoalan datang?  Saat itulah kesetiaan kita diuji.  Sekecil apapun perkara yang dipercayakan Tuhan, meski mungkin itu dipandang sepele dan tidak berarti di pemandangan manusia, mari kita lakukan itu dengan setia.  Kesetiaan kita pada hal-hal kecil sangat diperhitungkan oleh Tuhan.  Dan bila kita setia dalam perkara kecil, pada saatnya Tuhan akan mempercayakan perkara yang jauh lebih besar kepada kita, sebab promosi dan peninggian itu datangnya dari Tuhan, bukan dari manusia (baca  Mazmur 75:7-8).  Ingat!  Saat Tuhan membuka pintu bagi kita tidak ada kuasa mana pun yang sanggup menutupnya.  Juga sebaliknya, bila Tuhan menutup pintu, maka tiada satu pun yang dapat membukanya.  Maka dari itu,  "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."  (Kolose 3:23).

Ada berkat luar biasa disediakan Tuhan bagi yang melakukan kehendakNya dan berpegang teguh pada kebenaran firmanNya dengan penuh kesetiaan!

Wednesday, June 19, 2013

LULUS UJIAN KESETIAAN (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Juni 2013 -

Baca:  Mazmur 18:21-30

"Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela,"  Mazmur 18:26

Rut adalah contoh orang yang begitu setia kepada mertuanya dan layak menjadi panutan semua menantu yang ada di dunia ini.  Meski sudah ditinggal mati suaminya ia tetap setia kepada ibu mertuanya, Naomi, yang juga telah ditinggal mati suaminya.  Sebenarnya Naomi mendesak Rut pulang ke negeri asalnya atau kembali ke sanak keluarganya, tetapi ia menolak dan tetap ingin berbakti kepada ibu mertuanya.  "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan."  (Rut 1:16-17a).  Karena kesetiaannya Tuhan memperhatikan Rut sampai ia bertemu Boas yang kaya raya dan menjadikannya isteri.  Kehidupan Rut dipulihkan dan diberkati karena campur tangan Tuhan!

     Begitu juga dengan Yusuf.  Sebelum dipercaya sebagai penguasa di Mesir ia harus melewati ujian kesetiaan.  Ada harga yang harus dibayar!  Penderitaan demi penderitaan harus dijalaninya:  dimasukkan sumur, dijual sebagai budak, jadi pelayan di rumah Potifar, dipenjara.  Meski demikian Yusuf tidak pernah bersungut-sungut dan mengeluh, ia tetap mengerjakan bagiannya dengan setia dan hidup tidak bercela di hadapan Tuhan.  Dan  "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,"  (Pengkotbah 3:11).

     Yosua dan Kaleb, setia mengikuti Tuhan dengan berpegang teguh pada janji firmanNya ketika orang-orang Israel seangkatannya tidak setia dan hidup dalam ketidaktaatan, karena itu  "...yang tinggal hidup dari orang-orang yang telah pergi mengintai negeri itu hanyalah Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune."  (Bilangan 14:38), dan keduanya pun beroleh upah:  menikmati Tanah Perjanjian.

     Tak terkecuali Daud yang setia mengerjakan panggilannya mulai dari menggembalakan kambing domba yang hanya 2-3 ekor banyaknya.  Tuhan melihat kesetiaan Daud sampai akhirnya Tuhan mempercayakan perkara-perkara yang besar kepada Daud, yaitu sebagai pemimpin atas seluruh Israel.

Kesetiaan adalah kunci untuk kita bisa dipercaya oleh Tuhan!

Tuesday, June 18, 2013

LULUS UJIAN KESETIAAN (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Juni 2013 -

Baca:  Mazmur 37:1-40

"Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia,"  Mazmur 37:3

Di masa-masa sekarang ini sulit sekali mencari orang yang benar-benar setia, entah itu dalam hubungan antar sesama, pekerjaan, pelayanan.  Kesetiaan serasa telah luntur dalam diri banyak orang.  Itulah sebabnya Salomo menyatakan,  "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?"  (Amsal 20:6) dan "...telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia."  (Mazmur 12:2).

     Begitu pentingkah kesetiaan dalam kehidupan orang percaya?  Ya!  Kesetiaan adalah sebuah kualitas hidup yang harus ada dalam diri orang percaya.  Oleh karena itu rasul Paulus menasihati kita,  "...kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan."  (1 Timotius 6:11).  Meski sering diingatkan dan ditegur akan hal ini, dalam prakteknya sulit sekali untuk hidup dalam kesetiaan:  setia ibadah, setia berdoa, setia baca Alkitab, setia melayani Tuhan, setia dalam berbuat baik dan sebagainya.  Padahal untuk mengalami penggenapan janji-janji Tuhan dibutuhkan kesetiaan dalam mengerjakan perkara-perkara rohani, bukan hanya dalam kurun waktu tertentu, tapi sampai nafas kita berhenti berhembus.  Tuhan berkata,  "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan."  (Wahyu 2:10b).

     Mengapa kita harus setia?  Karena Tuhan itu  "...setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya."  (Mazmur 145:13b), dan kesetiaan Tuhan itu tidak bergantung pada kesetiaan kita.  Setia adalah sifat dan karakter dari Tuhan sendiri.  Tertulis:  "...jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya."  (2 Timotius 2:13).  Untuk menjadi orang yang setia diperlukan sebuah ketaatan;  kesetiaan dan ketaatan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.  Di dalam Alkitab ada banyak contoh orang yang setia yang hidupnya diperkenan oleh Tuhan dan akhirnya beroleh peninggian, seperti Yusuf, Yosua, Kaleb, Rut, Daud dan lain-lain.  Mereka adalah orang-orang yang dipilih dan diangkat Tuhan karena kesetiaannya yang telah teruji.  Ini membuktikan bahwa tanpa kesetiaan, Tuhan tidak akan pernah mengangkat dan mempromosikan hidup seseorang.  Mereka harus terlebih dahulu lulus dalam ujian, salah satunya adalah ujian kesetiaan!  (Bersambung)

Monday, June 17, 2013

ROH KUDUS BERDUKA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Juni 2013 -

Baca:  Efesus 4:17-32

"Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah,"  Efesus 4:30

Sadar atau tidak sadar banyak orang Kristen yang kurang menghargai dan menghormati keberadaan Roh Kudus di dalam hidupnya.  Padahal Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Roh kudus adalah Roh Kebenaran yang diberikan oleh Allah, yang akan menolong dan menyertai setiap orang percaya,  "Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu."  (Yohanes 14:26) dan "...akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang."  (Yohanes 16:13).  Jadi Roh Kudus itu bukan sekedar suatu kuasa, tapi Dia adalah satu Pribadi, yaitu Pribadi dari Allah Tritunggal.  Karena itu Ia juga layak untuk dihormati dan dihargai sama seperti kita menghormati Allah Bapa dan juga Tuhan Yesus.

     Melalui perbuatan dan tindakan yang bagaimana kita tidak menghormati dan tidak menghargai Roh Kudus?  Ketika kita tidak percaya, ragu dan bimbang terhadap janji Tuhan, saat itu kita sedang membuat Roh kudus sedih dan berduka.  Bukankah kita sering berkata,  "Sakitku mana mungkin sembuh?  Apakah Tuhan sanggup memulihkan keluargaku?  Aku sudah berdoa sekian lama tapi tidak ada pertolongan dari Tuhan dsb."  Yang dikehendakiNya ialah kita percaya akan kuasa Tuhan.  Saat kita mengutamakan perkara-perkara yang ada di dunia ini dan mengasihinya jauh melebihi kasih kita kepada Tuhan, kita telah membuat Roh Kudus juga berduka, sebab  "...persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah."  (Yakobus 4:4).  Roh Kudus memandang itu dengan kasih yang cemburu, sebab Ia tidak ingin kita menduakanNya.

     Adakah Saudara menyediakan waktu untuk Tuhan secara pribadi (berdoa dan membaca Alkitab) setiap hari?  Jika tidak, berarti kita sedang mendukakan Dia.  Begitu pula bila di dalam hati kita masih ada kepahitan, kebencian dan segala hal yang jahat, berarti kita belum menyenangkan Roh Kudus, sebaliknya, kita mendukakanNya!

Ketidaktaatan kita adalah bukti nyata bahwa kita telah mendukakan Roh Kudus!

Sunday, June 16, 2013

GOLIAT: Musuh Orang Percaya (3)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Juni 2013 -

Baca:  1 Samuel 17:40-58

"Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;"  1 Samuel 17:48

Ketika sedang tertimpa masalah berat reaksi orang beraneka ragam:  lari dari masalah, 'mati kutu', kalah sebelum bertanding, menyerah pada keadaan, frustasi, menyalahkan orang lain, mengasihani diri sendiri dan sebagainya.  Tetapi perhatikan reaksi Daud ketika berhadapan dengan si raksasa itu:  "...segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;"  (ayat nas).

     Daud tidak gentar sedikit pun terhadap Goliat.  Mungkin orang mengira bahwa tindakan yang dilakukan Daud ini adalah nekat dan bodoh, atau dengan istilah lain 'setor nyawa'.  Salah besar!  Tindakan Daud adalah bukti kuat bahwa ia memiliki iman yang hidup, iman yang disertai dengan perbuatan.  Ia sangat percaya bahwa  "...semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita."  (1 Yohanes 5:4).  Namun bukan hanya Goliat yang harus dihadapi Daud, omongan kakaknya (Eliab) juga begitu meremehkan dan melemahkannya, tapi ia tetap maju.  Saul sempat mengenakan baju perang kepada Daud, tapi ditanggalkannya.  Daud memilih mengandalkan Tuhan dengan hanya berbekal tongkat, batu licin dan umban.  Keberanian Daud bukan tanpa alasan!  Daud mengandalkan Tuhan.  Inilah yang disebut keberanian Ilahi.  "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu."  (1 Samuel 17:37).

     Saat ini ada 'Goliat-Goliat' modern yang siap menghancurkan semua impian, cita-cita dan panggilan Tuhan dalam hidup kita.  Bisa berupa masalah, sakit-penyakit, segala sifat kedagingan, orang-orang di sekitar, pikiran kita sendiri yang seringkali berkata:  "Tidak mungkin, tidak mampu, mustahil."  'Goliat' membuat kita tidak bisa maksimal, malas dan kehilangan semangat dalam melayani Tuhan, termasuk segala perbuatan daging yang membuat kita berkompromi dengan dosa harus dimatikan!  Jika tidak, kita tidak akan mengalami hidup yang berkemenangan di dalam Tuhan.  Daud tidak menunggu Goliat mendatanginya, tapi Daud yang berlari menghampiri Goliat!

Jangan biarkan Goliat leluasa menjajah hidup kita!  Pilihan hanya satu:  kalahkan Goliat atau kita yang dikalahkannya!

Saturday, June 15, 2013

GOLIAT: Musuh Orang Percaya (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Juni 2013 -

Baca:  1 Samuel 17:12-39

"Orang Filistin itu maju mendekat pada pagi hari dan pada petang hari. Demikianlah ia tampil ke depan empat puluh hari lamanya."  1 Samuel 17:16

Goliat berhasil menggertak dan mengintimidasi segenap orang Israel sehingga mereka pun takut, cemas, tawar hati.  Firman Tuhan:  "Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu."  (Amsal 24:10).  Siapa pun yang selalu dihantui rasa cemas, kuatir, tawar hati pada akhirnya akan putus asa;  tanda-tandanya adalah perkataan-perkataan yang negatif:  sungut-sungut, keluh kesah, kecewa, menyalahkan Tuhan dan sebagainya.

     Seringkali kita melihat masalah yang sedang terjadi seperti 'Goliat' yang begitu besar dan seerasa mustahil untuk dikalahkan.  Diperburuk lagi dengan ucapan orang-orang sekitar yang cenderung melemahkan dan memojokkan, semakin membuat kita frustasi.  Akhirnya iman kita turut melemah tertutup oleh kedahsyatan si 'Goliat'.  Kita lupa bahwa kita memiliki Tuhan yang besar, yang kuasanya jauh lebih besar dan dahsyat dari musuh mana pun.  Sikap kita seperti 10 pengintai yang di utus Musa:  "Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami."  (Bilangan 13:32-33).  Kita melihat diri ini sangatlah kecil dan tidak sebanding dengan 'Goliat' yang besar.  Raja Saul dan para tentaranya pun 'mati kutu' di depan pahlawan Filistin itu.  Mereka tak berdaya di hadapan Goliat.  Mengapa bisa terjadi?  Karena mereka mengandalkan kekuatannya sendiri dan tidak mengandalkan Tuhan.  Tertulis:  "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!"  (Yeremia 17:5).  Satu-satunya jalan untuk keluar dari ketakutan dalam diri kita adalah lari kepada Tuhan seperti yang dilakukan oleh Daud:  "Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu;"  (Mazmur 56:4).

     Adakah 'Goliat' sedang mengincar hidup Saudara saat ini?  Jangan patah arang dan merasa tidak mampu menghadapinya.  Ingat!  Ada Tuhan yang jauh lebih hebat dari si 'Goliat'.  (Bersambung)

Friday, June 14, 2013

GOLIAT: Musuh Orang Percaya (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Juni 2013 -

Baca:  1 Samuel 17:1-11

"Lalu tampillah keluar seorang pendekar dari tentara orang Filistin. Namanya Goliat, dari Gat. Tingginya enam hasta sejengkal."  1 Samuel 17:4

Perjalanan hidup kita dalam mengiring Tuhan bukanlah suatu perjalanan yang mudah, sebab kita harus menghadapi musuh yang selalu mengincar dan mencari celah untuk menghancurkan hidup kita setiap saat.  Karena itu FirmanNya selalu memperingatkan:  "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya."  (1 Petrus 5:8).

     Sebagai orang percaya, di mana wilayah kita berada dalam kerajaan terangNya, kita akan menjadi musuh kerajaan kegelapan yang dikomandoi Iblis.  Sadar atau tidak, kita berada dalam medan peperangan, namun  "...perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara."  (Efesus 6:12).  Kesadaran adanya musuh di sekeliling bukan bermaksud menakut-nakuti tetapi membuat kita berjaga-jaga dan memperlengkapi diri dengan  "...perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;"  (Efesus 6:11).

     Goliat dari Gat adalah musuh yang sangat menakutkan.  Seorang prajurit yang terlatih sejak masa mudanya dengan perawakan yang sangat tinggi besar:  enam hasta sejengkal (2,9 m).  Belum lagi peralatan perangnya yang canggih untuk ukuran zaman itu:  "Ketopong tembaga ada di kepalanya, dan ia memakai baju zirah yang bersisik; berat baju zirah ini lima ribu syikal tembaga (kira-kira 57 kg. Red.). Dia memakai penutup kaki dari tembaga, dan di bahunya ia memanggul lembing tembaga. Gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun, dan mata tombaknya itu enam ratus syikal besi (kira-kira 7 kg. Red.) beratnya.  Dan seorang pembawa perisai berjalan di depannya."  (1 Samuel 17:5-7).  Menurut perhitungan manusia, Goliat, si raksasa itu, sulit untuk dikalahkan oleh siapa pun!  Melihat saja, nyali orang-orang Israel sudah ciut, ditambah lagi dengan teriakannya yang penuh arogansi, semakin menebarkan kekuatiran terhadap siapa saja!  "...maka cemaslah hati mereka dan sangat ketakutan."  (1 Samuel 17:11).  Psy war (perang urat syaraf) adalah strategi awal yang dilakukan Iblis untuk menghancurkan kehidupan orang percaya, sehingga kita pun kalah sebelum bertanding!  (Bersambung)

Thursday, June 13, 2013

MANASYE: Beroleh Kesempatan dari Tuhan

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Juni 2013 -

Baca:  2 Tawarikh 33:1-20

"Dalam keadaan yang terdesak ini, ia berusaha melunakkan hati TUHAN, Allahnya; ia sangat merendahkan diri di hadapan Allah nenek moyangnya, dan berdoa kepada-Nya. Maka TUHAN mengabulkan doanya, dan mendengarkan permohonannya."  2 Tawarikh 33:12-13a

Meski telah menorehkan tinta emas dalam perjalanan karirnya, namun dalam kehidupan pribadinya Hizkia bisa dikatakan gagal sebagai ayah karena tidak meninggalkan warisan rohani kepada anaknya.  Ada tertulis:  "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu."  (Amsal 22:6), maka  "...ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu."  (Amsal 29:17).

     Kealpaan Hizkia mendidik anaknya berakibat fatal:  Manasye menjadi orang yang jahat.  Kejahatannya sebanding dengan orang-orang Kanaan, bahkan jauh lebih jahat dari mereka.  Kejahatan Manasye makin menyesatkan umat Israel dan membawanya semakin jauh pula dari Tuhan.  "Oleh sebab itu TUHAN mendatangkan kepada mereka panglima-panglima tentara raja Asyur yang menangkap Manasye dengan kaitan, membelenggunya dengan rantai tembaga dan membawanya ke Babel."  (2 Tawarikh 33:11).  Ketika dalam kesulitan besar inilah Manasye baru menyadari kesalahan dan pelanggarannya.  Memang, penyesalan selalu datang terlambat!  Lalu manasye berusaha melunakkan hati Tuhan dengan merendahkan diri dan berdoa.  FirmanNya mengatakan,  "Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku."  (Mazmur 50:15).  Tuhan pun menyatakan kasih dan kemurahanNya.  "... TUHAN mengabulkan doanya, dan mendengarkan permohonannya."  (2 Tawarikh 33:13). 

     Manasye adalah gambaran orang yang sangat jahat namun beroleh kesempatan dari Tuhan untuk bertobat, di mana kesempatan itu pun tidak disia-siakannya;  ia menjauhkan allah-allah asing, menegakkan kembali mezbah bagi Tuhan, mempersembahkan korban syukur kepada Tuhan serta menyerukan pertobatan kepada seluruh rakyatnya.  Manasye sungguh-sungguh mau berbalik kepada Tuhan.

Bertobat dan merendahkan diri di hadapan Tuhan adalah kunci beroleh pengampunan dan pemulihan dari Tuhan!

Wednesday, June 12, 2013

MANASYE: Jahat di Mata Tuhan!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Juni 2013 -

Baca:  2 Raja-Raja 21:1-18

"Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel."  2 Raja-Raja 21:2

Manasye adalah raja Yehuda.  Ia naik takhta ketika masih sangat belia,  "...berumur dua belas tahun pada waktu ia menjadi raja dan lima puluh lima tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem."  (ayat 1).  Namanya pun tercatat sebagai raja yang memerintah paling lama dalam sejarah di kerajaan Yehuda.

     Manasye menjabat raja menggantikan ayahnya, Hizkia.  Raja Hizkia memiliki reputasi yang sangat baik dan namanya akan selalu dikenang oleh generasi-generasi berikutnya karena  "Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya. Ia percaya kepada TUHAN, Allah Israel, dan di antara semua raja-raja Yehuda, baik yang sesudah dia maupun yang sebelumnya, tidak ada lagi yang sama seperti dia. Ia berpaut kepada TUHAN, tidak menyimpang dari pada mengikuti Dia dan ia berpegang pada perintah-perintah TUHAN yang telah diperintahkan-Nya kepada Musa."  (2 Raja-Raja 18:3, 5, 6).  Tapi sangat disayangkan, Manasye selaku suksesor (penerus tongkat estafet kepemimpinan) tidak dapat menjaga nama baik ayahnya, bahkan reputasi baik Hizkia tercoreng oleh perilaku buruk Manasye.

     Perbuatan Manasye sangat bertolak belakang dengan apa yang telah dilakukan ayahnya.  Segala hal yang telah dimusnahkan oleh Hizkia, yang merupakan kekejian bagi Tuhan, justru dibangun dan dipulihkan kembali oleh Manasye.  Inilah yang dilakukannya:  membangun kembali bukit-bukit pengorbanan, membangun mezbah untuk Baal, membuat patung Asyera dan sujud menyembahnya,  "Bahkan, ia mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api, melakukan ramal dan telaah, dan menghubungi para pemanggil arwah dan para pemanggil roh peramal. Ia melakukan banyak yang jahat di mata TUHAN, sehingga ia menimbulkan sakit hati-Nya."  (2 Raja-Raja 21:6).  Sebagai anak seharusnya ia meneladani karakter ayahnya, karena ayahnya adalah orang yang takut akan Tuhan dan menjadi berkat bagi bangsanya, sementara Manasye malah menjadi batu sandungan dan membawa bangsanya kepada penyembahan berhala, dan  "...melakukan yang jahat lebih dari pada bangsa-bangsa yang telah dipunahkan TUHAN dari hadapan orang Israel."  (2 Raja-Raja 21:9).  (Bersambung)

Tuesday, June 11, 2013

DALAM PIMPINAN ROH KUDUS (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Juni 2013 -

Baca:  Galatia 5:16-26

"Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,"  Galatia 5:25

Jika kita menyadari bahwa kekuatan manusia itu sangat terbatas dan segala perkara yang ada di dunia ini tak sanggup menolong, masihkah kita membangga-banggakan diri sendiri dengan segala yang kita miliki, dan tidak mau tunduk kepada Tuhan?  Alkitab dengan tegas mengingatkan,  "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!"  (Yeremia 17:5).  Kita tak akan mampu mengarungi hidup ini tanpa tuntunan Roh Kudus.  Kita sangat memerlukanNya!  Apa yang dialami Saul (ditinggalkan Roh Tuhan) menjadi pelajaran berharga bagi kita.  Marilah kita meneladani Daud yang begitu merindukan kehadiran Roh Tuhan dalam hidupnya.

     Apa yang dikerjakan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya?  "Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut."  (Roma 8:2).  Roh Kudus membebaskan kita dari segala bentuk ikatan dosa yang membelenggu.  Dengan kekuatan dan kemampuan sendiri mustahil kita bisa hidup dalam kebenaran secara konsisten.  yang terjadi, kita selalu jatuh bangun dalam dosa:  berbuat dosa, menyesali diri, minta ampun kepada Tuhan dan kembali melakukan dosa yang sama.  Hal itu terus terjadi secara berulang-ulang seperti sebuah siklus.  Namun dengan pertolongan Roh kudus kita beroleh kuasa mengalahkan kedagingan dan hidup dalam kebenaran, sebab  "...Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran;"  (Yohanes 16:13) dan "...yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu."  (Yohanes 14:26).  Maka dari itu "...hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging."  (Galatia 5:16).

     Jadi selain menuntun kita dalam kebenaran, Roh Kudus juga akan selalu mengingatkan dan menegur kita apabila langkah kaki kita mulai berbelok/melenceng dari kebenaran, sehingga hidup kita makin diperbaharui dari hari ke sehari, makin diubahkan dan makin mencerminkan karakter Kristus, dan secara otomatis buah-buah Roh akan tampak nyata dalam kehidupan kita.

Miliki kerinduan untuk selalu dipimpin dan diperbaharui Roh Kudus seperti Daud yang berkata,  "...perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!"  Mazmur 51:12

Monday, June 10, 2013

DALAM PIMPINAN ROH KUDUS (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Juni 2013 -

Baca:  Mazmur 51:1-21

"Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!"  Mazmur 51:13

Sebagai orang percaya kehidupan kita harus berbeda dari kehidupan orang-orang di luar Tuhan karena di dalam diri kita ada Roh kudus, seperti tertulis:  "Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?"  (1 Korintus 3:16) dan  "...Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia."  (1 Yohanes 4:4).  Kuasa itulah yang senantiasa menyertai perjalanan hidup kita, bahkan penyertaanNya atas kita sampai kepada akhir zaman.  Tanpa Roh Kudus kita tidak akan sanggup melewati tantangan hidup ini karena musuh selalu ada di sekeliling kita.  "Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya."  (1 Petrus 5:8).

     Kekuatan kita sebagai manusia sangat terbatas.  Karena itu firmannya menasihati,  "Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?"  (Yesaya 2:22), sementara uang, kekayaan, jabatan, tentara atau popularitas juga sama sekali tidak bisa menjadi sandaran dan penolong bagi kita.  Inilah yang disadari Daud meski dia adalah seorang raja, berlimpah harta kekayaan, pemegang kekuasaan tertinggi dan juga ditopang oleh pasukan tentara yang kuat, tapi kesemuanya itu tak ada yang sanggup menolong hidupnya.  Daud pun mengakui,  "Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi."  (Mazmur 121:2),  "Sesungguhnya, Allah adalah penolongku; Tuhanlah yang menopang aku."  (Mazmur 54:6).  Tanpa campur tangan Tuhan ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak punya arti apa-apa.  Itulah sebabnya Daud sangat membutuhkan penyertaan Tuhan melalui kuasa Roh kudus dalam hidupnya.  Ia pun memohon kepada Tuhan,  "...janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!"  (ayat nas).

     Tidak bisa dibayangkan jika kuasa Tuhan (RohNya) meninggalkan kita dan tidak lagi menyertai kita!  Ini yang terjadi dalam diri Saul.  "TUHAN telah mengoyakkan dari padamu jabatan raja atas Israel pada hari ini dan telah memberikannya kepada orang lain yang lebih baik dari padamu."  (1 Samuel 15:28).  Tanpa kuasa Tuhan menyertai, Saul harus menuai kegagalan dan kehancuran dalam hidupnya!  (Bersambung)

Sunday, June 9, 2013

PEMULIHAN CITRA DIRI

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Juni 2013 -

Baca:  Kejadian 3:1-24

"Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil."  Kejadian 3:23

Citra diri manusia telah menjadi rusak akibat pelanggaran yang dilakukan Adam dan Hawa.  Mereka terpedaya tipu muslihat Iblis sehingga memakan buah yang dilarang Allah untuk dimakan.  "Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya."  (ayat 6).

     Ketidaktaatannya kepada firman Allah membuat manusia jatuh dalam dosa.  Sebagai akibatnya, manusia (Adam dan Hawa) bukan hanya telah kehilangan persekutuan yang karib dengan Allah, tapi juga harus hidup dalam kondisi-kondisi akibat dosa yang telah diperbuatnya:  mengalami sakit waktu bersalin, bersusah payah dalam mencari rejeki (ayat 16-19).  Ada pun manusia yang citra dirinya telah rusak ini disebut sebagai manusia berdosa yang hidup tanpa persekutuan dengan Allah, padahal tujuan Allah menciptakan manusia adalah supaya manusia dapat bersekutu denganNya dan untuk menyatakan kemuliaanNya.  Tapi sayang, dosa telah menjadi penghalang persekutuan tersebut.  Namun karena begitu besar kasih Allah kepada manusia, Ia merencanakan pemulihan bagi manusia;  dan rencana itu digenapiNya melalui Yesus Kristus.  "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."  (Yohanes 3:16).  (baca  Yohanes 3:16).

     Melalui Yesus Kristus dosa kita ditebus.  Dialah yang membuka jalan baru yang merobohkan tembok pemisah, yaitu perseteruan dengan Allah karena dosa dan menyediakan pendamaian melalui penderitaan dan kematianNya di atas kayu salib.  Yesus Kristus menjadi terkutuk supaya manusia percaya kepadaNya bebas dari kutuk.  Kita telah bersekutu kembali dengan Allah;  jurang pemisah itu telah ditutup dan diratakan oleh Yesus Kristus  (baca  Kolose 1:20).

"Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita."  Roma 6:23

Saturday, June 8, 2013

DAUD: Pilihan Tuhan (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Juni 2013 -

Baca:  Mazmur 78:65-72

"dipilih-Nya Daud, hamba-Nya, diambil-Nya dia dari antara kandang-kandang kambing domba;"  Mazmur 78:70

Kemampuan Daud memainkan kecapi membawanya ke dalam istana sebagai pelayan Saul.  Bukan sekedar mampu, tapi di dalam dirinya ada urapan Tuhan sehingga setiap kali kecapi itu dimainkan Roh Tuhan melawat.  "Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur dari padanya."  (1 Samuel 16:23).  Tuhanlah yang menjadikan suara kecapi Daud berkuasa atas roh-roh jahat.

     Untuk menjadi pribadi yang dipilih Tuhan Daud terlebih dahulu harus melewati proses pembentukan bertahun-tahun.  Ia belajar setia, taat dan rendah hati melalui tugas yang dipercayakan kepadanya:  penggembala domba dan pelayan Saul.  "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar."  (Lukas 16:10).  Keberanian Daud juga terbentuk saat berada di padang,  "Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu."  (1 Samuel 17:37).

     Pengalaman inilah yang membuatnya punya keberanian menghadapi Goliat.  Ia berani bukan karena merasa kuat tapi karena ada keberanian Ilahi di dalamnya, di mana ia percaya bahwa ada Tuhan yang akan menyertainya.  Bila manusia memilih seseorang seringkali berdasar atas apa yang terlihat dari luar:  penampilan, gagah, tampan, cantik.  Padahal penampilan luar itu seringkali menipu dan mengecoh kita, oleh karena itu kita diingatkan:  "Don't judge the book from the cover!"  Daud dipilih Tuhan bukan karena ia memiliki perawakan yang ideal bak peragawan, tapi karena Tuhan melihat hatinya.  FirmanNya kepada Samuel,  "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."  (1 Samuel 16:7).  Setia, taat dan rendah hati ada dalam diri Daud, maka Tuhan memilih dan mengurapinya.

"...sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh Tuhan atas Daud."  1 Samuel 16:13b

Friday, June 7, 2013

DAUD: Pilihan Tuhan (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Juni 2013 -

Baca:  1 Samuel 16:1-13

"Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku."  1 Samuel 16:1b

Siapa Daud?  Ia adalah anak bungsu dari Isai.  Nama 'Daud' memiliki arti beloved (yang dikasihi).  Daud adalah orang yang sangat sederhana.  Masa mudanya dihabiskan di padang pengembaraan bersama domba-domba.  Banyak orang menganggap remeh (sepele) pekerjaan menggembalakan domba, tapi Daud melakukan tugas itu dengan penuh tanggung jawab.  Tidak semua orang mau mengerjakan tugas menggembalakan domba karena dipandang sebagai pekerjaan yang rendah, karena itu dibutuhkan kerendahan hati untuk mengerjakan pekerjaan itu.  Simak pernyataan Eliab (kakaknya) saat Daud datang ke medan pertempuran:  "Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun?"  (1 Samuel 17:28).

     Meski hanya sedikit kambing domba yang digembalakan, Daud melakukan tugas itu dengan setia.  Sepertinya sepele, namun tugas menggembalakan domba itu tidaklah mudah.  Sebagai penggembala domba ia harus dengan sabar dalam membimbing dan menuntun domba-dombanya ke padang rumput yang hijau.  Selain itu ia harus bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan domba-dombanya jika sewaktu-waktu mendapat serangan dari binatang buas.  Inilah yang dilakukan Daud:  "Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini."  (1 Samuel 17:34-36).  Dibutuhkan kewaspadaan dan keberanian untuk menghadapi bahaya itu.  Luar biasa!  Dari sinilah karakter Daud makin terbentuk dari hari ke sehari!

     Selain setia mengerjakan tugas sebagai penggembala domba Daud juga bertalenta di bidang musik, di mana ia sangat piawai memainkan kecapi.  kemampuannya dalam memainkan kecapi terasah di sela-sela menggembalakan domba-dombanya di padang.  Sembari menjaga domba-dombanya Daud memainkan kecapinya dan memuji-muji Tuhan sehingga terciptalah mazmur pujian bagi Tuhan.  Tiada hari terlewati oleh Daud tanpa ia mempersembahkan puji-pujian bagi Tuhan!  (Bersambung)

Thursday, June 6, 2013

ORANG BIJAK MENDENGARKAN NASIHAT (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Juni 2013 -

Baca:  Keluaran 18:13-27

"Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya."  Keluaran 18:24

Kata mutiara mengatakan:  "Pemimpin terbaik adalah pendengar."  Biasanya seorang pemimpin atau pemegang otoritas memiliki kecenderungan tidak mau mendengarkan orang lain karena ego dan gengsinya tinggi.

     Musa pun punya alasan untuk itu, tapi ayat nas menyatakan bahwa ia mendengarkan nasihat Yitro dan melakukannya.  Memang, nasihat Yitro itu juga demi kebaikan Musa sendiri.  Dengan mendelegasikan tugas-tugasnya kepada orang lain, beban Musa akan lebih ringan.  Selain itu juga membuka kesempatan bagi orang lain untuk mengembangkan potensinya.  Dengan adanya orang-orang yang turut membantu, masalah yang dihadapi oleh bangsa Israel akan cepat tertangani;  ada efisiensi waktu, sehingga  "... seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya."  (Keluaran 18:23).  Nasihat Yitro kepada Musa,  "...kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang."  (Keluaran 18:21).

     Di bidang pekerjaan apa pun:  di kantor, perusahaan, gereja atau pelayanan, pembagian atau pendelegasian tugas sangatlah penting, sehingga seorang pemimpin tidak harus menangani semua pekerjaan sendiri.  Tetapi ia harus memilih orang-orang yang mumpuni, yang dapat menjalankan perannya dengan baik.  Pendelegasian tugas berkaitan erat dengan sebuah kepercayaan dan integritas.  Tidak mungkin kita mempercayakan suatu tugas penting kepada sembarangan orang.  Musa harus memilih orang-orang yang memang sudah teruji kualitas hidupnya.  Mereka yang dipilih adalah orang-orang yang cakap, takut akan Tuhan, bisa dipercaya dan benci kepada suap.  Di zaman sekarang ini mungkin banyak sekali orang yang cakap di bidangnya masing-masing, tapi sulit sekali untuk menemukan orang-orang yang bisa dipercaya, takut akan Tuhan dan benci kepada suap.

Musa berhasil menjalankan tugas kepemimpinannya karena didukung orang-orang yang berkualitas!

Wednesday, June 5, 2013

ORANG BIJAK MENDENGARKAN NASIHAT (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Juni 2013 -

Baca:  Amsal 12:1-28

"Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak."  Amsal 12:15

Sebagai manusia kita memiliki kecenderungan mementingkan dan membenarkan diri sendiri atau menganggap diri paling benar sehingga kita sulit sekali menjadi pendengar yang baik bagi orang lain.  Mendengarkan orang lain berarti punya rasa penghargaan terhadap orang lain dan tanda bahwa kita mampu memahami mereka;  mau mendengarkan orang lain berarti pula rela menerima teguran, masukan, kritik, saran ataupun nasihat dari orang lain.  Jadi kita harus menyikapi secara positif semua itu yang ditujukan kepada kita.  "...mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat.  (Amsal 13:10).

     Sebagai pemimpin bangsa Israel Musa memiliki tugas dan tanggung jawab yang sangat berat, jauh melebihi kemampuannya.  "Sebab bangsa ini datang kepadaku untuk menanyakan petunjuk Allah. Apabila ada perkara di antara mereka, maka mereka datang kepadaku dan aku mengadili antara yang seorang dan yang lain; lagipula aku memberitahukan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan Allah."  (Keluaran 18:15-16).  Musa memikul tugas berkenaan dengan wewenang membuat undang-undang serta mengadili perkara yang terjadi di antara orang Israel.  Mustahil bagi Musa untuk mengerjakan tugas itu seorang diri, karena itu dia sangat membutuh rekan kerja untuk membantunya.

     Yitro, sang mertua, yang juga adalah seorang imam dari Midian, selalu memperhatikan dan mengamati kesibukan Musa sehari-hari dalam  "...mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang."  (Keluaran 18:13).  Mulai dari pagi sampai petang Musa harus menjalankan tugasnya dan itu sangat menguras energi dan membuat stress.  Karena itu ia menasihati Musa,  "Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja."  (Keluaran 18:17-18).  Yitro pun mengajukan usul kepada Musa untuk melakukan pendelegasian tugas kepada orang-orang yang dinilainya tepat dan qualified sehingga Musa tidak harus 'turun gunung' langsung.  Dibutuhkan kerendahan hati untuk menerima nasihat dan saran dari orang lain!  (Bersambung)

Tuesday, June 4, 2013

DI BALIK KEBERHASILAN MUSA (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Juni 2013 -

Baca:  Amsal 19:1-29

"...isteri yang berakal budi adalah karunia TUHAN."  Amsal 19:14

Musa luput dari hukuman Tuhan karena tindakan penyelamatan yang dilakukan isterinya.  Ia sangat beruntung memiliki isteri yang cakap (Amsal 12:4) dan juga berakal budi (ayat nas), yang mampu menjalankan perannya dengan baik.  Ketika menghadapi pergumulan berat Musa tidak berjuang seorang diri, ada isteri yang selalu siap menolong.  Ketika sang suami melakukan kesalahan fatal, Zipora mampu menguasai diri dengan baik sehingga tidak terpancing emosi, mengomel atau pun menyudutkan suami.  Ia menunjukkan kualitasnya sebagai isteri yang baik.  Sebagai isteri, Zipora mampu menjalankan perannya sebagai partner hidup yang luar biasa.  Tak bisa dipungkiri,  "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!"  (Pengkotbah 4:9-10).  Tanpa dukungan isteri yang takut akan Tuhan, karir Musa pasti hancur.

     Sebagai isteri, sudahkan kita menjalankan peran kita dengan baik, sehingga keberadaan kita benar-benar menjadi penolong bagi suami?  Kehadiran seorang isteri sangat dibutuhkan oleh suami di segala keadaan, terlebih lagi ketika suami sedang dalam masalah berat, terpuruk, sakit, pailit.  Isteri harus selalu setia mendampingi suami.  Jangan malah sebaliknya, ketika suami sedang tak berdaya dan berada di ambang kehancuran, si isteri pergi meninggalkannya dan mencari laki-laki lain.  Bukankah kasus seperti ini marak terjadi?  Saat suami berada di 'puncak', isteri begitu cinta terhadap suami, tapi ketika suami 'jatuh', isteri berubah sikap dan menyia-nyiakannya.  Alkitab mengingatkan,  "Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji."  (Amsal 31:30).

     Peranan Zipora bukan hanya berpengaruh besar bagi kehidupan Musa secara pribadi, tapi juga sangat berdampak bagi generasi-generasi berikutnya.  Keturunan Musa dan Zipora menjadi anak-anak yang takut akan Tuhan dan juga terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, karena mereka termasuk dalam golongan suku Lewi.

     Zipora bukan saja penolong bagi Musa, tapi juga ibu yang menjadi teladan bagi anak-anaknya!

Monday, June 3, 2013

DI BALIK KEBERHASILAN MUSA (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Juni 2013 -

Baca:  Keluaran 2:16-22

"Musa bersedia tinggal di rumah itu, lalu diberikan Rehuellah Zipora, anaknya, kepada Musa."  Keluaran 2:21

Ada ungkapan mengatakan:  di balik keberhasilan seorang pria pasti ada wanita hebat di belakangnya.  Wanita, bisa seorang ibu atau isteri, adalah tokoh-tokoh sederhana di balik keberhasilan pria (suami).  Tak bisa dipungkiri, keberadaannya membawa pengaruh luar biasa dalam perjalanan hidup seorang pria:  motivator, menguatkan di kala pria sedang dalam masalah;  namun tidak sedikit pula justru kehadirannya hanya melemahkan, merongrong dan menghancurkan.  Sungguh, di balik sosoknya yang lemah lembut wanita menyimpan kekuatan yang sangat dahsyat.  Inilah hal yang seringkali tidak disadari dan dilupakan oleh para suami.  Mereka begitu gampang meremehkan peranan si isteri dalam kehidupan sehari-hari.  Mereka beranggapan bahwa semua keberhasilan yang diraihnya adalah sepenuhnya hasil usaha dan kerja keras sendiri, padahal di balik itu ada isteri yang senantiasa men-support dari belakang.

     Musa dipilih Tuhan untuk memimpin umat Israel.  Keberhasilannya dalam mengemban tugas dari Tuhan itu juga tidak terlepas dari peran serta isteri yang dengan setia mendukung dan mendampinginya serta saat.  Adalah Zipora, anak perempuan Rehuel (yang disebut pula Yitro), seorang imam dari Midian.  Arti nama 'Zipora' adalah si burung kecil.  Begitu pentingkah peranan Zipora dalam perjalanan karir Musa?  Sangat penting.  Sebagai isteri ia telah melahirkan Gersom dan juga Eliezer bagi Musa.

     Suatu ketika Musa sedang menghadapi ujian yang sangat berat.  "...di suatu tempat bermalam, TUHAN bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya."  (Keluaran 4:24).  Tuhan sangat marah kepada Musa karena ia lupa menyunat anaknya, padahal dalam Perjanjian Lama sunat adalah tanda perjanjian Tuhan dengan umatNya.  Ketika nasib suami berada di ujung tanduk, di sinilah peran isteri sangat berarti;  jika tidak, Musa pasti akan mati.  "...Zipora mengambil pisau batu, dipotongnya kulit khatan anaknya, kemudian disentuhnya dengan kulit itu kaki Musa sambil berkata: 'Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku.'  Lalu Tuhan membiarkan Musa. 'Pengantin darah,' kata Zipora waktu itu, karena mengingat sunat itu."  (Keluaran 4:25-26).  Zipora benar-benar menjadi seorang penolong bagi suaminya!  (Bersambung)

Sunday, June 2, 2013

HEBRON: Upah Kesetiaan Kaleb (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Juni 2013 -

Baca:  Yosua 14:6-15

"Lalu Yosua memberkati Kaleb bin Yefune, dan diberikannyalah Hebron kepadanya menjadi milik pusakanya."  Yosua 14:13

Meski dibutuhkan waktu yang tidak singkat dalam menunggu penggenapan janji Tuhan, Kaleb tetap mengikut Tuhan dengan sepenuh hati.  Ia sangat percaya bahwa  "...orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya."  (Habakuk 2:4).  Tuhan yang memanggil mereka keluar dari Mesir akan membawa mereka ke negeri yang dijanjikanNya itu, dan sudah menyerahkan negeri itu kepada bangsa Israel sesuai janjiNya kepada Abraham, Ishak dan Yakub.

     Kesetiaan Kaleb mengikut Tuhan pun tidak sia-sia,  "...diberikannyalah Hebron kepadanya menjadi milik pusakanya." (ayat nas) sesuai dengan yang dijanjikan Tuhan bahwa  "...tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya,"  (Yosua 14:9).  Ketika diutus untuk mengintai Kanaan Kaleb berumur 40 tahun dan ia mendapatkan Hebron saat usianya sudah mencapai 85 tahun.  Jadi dibutuhkan penantian selama 45 tahun!  Ketika menanti-nantikan janji Tuhan itu apakah ia bersungut-sungut, mengeluh, kecewa, patah arang dan memberontak kepada Tuhan?  Tidak sama sekali!  Ia tetap  "...mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati."  (Yosua 14:14).  Diberikannya Hebron kepada Kaleb adalah bukti bahwa Tuhan tidak pernah mengingkari apa pun yang dijanjikanNya dan Dia membuat segala sesuatu itu indah pada waktunya (baca Pengkotbah 3:11).

     Perihal janji Tuhan ini Daud menyatakan,  "Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah."  (Mazmur 12:7), karena itu  "Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau."  (Mazmur 119:11).  Tuhan yang berjanji kepada Kaleb adalah Tuhan yang sama, yang kuasa penyertaanNya tidak berubah dari dahulu, sekarang dan sampai selama-lamanya.  Meskipun ia tidak hadir secara fisik, Ia menyertai kita melalui Roh kudus yang tinggal di dalam diri orang percaya.  Milikilah iman yang teguh seperti Kaleb, yang membuatnya mampu bertahan di segala situasi dan keadaan.

Lakukan dengan setia bagian kita, jangan pernah berubah!  Tuhan akan mengerjakan bagianNya:  menggenapi janjiNya atas kita tepat pada waktunya!

Saturday, June 1, 2013

HEBRON: Upah Kesetiaan Kaleb (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Juni 2013 -

Baca:  Ulangan 1:34-40

"kecuali Kaleb bin Yefune. Dialah yang akan melihat negeri itu dan kepadanya dan kepada anak-anaknya akan Kuberikan negeri yang diinjaknya itu, karena dengan sepenuh hati ia mengikuti TUHAN."  Ulangan 1:36

Sampai hari ini masih ada orang yang berpikir bahwa mengikut Tuhan dengan setia tidak ada untungnya sama sekali.  Mereka berkata tidak usah rajin-rajin amat ke gereja, tidak usah terlalu suci, yang biasa-biasa aja;  tidak ada untungnya.  Mereka menyodorkan bahwa hidup mereka tidak ada peningkatan, tetap saja.  Sementara orang-orang di luar sana hidupnya baik-baik saja dan happy.  Benarkah?

     Kepada jemaat di Korintus Rasul Paulus mengingatkan,  "...saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."  (1 Korintus 15:58).  Jadi  "Dalam tiap jerih payah ada keuntungan,"  (Amsal 14:23).

     Kaleb, yang begitu setia mengiring Tuhan, adalah salah satu dari dua belas orang pengintai yang diutus Musa untuk memata-matai negeri Kanaan selama empat puluh hari lamanya.  "Aku berumur empat puluh tahun, ketika aku disuruh Musa, hamba TUHAN itu, dari Kadesh-Barnea untuk mengintai negeri ini; dan aku pulang membawa kabar kepadanya yang sejujur-jujurnya. Sedang saudara-saudaraku, yang bersama-sama pergi ke sana dengan aku, membuat tawar hati bangsa itu, aku tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati."  (Yosua 14:7-8).  Ketika sepuluh pengintai dikuasai oleh rasa pesimis serta putus asa, Kaleb dan Yosua justru menunjukkan sikap hati yang berbeda.  Keduanya memiliki iman yang teguh sehingga tidak terpengaruh oleh keadaan yang ada.  Dalam Ibrani 11:1 dikatakan bahwa  "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."  Kaleb dan Yosua sangat percaya bahwa negeri yang diintainya itu dapat ditaklukkan dan akan diberikan kepada bangsa Israel.  Hal ini membuat mereka dicemooh dan dimusuhi oleh banyak orang.  Namun inilah harga yang harus dibayar!  Tertulis:  "...segenap umat itu mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu. Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel."  (Bilangan 14:10).  Tuhan tidak tinggal diam, Ia menunjukkan kuasaNya dengan melindungi Kaleb dan Yosua.  (Bersambung)