Monday, September 9, 2019

GUA ADULAM: Hidup yang Berdampak (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 September 2019

Baca:  Mazmur 57:1-12

"Aku terbaring di tengah-tengah singa yang suka menerkam anak-anak manusia, yang giginya laksana tombak dan panah, dan lidahnya laksana pedang tajam."  Mazmur 57:5

Tak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Daud saat berada di gua Adulam, tinggal bersama-sama dengan orang-orang bermasalah, meski ia sendiri juga mengalami masalah yang berat.  Namun Daud tidak komplain atau marah kepada Tuhan, ia tidak terpengaruh situasi atau orang-orang yang ada di sekitarnya, matanya terus terarah kepada Tuhan, karena ia tahu bahwa tidak ada seorang pun yang sanggup menolong dan melepaskan dia dari segala kesesakan selain Tuhan:  "Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu."  (Mazmur 57:2).

     Saat berada di gua Adulam inilah Daud terus membangun imannya dengan membangun persekutuan dengan Tuhan sekalipun situasi tidak mendukung.  Di kala pagi, saat orang-orang mungkin sedang tertidur pulas, Daud bangun dan bermazmur bagi Tuhan,  "Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar! Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa;"  (Mazmur 57:8-10).  Ia sangat percaya di mana ada puji-pujian bagi Tuhan, di situ ada lawatan Roh Tuhan, sebab  "...Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel." (Mazmur 22:4).

     Dengan terus membangun cara hidup sebagaimana yang biasa dilakukannya setiap hari, yaitu bersekutu dan memuji Tuhan, Roh Tuhan mengurapinya.  Karena Roh Tuhan ada padanya, keberadaan Daud di gua itu akhirnya membawa dampak yang luar biasa bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.  Terbukti Daud dipilih untuk menjadi pemimpin atas mereka  (1 Samuel 22:2).  Bagaimana mungkin orang-orang memilih Daud untuk menjadi pemimpin, bila mereka tak melihat sesuatu yang  'berbeda' di dalam diri Daud?  Daud dipercaya orang-orang di dalam gua itu menjadi pemimpin atas mereka karena telah terlebih dahulu menunjukkan keteladanan hidup.

Hidup kita pasti akan berdampak bagi orang lain bila Roh Tuhan bekerja di dalam kita.  Itu adalah buah dari persekutuan yang karib dengan Tuhan setiap hari.

Sunday, September 8, 2019

GUA ADULAM: Hidup yang Berdampak (1)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 September 2019

Baca:  1 Samuel 22:1-5

"Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka. Bersama-sama dengan dia ada kira-kira empat ratus orang."  1 Samuel 22:2

Karena tertekan, takut dan sangat frustasi oleh karena intimidasi Saul yang tak berhenti mengejar dan berniat untuk membunuhnya, Daud pun hidup dalam pelarian dari satu tempat ke tempat yang lain.  Suatu ketika Daud  "...melarikan diri ke gua Adulam."  (1 Samuel 22:1a).  Kata  'Adulam'  memiliki arti tempat yang tertutup.  Di zaman dahulu gua menjadi tempat persembunyian yang paling aman bagi orang-orang yang bermasalah,  "...orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati,"  (ayat nas).  Di gua Adulam inilah berkumpul orang-orang yang merasa senasib:  mereka yang sedang bermasalah, mereka yang sedang frustasi, dan mereka yang mengalami luka-luka batin, yang jumlahnya kira-kira empat ratus orang.

     Mengapa mereka memilih untuk bersembunyi di dalam gua Adulam?  Karena letaknya yang berada di lereng bukit yang sangat terjal dan sulit dijangkau oleh siapa pun.  Mungkin keadaan kita saat ini tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang berada di gua Adulam itu.  Kita merasa bahwa tidak ada lagi orang yang mau peduli dengan keadaan kita;  semua memandang kita dengan sebelah mata dan tak lagi menganggap kita;  atau mungkin kita sedang memikul beban hidup yang teramat berat oleh karena masa lalu kita yang sangat kelam dan dosa-dosa kita yang setinggi gunung, sehingga kita merasa diri tidak berharga lagi, tidak layak, tidak pantas, baik itu di hadapan manusia, terlebih-lebih di hadapan Tuhan.  Kita pun berpikir mustahil hidup kita bisa dipulihkan!

     Seburuk apa pun keadaan kita, asalkan kita mau merendahkan diri datang kepada Tuhan, memohon ampunan-Nya dan bertobat dengan sungguh-sungguh, Tuhan pasti sanggup mengubahkan:  "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba."  (Yesaya 1:18).  Tak perlu kita larut dalam keputusasaan dan terus mengasihani diri sendiri!  Kita harus bangkit!  Gua Adulam adalah tempat yang tepat untuk kita merefleksi diri dan mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh,  "Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;"  (Mazmur 147:3).