Wednesday, July 25, 2012

TUGAS KITA ADALAH BERSAKSI!

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Juli 2012 -

Baca:  Markus 5:1-20

"Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau"  Markus 5:19

Sebelum Yesus naik ke sorga Ia meninggalkan pesan kepada murid-muridNya,  "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."  (Kisah 1:8).  Setelah kuasa Roh Kudus turun di hari Pentakosta,  "...penuhlah mereka dengan Roh kudus,..."  (Kisah 2:4).  Sejak saat itu para murid Yesus mengalami perubahan hidup yang luar biasa, mereka tidak lagi takut atau ragu, melainkan dengan penuh keberanian bersaksi tentang Kristus kepada siapa pun yang dijumpainya, dan melayani Tuhan dengan semangat yang menyala-nyala.

     Menjadi saksi Kristus adalah tugas setiap orang percaya tanpa terkecuali.  Bersaksi berarti memberi kesaksian atas apa yang dialami, dilihat dan dirasakannya secara pribadi, bukan menceritakan pengalaman orang lain.  Tuhan Yesus pernah menyampaikan perihal seseorang yang telah disembuhkan secara ajaib dari kuasa setan yang telah menguasainya sekian lama, bahkan membuatnya tidak normal:  ia berada di kuburan siang malam dan berteriak-teriak sambil memukul-mukul badannya dengan batu.  Setelah disembuhkan dan dipulihkan, orang itu rindu untuk mengikut Tuhan Yesus, tapi Tuhan melarangnya dan menganjurkan dia untuk pulang ke rumah dan bersaksi kepada orang-orang di kampungnya,  "Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran."  (Markus 5:20).

     Sudahkah kita bersaksi kepada orang lain tentang Tuhan Yesus?  Ataukah kita enggan bersaksi karena menyadari bahwa kehidupan kita sendiri belum bisa menjadi kesaksian bagi orang lain?  Setiap kita pasti pernah mengalami pertolongan Tuhan:  disembuhkan dari sakit, dipulihkan rumah tangganya dan sebagainya.  Inilah yang harus kita saksikan kepada orang lain.  Jadi tugas kita hanya bersaksi, sedangkan yang membuat orang lain menjadi percaya kepada Tuhan Yesus adalah pekerjaan Roh Kudus.

Jangan tunda waktu menceritakan kebaikan Tuhan atas kita kepada orang lain.

Tuesday, July 24, 2012

ORANG KAYA SUKAR MASUK SORGA? (2)

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Juli 2012 -

Baca:  Lukas 12:13-21

"Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."  Lukas 12:21

Fakta telah membuktikan bahwa harta kekayaan seringkali membuat seseorang menjadi sombong atau tinggi hati, lupa bahwa semua itu karena anugerah Tuhan semata.  Hal ini diakui oleh Daud,  "Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya."  (1 Tawarikh 29:12).  Tidak ada alasan apa pun bagi kita untuk bermegah atau meninggikan diri.

     Orang kaya sulit masuk ke dalam Kerajaan Sorga selama hatinya hanya terpaut kepada harta kekayaannya dan tidak lagi mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati.  Ketika Tuhan Yesus berkata kepada anak muda yang kaya,  "'...pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.'  Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya."  (Matius 19:21-22), ternyata anak muda ini lebih mencintai hartanya dari pada Tuhan.  Ia enggan melepaskan keterikatannya pada harta.  Namun ini bukan berarti seseorang harus dalam posisi miskin terlebih dahulu baru bisa masuk sorga.  Juga bukan berarti bahwa orang miskin pasti akan masuk sorga.  Yang menjadi pokok persoalan adalah hati kita, karena harta kekayaan seringkali memperhamba manusia.  Itulah sebabnya Salomo dalam doanya berkata,  "Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.  Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa Tuhan itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku."  (Amsal 30:8b-9).

     Tuhan tidak melarang seseorang menjadi kaya karena Ia sendiri ingin memberkati umatNya.  Yang tidak dikehendaki adalah kita menjadi sombong dan hati kita terikat pada harta semata.  Firman Tuhan mengingatkan,  "...walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."  (Lukas 12:15).

Apalah gunanya memiliki harta melimpah jika akhirnya harus mengalami kebinasaan kekal;  karena itu muliakan Tuhan dengan hartamu  (baca Amsal 3:9).